Trump Tolak KTT Darurat G7, Kembali Ragukan NATO: Sekutu atau Beban?


 Trump Tolak KTT Darurat G7, Kembali Ragukan NATO: Sekutu atau Beban? Arsip foto Presiden AS Donald Trump. (ANTARA.Anadolu/pri)

WASHINGTON, ARAHKITA.COM — Donald Trump kembali menunjukkan satu pola yang makin mudah ditebak: jika ada forum internasional yang berpotensi “mengikat” Amerika, ia akan menjaga jarak. Jika ada panggung yang bisa ia kuasai penuh, ia akan tampil dominan.

Itulah yang terasa dari pernyataannya pada Selasa, 20 Januari 2026, ketika Trump menegaskan tidak akan menghadiri KTT darurat G7 yang diusulkan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Alasannya terdengar sederhana—jadwalnya sudah padat karena akan berangkat ke World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Tapi dunia paham, keputusan ini tidak sesederhana urusan kalender. 

Davos Dipilih, G7 Ditinggal: Sinyal Politik yang Jelas

WEF Davos bukan sekadar event ekonomi. Bagi Trump, Davos adalah panggung elite global—tempat ia bisa menekan lawan, memamerkan agenda, sekaligus mengatur narasi.

Di Davos pula, Trump mengisyaratkan akan membahas salah satu isu yang paling mengganggu hubungan AS-Eropa saat ini: Greenland.

Kalimat Trump yang menyebut “akan bertemu pihak-pihak yang terlibat langsung” terdengar diplomatis. Namun, konteksnya membuat Eropa makin panas dingin—karena Trump sebelumnya mengancam tarif tambahan jika tidak ada kesepakatan yang menguntungkan AS dalam rencana “mendapatkan Greenland”.

Di titik ini, KTT darurat G7 yang disiapkan Macron dapat dibaca sebagai upaya “rem darurat” Eropa: menahan laju Trump yang terasa makin unilateral dan impulsif.

Macron “Kawan Baik”, tapi Disindir Habis

Menariknya, Trump menyelipkan komentar yang terasa manis sekaligus tajam:“Dia kawan saya. Dia orang yang baik. Saya menyukai Macron… tapi dia tidak akan menjabat terlalu lama lagi.”

Secara formal, ini candaan. Secara politik, ini sindiran terang-terangan—seolah Trump ingin mengatakan: “Saya bisa menunggu sampai Anda turun.” 

Dalam diplomasi, kalimat seperti itu bukan detail kecil. Itu pesan: bahwa Trump tidak sekadar berdebat soal kebijakan, tapi juga memainkan faktor “umur kekuasaan” pemimpin Eropa.

NATO Kembali Dipertanyakan: “Mereka akan Menolong Kita Nggak Sih?”

Bagian paling menggigit dari konferensi pers itu bukan soal G7, melainkan NATO.

Di titik ini, KTT darurat G7 yang disiapkan Macron dapat dibaca sebagai upaya “rem darurat” Eropa: menahan laju Trump yang terasa makin unilateral dan impulsif.Macron “kawan baik”, tapi disindir habis

Bagian paling menggigit dari konferensi pers itu bukan soal G7, melainkan NATO.

Trump kembali mempertanyakan logika dasar aliansi militer tersebut. Menurutnya, AS sudah menghabiskan dana besar untuk NATO, tetapi ia ragu sekutu-sekutu itu benar-benar akan datang membantu jika Amerika diserang.

Kalimatnya tegas, dan efeknya sangat nyata: ketika AS meragukan NATO di depan publik, musuh NATO ikut tersenyum. Sekutu NATO justru gelisah. 

Trump seolah sedang membangun argumen lama yang dikemas ulang:

  • AS terlalu sering jadi “pemadam kebakaran global”
  • sementara sekutu dianggap menikmati perlindungan tanpa beban sepadan

Masalahnya, NATO bukan arisan. NATO adalah sistem kepercayaan. Dan kepercayaan itu rapuh.

Greenland: Keamanan Nasional atau Ambisi Geopolitik?

Trump menegaskan lagi: Greenland dibutuhkan AS demi keamanan nasional.

Lalu ketika ditanya seberapa jauh ia akan melangkah, ia menjawab singkat: “Anda akan mengetahuinya,” dilansir Antara.

Kalimat pendek, tapi bernada ancaman. Inilah gaya Trump: membiarkan dunia menebak, lalu membangun tekanan psikologis sebelum langkah nyata diumumkan. 

Dalam konteks global, Greenland bukan pulau biasa. Ia punya nilai strategis di wilayah Arktik—jalur logistik, pertahanan, hingga kompetisi pengaruh. Karena itu, ketika Trump memasukkan Greenland ke meja tawar-menawar, yang terbaca bukan hanya “keamanan”, tapi juga perebutan posisi dominan. 

Opini: Trump Sedang Menguji Eropa

Absennya Trump dari KTT darurat G7 bukan kejadian tunggal. Ini bagian dari pola yang konsisten:

  • menguji solidaritas Eropa
  • menggoyang NATO dari dalam
  • dan mengubah hubungan transatlantik menjadi hubungan transaksi: ada untung, ada dukungan; tidak ada untung, jangan berharap banyak.

Bagi Eropa, ini bukan soal “tersinggung”. Ini soal masa depan keamanan regional mereka sendiri.

Dan bagi dunia, ini alarm: saat pemimpin negara paling berpengaruh mempertanyakan aliansi terbesar, geopolitik global berubah dari stabilitas menuju spekulasi.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru