Loading
Ilustrasi:Meski di masa sulit, tetaplah berpikiran positif. (Net)
Diasuh oleh: Muljono, M Ak,CFP
MEMASUKI masa purnabhakti, bukanlah akhir dari proses produktivitas. Bahkan di masa-masa sulit saat ini, manakala negara dan dunia tengah didera wabah virus Covid-19. Fisik, mental, dan pikiran harus tetap positif. Apalagi menjelang masa pensiun perlu dilakukan berbagai persiapan baik mental, pola pikir, serta rencana yang baik, agar masa pensiun tetap menjadi masa yang menyenangkan, produktif dan tidak hilang semangat untuk tetap berkarya. Kendati situasi pandemi masih menghantui.
Media pun kerap mengingatkan, bahwa perasaan negatif, stres, depresi, bahkan ketakutan yang berlebihan dapat mempengaruhi sistem imun dalam tubuh. Padahal daya tahan tubuh sangat dibutuhkan untuk menghadapi ancaman coronavirus tersebut.
Peliknya di tengah masa sulit, masa pensiun pun tidak dapat dihindari. Di masa ini biasanya menyebabkan orang menjadi ‘kehilangan’ pekerjaan, status, dan wibawa sehingga akhirnya menjadi beban pikiran dan selanjutnya mengganggu kesehatan. Agar hal itu tidak terjadi maka menjelang masa pensiun harus ada persiapan, sikap mental, pola pikir, hidup sehat, siap merencanakan keuangan, belajar menjadi enterpreneur, dan sebagainya.
Masalahnya, merubah mental pensiun bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang perlu dipersiapkan dengan matang agar masa pensiun menjadi masa yang menyenangkan, dapat mengatur sendiri apa yang diinginkan, tidak terikat waktu kerja, tidak terikat dengan penugasan dari atasan, bahkan mungkin bisa menjadi ‘bos’ pada usaha milik sendiri.
Baca juga:
Persiapan Awal Memasuki Masa PensiunDi sinilah dibutuhkan pikiran positif dan mental switching yang kuat. Mental switching membutuhkan penerimaan diri untuk terus fokus, tekad baja, pantang menyerah dan pantang berpasrah dalam menjalani hidup. Maka poin awal adalah bersahabat dengan keadaan dan membangun stabilitas raga, pikiran, dan jiwa untuk tetap produktif meski di masa sulit.
Pensiun sebagai sebuah kenyataan Fakta mengungkap bahwa 9 dari 10 orang yang akan memasuki masa purnabhakti, belum siap menghapi pensiun. Ironisnya, 65 persen diantaranya bahkan tidak sanggup memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca juga:
Seminar UMKM dan Peluncuran Buku UMKM Insight, Berikan Inspirasi dan Solusi Praktis bagi Pelaku UMKMSituasi yang berbeda manakalah masih aktif bekerja atau berada di puncak prestasi. Karir yang dirintis bertahun-tahun membuahkan jabatan prestis dengan penghasilan dan fasilitas yang memadai. Pekerjaan yang menuntut target yang harus dipenuhi ditengah kompetisi dunia kerja, menjadi tantangan tersendiri buat memicu kreativitas.
Kini tantangan menarik itu berakhir. Hingga waktu menghentikan karir, orang pun lantas kehilangan arti dalam kehidupannya. Meski tidak datang tiba-tiba, namun di tengah rutinitas kerja yang biasa dilakoni, kini terhenti dengan masa pensiun yang dianggap datang terlalu cepat. Padahal harus disadari bahwa sudah merupakan kodrat manusia bahwa usia kelak menjadi penghalang untuk bekerja.
Sejatinya, keadaan ini harus bisa diterima terlebih dahulu. Bahwa ada penghujung karir bagi yang mengawali kerja sebagai karyawan. Jabatan, gaji yang lebih dari cukup, dan fasilitas yang biasanya diterima, harus terlepas dari tangan. Intinya adalah, pensiun adalah sebuah kenyataan yang harus dihadapi bahkan bila perlu di sikapi.
Sikap awal yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan masa pensiun sejak dini. Tanpa persiapan, Anda dapat merasa sengsara saat menjalani masa pensiun. Sengsara di sini bukan berarti hanya secara materi karena tidak cukup atau tidak tahu cara mengelola keuangan, tetapi juga melingkupi secara mental. Yaitu, tidak memiliki persiapan secara mental untuk dapat mengarungi kehidupan di masa pensiun. Akibatnya, post power syndrome atau sindroma pasca kekuasaan, di mana seseorang merasa kehilangan kekuasaan akibat kehilangan jabatan saat pensiun, melanda.
Tetap positif meski di saat sulit
Seperti yang telah disebutkan di awal, saat ini kita tengah terdera masa-masa sulit, dimana pandemi Covid-19 menyulut kecemasan bahkan ketakutan yang bisa mengganggu kesehatan jiwa dan raga. Situasi makin tak mengenakan, manakala rutinitas pekerjaan dianggap energi menjalani kehidupan. Lantas bagaimana bila di waktu yang bersamaan, kita pun harus mengalami ‘lackdown’ lantaran terhenti oleh waktu?
Sejatinya, kesehatan raga tidak bergantung masa dan kondisi. Aspek kesehatan menjadi penentu bagi kita untuk melalui proses kehidupan. Rutinitas bisa berubah sesuai dengan alur hidup yang dijalani. Misalnya, tetap menjalani pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan dan istirahat yang cukup, olahraga yang teratur, serta pikiran positif sehingga tubuh pun tetap bugar di masa pensiun.
Dengan raga yang prima, mental yang stabil dan pikiran positif, masalah apapun bisa dihadapi dengan baik. Karena secara finansial, bisa saja seorang pensiunan mengalami permasalahan dalam mengelola uang pensiunan yang diterima, misalnya untuk mengatur pengeluaran sehari-hari. Hal ini lantaran sudah tidak ada pemasukan berupa gaji yang sebelumnya diterima secara rutin, sementara pengeluaran terus bertambah seiring usia. Atau masalah lain, salah berinvestasi karena tergiur pada imbal hasil yang besar, atau bahkan menghabiskan uang pensiunan untuk hal-hal yang tidak produktif.
Idealnya memang pada masa produktif orang perlu memikirkan persiapan finansial untuk masa pensiun. Namun sayangnya, kebanyakan orang merasa tak perlu mempersiapkan mental. Mereka merasa mental akan terbiasa dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Alasan itu lumrah karena orang muda sering kali hanya melihat orang-orang tua lebih bergantung pada anak-anaknya secara finansial. Di luar itu, para orang tua umumnya bisa mengisi sendiri waktu luangnya. Padahal tak semua orang tua bisa mengisi waktu pensiun dengan kegiatan yang membahagiakan. Tahun-tahun awal masa pensiun bukanlah waktu yang mudah. Saat-saat itu orang tua “dipaksa” mengubah kebiasaan hidupnya selama ini.
Pensiun berarti perubahan pada ritme bekerja, suasana, dan pola hidup sehari-hari. Kalau biasanya orang itu banyak menghabiskan waktu di kantor, kini dia mesti menyesuaikan diri dengan suasana rumah.
Lebih lanjut, hubungan dengan keluarga misalnua pasangan atau anak, menjadi kurang harmonis karena merasa tidak dihormati dan dihargai. Perasaan ini sering dibarengi pikiran bahwa merasa sudah tidak memiliki jabatan dan kuasa. Hubungan sosial dengan tetangga dan teman-teman pun, bisa tidak berjalan dengan baik karena merasa sudah tidak berdaya atau tidak memiliki pekerjaan dan kegiatan. Bahkan merasa tidak diperhatikan (diabaikan) lagi karena usia yang sudah sepuh. Karenanya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang umum terjadi ketika seorang karyawan berganti kuadran memasuki periode purnabhakti maka terjadi mental switching.
Tetap produktif meski di saat sulit
Bagi mereka yang terbiasa sibuk di luar rumah, kondisi menjalani masa pensiun itu tak mudah. Salah satu persiapan penting pensiun yang berpengaruh pada mental orang adalah menciptakan aktivitas positif rutin yang baru. Aktivitas rutin itu bisa formal maupun informal. Kegiatan formal adalah seperti bekerja paruh waktu. Dapat pula orang itu bekerja lagi pada kantor baru dengan kegiatan rutin seperti saat masih berusia produktif. Kegiatan formal biasanya memberikan keuntungan finansial. Sedangkan aktivitas informal menekankan pada keuntungan psikis atau kepuasan batin, seperti meluangkan waktu untuk hobi, berkegiatan sosial, mengurus kegiatan lingkungan, keagamaan, maupun keluarga.
Kebahagiaan atau kesedihan yang diperoleh seseorang ketika pensiun sangat dipengaruhi persiapan dan kesiapan jauh hari sebelum pensiun tiba. Sesungguhnya seluruh program pensiun dan hari tua seseorang sangat dipengaruhi persiapan dan kesiapan awal ini. Jika tahap ini tertata rapi, hal ini sudah merupakaan setengah jalan keberhasilan memperoleh apa yang diinginkan ketika pensiun dan menapaki usia lanjut.
Mengikuti rangkaian program pelatihan memasuki pensiun, merupakan pilihan yang tepat untuk mempersiapkan masa pensiun Anda dengan bahagia. Pelatihan perubahan mental ini dimaksudkan untuk memberikan pembekalan kepada karyawan untuk mempersiapkan diri secara optimal dalam menghadapapi masa purnatugas. Dengan pembekalan ini, kita dapat terhindar atau paling tidak meminimalkan dampak-dampak yang dapat berakibat kurang baik terutama dampak secara psikologis, sehingga lebih siap dalam menjalani masa purnatugas dengan penuh percaya diri dan bahagia.
Dengan program pelatihan yang diikuti, kita bisa mendapatkan bimbingan atau pencerahan terkait hal-hal tentang bagaimana menghadapi masa pensiun sebagai sebuah kenyataan yang harus disikapi. Kita pun dibimbing untuk memiliki pola pikir, sikap yang benar dan realistis tentang pensiun sehingga lebih percaya diri dalam menghadapi masa pensiun nanti. Bahkan belajar untuk mengubah semua kekhawatiran menjadi sesuatu yang positif, yang pada akhirnya bisa membangun motivasi diri dan kreatifitas. Dengan demikian bisa lebih mudah memilih alternatif bidang usaha yang disukai nanti. Dengan kondisi apapun, tetaplah menikmati sukses meski di masa pensiun.
Nah, luangkan waktu Anda, ikuti Workshop "Langkah Jitu Pensiun Bahagia". Daftarkan segera via email: [email protected] atau hubungi Hotline Arahkita Media Network di: 08521-855-6598. Untuk workshop maksimal peserta 20 orang.
Melalui hotline ini Anda juga bisa berkonsultasi dengan Pak Muljono. Beliau bisa dihubungi melalui: [email protected] atau melalui handphone: 0816-146-9665