Pedagang menyusun gerabah tanah liat di Pasar Higienis, Ternate, Maluku Utara, Selasa (14/7/2026). ANTARA FOTO/Andri Saputra/tom.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Aktivitas penyaluran kredit perbankan kembali menunjukkan tren positif pada triwulan II 2026. Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) mencatat peningkatan kredit baru yang jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi di hampir seluruh segmen pembiayaan, mulai dari kredit modal kerja, kredit investasi, hingga kredit konsumsi. Meski demikian, perbankan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pinjaman.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan peningkatan kredit baru tercermin dari naiknya nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada triwulan II 2026.
Nilai SBT kredit baru mencapai 93,08 persen, melonjak dibandingkan 38,74 persen pada triwulan I 2026. Angka tersebut menunjukkan permintaan pembiayaan dari dunia usaha maupun masyarakat semakin kuat.
Seluruh Jenis Kredit Mengalami Peningkatan
Hasil survei BI menunjukkan pertumbuhan terjadi pada seluruh kelompok kredit.
Kredit modal kerja mencatat SBT sebesar 94,34 persen, disusul kredit investasi 93,51 persen, dan kredit konsumsi 83,67 persen. Ketiganya mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.
Di kelompok kredit konsumsi, kenaikan terutama berasal dari meningkatnya permintaan:
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA): 78,20 persen
Kredit kendaraan bermotor: 67,95 persen
Kredit multiguna: 69,71 persen
Kredit tanpa agunan (KTA): 49,70 persen
Sementara itu, permintaan kartu kredit mengalami perlambatan dengan SBT sebesar 30,18 persen.
BI Prediksi Pertumbuhan Kredit Berlanjut
Memasuki triwulan III 2026, Bank Indonesia memperkirakan tren pertumbuhan kredit masih akan berlanjut. Nilai SBT diproyeksikan berada di level 84,65 persen, menandakan optimisme perbankan terhadap permintaan pembiayaan tetap tinggi dikutip Antara.
Fokus utama penyaluran kredit diperkirakan tidak berubah, yakni tetap didominasi kredit modal kerja, kemudian kredit investasi, dan kredit konsumsi.
Perbankan Masih Berhati-hati
Di balik meningkatnya penyaluran kredit, BI juga mencatat perbankan menerapkan standar yang lebih ketat selama triwulan II 2026.
Hal tersebut tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang berada pada level positif 1,03, menunjukkan bank lebih selektif dalam menyalurkan pinjaman.
Kebijakan kehati-hatian diterapkan pada sejumlah aspek, antara lain:
suku bunga kredit,
besaran plafon kredit,
ketentuan perjanjian kredit,
jangka waktu pinjaman,
serta biaya persetujuan kredit.
Meski demikian, pada triwulan III 2026 standar penyaluran kredit diperkirakan mulai lebih longgar. Hal itu terlihat dari proyeksi ILS yang berada di level minus 2,25.
Prospek hingga Akhir Tahun Tetap Positif
Survei BI juga menunjukkan optimisme perbankan terhadap pertumbuhan kredit hingga akhir 2026. Responden memperkirakan outstanding kredit akan terus meningkat, didukung prospek ekonomi dan kondisi moneter yang tetap kondusif, serta risiko penyaluran kredit yang masih terkendali.
Dengan permintaan pembiayaan yang terus menguat dan kondisi ekonomi yang dinilai stabil, sektor perbankan diperkirakan tetap menjadi salah satu motor penggerak aktivitas ekonomi nasional sepanjang 2026.