Minggu, 06 September 2026

Rupiah Melemah Jelang RDG BI, Pasar Pilih Wait and See


 Rupiah Melemah Jelang RDG BI, Pasar Pilih Wait and See Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.930 per dolar AS menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. (Antaranews)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada perdagangan Rabu (22/7/2026) pagi. Mata uang Garuda melemah 42 poin atau sekitar 0,13 persen ke posisi Rp17.930 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.888 per dolar AS.

Pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi sikap pelaku pasar yang memilih wait and see menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Investor masih menunggu arah kebijakan suku bunga yang akan ditetapkan bank sentral.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memperkirakan pergerakan rupiah pada hari ini masih berada dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.975 per dolar AS.

"Pelaku pasar masih menantikan keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia, sehingga pergerakan rupiah cenderung terbatas," ujarnya.

Menurut Josua, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dalam RDG kali ini.

Sebelumnya, BI telah melakukan serangkaian pengetatan kebijakan moneter sepanjang 2026. Pada Mei lalu, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) setelah bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025.

Meski demikian, langkah tersebut belum mampu langsung menguatkan rupiah. Mata uang Indonesia bahkan sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni.

Selanjutnya, dalam RDG mingguan pada 9 Juni 2026, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps, yang kemudian diikuti kenaikan 25 bps lagi pada RDG bulanan 18 Juni sehingga suku bunga acuan mencapai 5,75 persen. Setelah kebijakan tersebut, rupiah perlahan kembali bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS.

Selain menanti keputusan BI, pasar juga masih mencermati perkembangan situasi global.

Sentimen sempat membaik ketika sejumlah negara mediator mengusulkan gencatan senjata dan Amerika Serikat menyatakan kesiapan mempertimbangkan usulan tersebut. Harapan terhadap meredanya konflik sempat mendorong optimisme pelaku pasar dikutip Antara.

Namun, optimisme itu tidak berlangsung lama. Ketegangan kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam akan memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi.

Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dunia. Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 2,01 persen menjadi 91,01 dolar AS per barel.

Kenaikan harga energi dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik dinilai berpotensi kembali menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dalam jangka pendek.

Dengan kondisi tersebut, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia yang diharapkan dapat memberikan arah baru bagi pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru