Seorang warga mengamati layar pergerakan harga aset kripto Bitcoin di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Senin (11/5/2026). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/tom.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Harga Bitcoin sempat menembus level 81.511,13 dolar AS pada Jumat (15/5/2026). Kenaikan ini dinilai bukan sekadar pergerakan teknikal biasa, melainkan dipicu sentimen positif dari perkembangan regulasi aset kripto di Amerika Serikat.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan penguatan Bitcoin terjadi setelah CLARITY Act mendapatkan persetujuan dari U.S. Senate Banking Committee lewat voting 15 banding 9 pada 14 Mei 2026.
RUU tersebut dianggap penting karena memberikan kepastian hukum bagi industri aset digital, khususnya terkait pembagian pengawasan antara Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dan Securities and Exchange Commission (SEC).
Menurut Fyqieh, pasar melihat kemajuan CLARITY Act sebagai sinyal bahwa arah regulasi kripto di Amerika Serikat mulai bergerak lebih jelas dan terstruktur.
“Selama ini ketidakpastian regulasi menjadi hambatan besar bagi investor institusional. Ketika ada perkembangan konkret, pelaku pasar langsung meningkatkan eksposur terhadap Bitcoin,” ujarnya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Tak hanya faktor regulasi, lonjakan harga Bitcoin juga diperkuat oleh tekanan di pasar derivatif. Data menunjukkan open interest Bitcoin melonjak 37,14 persen dalam 24 jam terakhir. Sementara itu, posisi short senilai sekitar 71,02 juta dolar AS dilaporkan terlikuidasi.
Kondisi tersebut memicu fenomena short squeeze, yaitu situasi ketika trader yang bertaruh harga akan turun terpaksa membeli kembali aset untuk menutup posisi mereka. Aksi ini akhirnya mendorong harga Bitcoin naik lebih cepat.
Fyqieh menilai kombinasi sentimen regulasi dan tekanan short membuat reli Bitcoin berlangsung agresif dalam jangka pendek.
“Ketika sentimen positif muncul di tengah posisi short yang terlalu padat, pasar bisa bergerak sangat cepat. Kenaikan harga bukan hanya berasal dari pembelian spot, tetapi juga efek mekanisme pasar derivatif,” katanya.
Secara teknikal, Bitcoin kini berada di area penting dekat simple moving average (SMA) 200 hari di kisaran 82.455 dolar AS.
Jika mampu ditutup harian di atas level tersebut, peluang penguatan menuju area 85.102 dolar AS dinilai semakin terbuka.
Namun, Bitcoin tetap harus menjaga support di area 80.000 hingga 80.458 dolar AS agar momentum bullish tetap bertahan. Jika gagal bertahan di atas level psikologis tersebut, tekanan jual berpotensi meningkat.
Bahkan, penurunan di bawah 78.000 dolar AS disebut dapat memicu likuidasi posisi long hingga sekitar 1 miliar dolar AS dan membuka peluang koreksi menuju area 70.000 dolar AS.
“Level 80.000 dolar AS menjadi batas psikologis yang sangat penting. Selama Bitcoin bertahan di atas area itu, peluang retest ke 85.000 dolar AS masih terbuka. Tetapi investor perlu mewaspadai volatilitas karena open interest yang tinggi bisa memperbesar pergerakan harga ke dua arah,” jelas Fyqieh.
Di sisi lain, prospek jangka menengah Bitcoin juga didukung pulihnya minat investor institusional melalui ETF Bitcoin spot.
Arus masuk ETF yang kembali positif setelah sebelumnya mengalami outflow dinilai menjadi sinyal bahwa investor besar mulai kembali membangun posisi di pasar kripto.
Produk ETF spot memiliki dampak langsung terhadap permintaan Bitcoin karena penerbit ETF harus memegang aset Bitcoin secara aktual.
Selain ETF, aktivitas investor whale juga menjadi perhatian pasar. Berdasarkan data on-chain, alamat whale yang memiliki 10 hingga 10.000 BTC telah mengakumulasi lebih dari 61.000 BTC dalam satu bulan terakhir.
Pola akumulasi tersebut sering dianggap sebagai indikasi bahwa investor besar melihat harga saat ini sebagai peluang masuk sebelum potensi kenaikan berikutnya.
Fyqieh menegaskan akumulasi whale dan arus masuk ETF menjadi indikator penting untuk mengukur kekuatan reli Bitcoin ke depan.
“Jika arus masuk ETF terus berlanjut dan whale masih menambah kepemilikan, Bitcoin memiliki fondasi permintaan yang lebih kuat. Namun pasar tetap membutuhkan konfirmasi lanjutan, terutama dari perkembangan regulasi AS dan kemampuan harga menembus resistance utama di atas 82.000 dolar AS,” tuturnya dikutip Antara.
Dalam jangka pendek, pelaku pasar kini menanti kelanjutan proses CLARITY Act menuju pemungutan suara penuh di Senat Amerika Serikat.
Jika RUU tersebut mendapatkan dukungan lebih luas, sentimen positif terhadap aset kripto diperkirakan akan semakin menguat.
Kombinasi faktor regulasi, short squeeze, arus masuk ETF, dan akumulasi whale membuat Bitcoin saat ini berada dalam fase krusial. Momentum bullish masih terbuka lebar, tetapi pergerakan di atas level 82.455 dolar AS akan menjadi penentu apakah reli berlanjut menuju 85.000 dolar AS atau justru berubah menjadi bull trap.