Loading
Dunia Kehilangan Tutupan Hutan Dua Kali Lebih Cepat karena Kebakaran Hutan. (The Guardian)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Dunia kehilangan hutan akibat kebakaran dengan laju yang kian mengkhawatirkan. Dalam dua dekade terakhir, kebakaran hutan menghancurkan tutupan pohon lebih dari dua kali lipat dibandingkan awal tahun 2000-an, sebuah krisis yang semakin dipicu oleh perubahan iklim.
Kebakaran memang bagian dari siklus alam. Namun para ilmuwan menegaskan bahwa skala, frekuensi, dan intensitas kebakaran di hutan-hutan kaya karbon kini melampaui batas alami. Penelitian World Resources Institute (WRI) menunjukkan bahwa kebakaran hutan kini menjadi penyebab utama hilangnya tutupan pohon secara global.
Tahun 2024 tercatat sebagai tahun kebakaran hutan paling ekstrem dalam sejarah, dengan sekitar 135.000 kilometer persegi hutan terbakar di seluruh dunia. Empat dari lima tahun terburuk dalam catatan terjadi sejak 2020, menandakan eskalasi krisis yang sangat cepat.
Menariknya, peningkatan kebakaran ini tidak terjadi merata di semua lanskap. Penelitian dari Universitas Tasmania menunjukkan bahwa secara global, total area yang terbakar justru menurun karena ekspansi pertanian di Afrika memperlambat penyebaran api. Namun, tren ini berbalik tajam di kawasan hutan, yang kini menjadi titik panas kebakaran baru.
Data berbasis satelit dari Universitas Maryland, dilansir The Guardian, memperlihatkan bahwa kebakaran besar kini melanda berbagai tipe hutan, mulai dari hutan tropis lembap seperti Amazon hingga hutan boreal di lintang tinggi Kanada dan Rusia. Tahun 2024 menjadi kali pertama kebakaran berskala besar tercatat di kedua ekosistem tersebut secara bersamaan.
Rusia dan Kanada: Kebakaran Menembus Lingkar Arktik
Rusia menjadi negara dengan luas hutan terbakar terbesar dalam periode 2001–2024, mencapai lebih dari 623.000 kilometer persegi, setara luas Prancis. Tiga musim kebakaran terburuk Rusia terjadi sejak 2020, dengan kebakaran meluas hingga wilayah permafrost di dalam Lingkar Arktik. Pencairan permafrost membuat tanah semakin kering dan mudah terbakar, memicu kekhawatiran akan lonjakan kebakaran mendadak di masa depan.
Baca juga:
Topan Super Ragasa Terjang Taiwan dan Hong Kong: Belasan Korban Jiwa, China Selatan Siaga PenuhKanada juga mengalami dampak parah. Pada 2023 saja, sekitar 78.000 kilometer persegi hutan terbakar dalam satu musim. Asap kebakaran menyebar lintas benua, menyebabkan krisis kualitas udara hingga ke Eropa. Kebakaran juga memaksa evakuasi massal dan menguras sumber daya pemadam kebakaran di berbagai provinsi.
Amazon dan Amerika Selatan dalam Tekanan
Brasil mencatat lebih dari 129.000 kilometer persegi hutan terbakar sejak 2001, dengan tahun 2024 menjadi salah satu yang terburuk. Sebagian besar kebakaran terjadi di Amazon, terutama di negara bagian Pará, Rondônia, dan Mato Grosso. Panas ekstrem dan kekeringan akibat perubahan iklim serta El Niño memperburuk kondisi, sementara deforestasi ilegal dan pembukaan lahan pertanian mempercepat penyebaran api.
Bolivia juga mengalami musim kebakaran terburuk dalam sejarahnya pada 2024, dengan lebih dari 10.000 kilometer persegi hutan terbakar. Meski demikian, beberapa wilayah adat seperti Charagua Iyambae mampu menahan laju kebakaran melalui tata kelola berbasis masyarakat, sistem peringatan dini, dan pengelolaan lahan yang ketat.
Australia dan Luka “Musim Panas Hitam”
Australia masih menanggung dampak jangka panjang dari kebakaran besar 2019–2020 yang dikenal sebagai “musim panas hitam”. Lebih dari 65.000 kilometer persegi hutan terbakar sejak 2001, dengan jutaan hektare musnah dalam satu musim. Selain menewaskan puluhan orang dan menghancurkan ribuan rumah, kebakaran tersebut diperkirakan membunuh sekitar tiga miliar hewan dan merusak ekosistem penting.
Perubahan Iklim dan Siklus Berbahaya Karbon
Para ahli menegaskan bahwa perubahan iklim membuat kebakaran hutan menjadi lebih besar, lebih lama, dan lebih merusak. Suhu yang lebih panas dan kondisi yang lebih kering memperpanjang musim kebakaran, terutama di hutan boreal dan beriklim sedang yang memanas lebih cepat dari rata-rata global.
Masalahnya semakin kompleks karena hutan yang terbakar tidak lagi berfungsi sebagai penyerap karbon. Pada 2023 dan 2024, hutan dunia hanya mampu menyerap sekitar seperempat dari jumlah karbon dioksida yang biasanya diserap setiap tahun. Karbon yang dilepaskan dari kebakaran justru mempercepat pemanasan global dan menciptakan lingkaran umpan balik berbahaya: lebih panas, lebih kering, dan lebih banyak kebakaran.
James MacCarthy dari Global Forest Watch WRI memperingatkan bahwa kebakaran kini terjadi di wilayah yang sebelumnya terlalu basah untuk terbakar, termasuk hutan gambut yang kaya karbon. Jika tren ini berlanjut, dampaknya terhadap iklim global akan semakin sulit dikendalikan.
Upaya Mengurangi Risiko
Para ilmuwan sepakat bahwa pengurangan emisi gas rumah kaca adalah kunci utama untuk menekan krisis kebakaran hutan. Namun, tindakan lokal juga dinilai sangat penting. Menghentikan deforestasi, memulihkan lahan rusak, dan meningkatkan pengelolaan risiko kebakaran di wilayah rentan dapat mengurangi dampak jangka pendek.
Pengalaman di Bolivia menunjukkan bahwa tata kelola yang dipimpin masyarakat adat, pemantauan satelit, dan kesiapsiagaan dini mampu melindungi kawasan hutan dari kebakaran besar, meski tidak ada wilayah yang sepenuhnya kebal.
Tanpa tindakan signifikan di tingkat global dan lokal, para ahli memperingatkan bahwa dunia akan menghadapi musim kebakaran yang semakin panjang dan intens. Siklus pemanasan, kebakaran, dan pelepasan karbon berpotensi mempercepat krisis iklim dalam dekade mendatang.