Kamis, 13 Agustus 2026

IHSG Ditutup Turun di Tengah Tekanan Rupiah dan Lonjakan Yield Obligasi


 IHSG Ditutup Turun di Tengah Tekanan Rupiah dan Lonjakan Yield Obligasi Arsip foto - Pekerja berjalan di samping layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (30/4/2026). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pergerakan pasar saham Indonesia kembali berada di zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa sore ditutup melemah 46,72 poin atau 0,68 persen ke level 6.858,9.

Di tengah tekanan terhadap IHSG, indeks saham unggulan LQ45 justru masih mampu mencatat penguatan tipis sebesar 0,18 persen ke posisi 669,84.

Pelemahan pasar saham kali ini dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Salah satu faktor yang paling menjadi perhatian pelaku pasar adalah nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ke level terendah baru menjadi tekanan utama bagi pergerakan IHSG. Selain itu, pasar juga mulai mengantisipasi potensi penurunan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI atau Morgan Stanley Capital International.

“Pelemahan rupiah pada level terendah baru, serta antisipasi penurunan bobot oleh MSCI menjadi faktor negatif yang mendorong pelemahan IHSG,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Tidak hanya itu, kenaikan imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun juga ikut membebani sentimen pasar. Yield SUN naik sekitar 10 basis poin menjadi 6,72 persen, yang merupakan posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir.

Kondisi tersebut dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit APBN. Situasi ini kemudian memberi tekanan tambahan terhadap rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.525 per dolar AS.

Menurut Ratna, tren kenaikan yield obligasi sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, yield obligasi pemerintah meningkat menjelang rilis data inflasi terbaru. Sementara di Inggris, yield obligasi bahkan mencapai level tertinggi sejak 2008 di tengah tekanan politik terhadap Perdana Menteri Inggris.

Dari sisi sektoral, saham-saham kesehatan menjadi sektor dengan pelemahan terdalam setelah turun 3,52 persen. Sebaliknya, sektor barang baku atau basic materials mencatat penguatan paling tinggi sebesar 1,85 persen.

Selain sektor barang baku, beberapa sektor lain yang masih mampu bertahan di zona hijau antara lain sektor energi yang naik 0,01 persen, sektor keuangan 0,31 persen, serta sektor transportasi dan logistik sebesar 1,59 persen dikutip Antara.

Sementara itu, sejumlah sektor lain ikut mengalami tekanan, mulai dari sektor barang konsumen primer yang turun 1,44 persen, infrastruktur 1,49 persen, properti 0,61 persen, industri 3,20 persen, teknologi 0,48 persen, hingga sektor kesehatan yang terkoreksi paling dalam.

Secara teknikal, IHSG dinilai masih berpotensi menguji area support di kisaran 6.700 hingga 6.750. Namun apabila mampu bertahan di atas area tersebut, pasar berpeluang mengalami technical rebound menuju level 6.900.

Sepanjang perdagangan, tercatat sebanyak 217 saham menguat, 486 saham melemah, dan 256 saham bergerak stagnan.

Aktivitas perdagangan di BEI juga cukup ramai dengan volume mencapai 31,08 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,51 juta kali. Nilai transaksi pasar tercatat mencapai Rp16,27 triliun, sementara kapitalisasi pasar BEI berada di level Rp12.146 triliun.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru