Bursa Asia melemah dipicu kejatuhan saham teknologi global, indeks Wall Street tertekan, harga minyak turun, dan sentimen pasar masih penuh ketidakpastian. (Foto: Dok. KabarBursa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Pasar saham Asia kembali berada dalam tekanan. Untuk hari ketiga berturut-turut, sejumlah indeks utama di kawasan ini mengalami penurunan tajam seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Di saat yang sama, harga minyak dunia justru melonjak, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Salah satu penurunan paling drastis terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi anjlok lebih dari 10 persen, memaksa bursa menghentikan perdagangan sementara melalui mekanisme darurat yang dikenal sebagai circuit breaker. Sistem ini digunakan untuk menahan kepanikan pasar dan memberi waktu bagi investor menenangkan diri sebelum perdagangan dilanjutkan.
Baca juga:
Manulife: Saham Asia Masih Menjanjikan di Semester II 2026, AI dan Semikonduktor Jadi AndalanLangkah penghentian perdagangan tersebut berlangsung sekitar 20 menit pada sesi perdagangan pagi. Ini menjadi pertama kalinya sejak Agustus 2024 mekanisme tersebut diaktifkan.
Tidak hanya Korea Selatan, sejumlah bursa lain di Asia juga ikut melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun sekitar 3,6 persen, sementara indeks Hang Seng Hong Kong merosot sekitar 3 persen. Di Tiongkok, Shanghai Composite juga melemah sekitar 1,25 persen.
Kekhawatiran utama investor berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah konflik antara AS, Israel, dan Iran memicu gangguan terhadap jalur energi global. Situasi ini membuat pasar finansial dunia berada dalam kondisi tidak menentu.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent naik sekitar 2 persen pada perdagangan pagi di Asia, melanjutkan tren kenaikan selama dua hari sebelumnya.
Lonjakan harga energi ini dipicu oleh gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global biasanya melewati jalur sempit antara Iran dan Uni Emirat Arab tersebut.
Namun, lalu lintas kapal di wilayah itu hampir sepenuhnya terhenti setelah Iran mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintas. Situasi ini memicu kekhawatiran besar terhadap potensi krisis pasokan energi global.
Dilaporkan dan dikutip dari BBC, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS siap melindungi kapal-kapal yang melintasi wilayah tersebut jika diperlukan. Washington bahkan berencana menyediakan asuransi risiko dengan harga yang terjangkau bagi perusahaan pelayaran agar distribusi energi global tetap berjalan.
Konflik yang meningkat juga menimbulkan kekhawatiran bahwa ketegangan ini bisa berubah menjadi perang berkepanjangan. Jika itu terjadi, dampaknya terhadap pasar global diperkirakan akan semakin besar.
Menurut analis dari China Macro Group, Jack Lee, penurunan tajam di Korea Selatan menunjukkan betapa rapuhnya sentimen investor terhadap perkembangan konflik tersebut.
Sebagian besar negara Asia memang sangat rentan terhadap gejolak di Timur Tengah karena ketergantungan besar pada impor energi dari kawasan itu.
Namun, dampaknya terhadap pasar Tiongkok sejauh ini relatif lebih terbatas. Hal ini karena Beijing memiliki beberapa sumber energi alternatif, termasuk pasokan minyak dari Rusia.
Gejolak pasar tidak hanya terjadi di Asia. Bursa saham Eropa juga ikut melemah. Indeks FTSE 100 Inggris turun sekitar 2,75 persen, sementara indeks utama di Jerman dan Prancis merosot lebih dari 3,4 persen.
Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 sempat jatuh tajam pada awal perdagangan sebelum akhirnya pulih sebagian. Meski begitu, indeks tersebut tetap ditutup turun hampir 1 persen.
Serangan balasan dari Teheran di berbagai wilayah Timur Tengah turut memperburuk situasi. Gangguan pada jalur pelayaran dan penerbangan komersial semakin meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.
Bagi negara-negara eksportir seperti Korea Selatan dan Jepang, situasi ini menjadi pukulan berat. Kedua negara tersebut sangat bergantung pada stabilitas jalur perdagangan internasional, sehingga setiap konflik geopolitik yang mengganggu pengiriman barang dapat langsung mempengaruhi pasar finansial mereka.