Minggu, 23 Agustus 2026

Kinerja Perbankan Masih Solid di Kuartal II 2026, Meski Pertumbuhan Mulai Melambat


 Kinerja Perbankan Masih Solid di Kuartal II 2026, Meski Pertumbuhan Mulai Melambat Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menjawab pertanyaan media dalam sesi doorstop usai acara Wealth Wisdom 2025 di Jakarta, Selasa (7/10/2025). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Industri perbankan Indonesia diperkirakan masih mampu menjaga kinerja positif sepanjang kuartal II 2026, meski ruang pertumbuhan mulai menyempit dibandingkan awal tahun. Sejumlah indikator utama menunjukkan sektor ini tetap berada dalam kondisi sehat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai fondasi industri perbankan saat ini masih cukup kuat. Pertumbuhan kredit yang mendekati dua digit, dana pihak ketiga (DPK) yang terus meningkat, likuiditas yang memadai, kualitas kredit yang terjaga, serta permodalan yang kuat menjadi faktor utama yang menopang stabilitas sektor perbankan.

Menurut Josua, kondisi tersebut menunjukkan bahwa gejolak yang terjadi di pasar keuangan belum berkembang menjadi risiko sistemik yang dapat mengganggu industri perbankan secara keseluruhan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sejumlah tantangan eksternal tetap perlu diwaspadai. Pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), keluarnya dana asing dari pasar saham, hingga kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal berpotensi membuat bank lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit dan mengelola risiko.

"Kinerja perbankan pada kuartal II masih didukung oleh aktivitas bisnis yang kuat, terutama dari kredit korporasi, kredit investasi, dan konsumsi rumah tangga yang tetap berjalan," ujarnya.

Tekanan Mulai Terlihat dari Biaya Dana

Josua menjelaskan bahwa dampak ketidakpastian pasar mulai terlihat melalui beberapa jalur. Salah satunya adalah potensi kenaikan biaya dana (cost of fund) apabila bank harus menawarkan bunga simpanan yang lebih menarik guna menjaga likuiditas.

Selain itu, pelemahan rupiah juga dapat memberikan tekanan kepada debitur yang memiliki kewajiban impor atau utang dalam valuta asing tanpa perlindungan nilai tukar yang memadai.

Di sisi lain, kenaikan imbal hasil SBN berpotensi memengaruhi nilai portofolio surat berharga yang dimiliki bank, terutama yang dicatat berdasarkan harga pasar.

"Dampaknya memang belum signifikan terhadap bisnis inti perbankan. Namun tekanan mulai terlihat pada biaya dana, margin keuntungan, serta pengelolaan risiko pasar," jelasnya.

Bank Besar Dinilai Lebih Siap Hadapi Tekanan

Jika gejolak pasar berlanjut hingga semester kedua tahun ini, Josua menilai industri perbankan masih memiliki daya tahan yang cukup baik. Namun, pertumbuhan laba diperkirakan tidak akan secepat periode sebelumnya.

Bank-bank besar yang memiliki dana murah (CASA) kuat, modal tebal, kualitas debitur yang baik, serta manajemen risiko valuta asing yang disiplin dinilai lebih mampu bertahan menghadapi tekanan.

Sebaliknya, bank yang bergantung pada deposito berbunga tinggi, memiliki ruang likuiditas yang lebih terbatas, atau banyak menyalurkan pembiayaan ke sektor yang sensitif terhadap pergerakan kurs dan suku bunga berpotensi menghadapi tantangan lebih besar.

Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan kredit diperkirakan tetap berlangsung, tetapi dengan pendekatan yang lebih selektif.

"Industri perbankan belum memasuki fase pelemahan yang tajam. Namun saat ini mulai memasuki fase pertumbuhan yang lebih hati-hati," kata Josua.

Ia menambahkan, tekanan pasar baru dapat dianggap mulai memengaruhi kinerja perbankan apabila pertumbuhan kredit melambat bersamaan dengan meningkatnya kredit bermasalah (NPL) dan menurunnya porsi dana murah.

Sebaliknya, selama kredit masih tumbuh, likuiditas tetap kuat, dan kualitas aset terjaga, gejolak pasar diyakini masih dapat diserap oleh industri perbankan.

Kredit dan DPK Masih Bertumbuh

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kredit perbankan pada April 2026 tumbuh 9,98 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp8.755 triliun.

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 19,48 persen. Sementara kredit konsumsi tumbuh 6,13 persen dan kredit modal kerja meningkat 6,04 persen.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,39 persen menjadi Rp10.077 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan giro sebesar 16,99 persen, deposito 8,65 persen, dan tabungan 9 persen secara tahunan.

Kualitas kredit juga tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross tercatat 2,17 persen, sedangkan NPL net berada di level 0,84 persen.

Sementara itu, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) mencapai 23,97 persen. Angka ini menunjukkan bahwa perbankan nasional masih memiliki bantalan permodalan yang kuat untuk menghadapi berbagai risiko dan ketidakpastian ekonomi ke depan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru