Loading
Kandungan Panas Laut Pecah Rekor pada 2025, Ilmuwan Peringatkan Krisis Iklim. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Hasil analisis terbaru menunjukkan salah satu indikator paling jelas dari pemanasan global yang mencetak rekor pada 2025. Samudra dunia tercatat menyerap panas lebih banyak dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya sejak pencatatan modern dimulai. Temuan terbaru ini edinilai para ilmuwan sebagai sinyal peringatan serius bagi kondisi iklim Bumi.
Berdasarkan analisis internasional yang dipublikasikan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences, kandungan panas laut global meningkat sebesar 23 zettajoule sepanjang 2025. Jumlah energi tersebut setara dengan ratusan juta bom atom Hiroshima atau sekitar 200 kali konsumsi listrik global manusia pada 2023.
Kandungan panas laut, dilansir The Independent, berbeda dengan suhu permukaan laut karena mengukur total energi panas yang tersimpan di seluruh lapisan samudra, termasuk hingga kedalaman. Para ilmuwan menilai indikator ini sebagai ukuran paling andal untuk menilai pemanasan global jangka panjang, karena mencerminkan akumulasi panas dari waktu ke waktu.
Akademisi kehormatan Universitas Auckland sekaligus salah satu penulis studi, Kevin Trenberth, menyatakan bahwa lautan kini berada pada kondisi terpanas dalam sejarah pencatatan. Menurutnya, tren ini menunjukkan bahwa manusia tengah membentuk planet yang sangat berbeda, dengan konsekuensi jangka panjang yang belum sepenuhnya dipahami.
Studi ini dirilis hanya beberapa hari setelah 2025 dikonfirmasi sebagai salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah tercatat secara global. Analisis dilakukan menggunakan empat kumpulan data utama, termasuk produk observasi dari Institut Fisika Atmosfer Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, Pusat Informasi Lingkungan Nasional NOAA, Copernicus Marine, serta satu produk analisis ulang laut. Seluruh data tersebut secara konsisten menunjukkan bahwa kandungan panas laut mencapai level tertinggi pada 2025.
Lautan memegang peran penting dalam sistem iklim global karena menyerap lebih dari 90 persen panas berlebih yang terperangkap oleh gas rumah kaca. Selama ketidakseimbangan energi Bumi masih terjadi, samudra akan terus menimbun panas tambahan.
Pemanasan laut tidak terjadi secara merata. Pada 2025, sekitar 16 persen wilayah laut global mencatat kandungan panas tertinggi sepanjang sejarah lokalnya, sementara sekitar 33 persen wilayah lainnya berada di antara tiga kondisi terpanas yang pernah tercatat. Area dengan pemanasan paling intens meliputi sebagian Atlantik tropis dan selatan, Pasifik Utara, serta Samudra Selatan.
Baca juga:
Topan Super Ragasa Terjang Taiwan dan Hong Kong: Belasan Korban Jiwa, China Selatan Siaga PenuhAnalisis tersebut juga mencatat bahwa tren pemanasan laut sejak dekade 1990-an jauh lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya. Kandungan panas laut hingga kedalaman 2.000 meter tercatat memecahkan rekor baru selama sembilan tahun berturut-turut.
Suhu permukaan laut global pada 2025 juga tetap berada pada level tinggi, meski sedikit lebih rendah dibandingkan 2023 dan 2024. Penurunan kecil ini dipengaruhi oleh peralihan dari fenomena El Niño ke La Niña di Samudra Pasifik tropis. Namun demikian, suhu permukaan laut rata-rata tahunan global pada 2025 masih sekitar 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1981–2010, menjadikannya tahun terpanas ketiga dalam catatan instrumental.
Lautan yang semakin hangat berdampak langsung pada pola cuaca global. Panas dan kelembapan tambahan di atmosfer dapat meningkatkan penguapan, memicu hujan ekstrem, serta memperkuat siklon tropis dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya. Sepanjang 2025, analisis ini mengaitkan pemanasan laut dengan banjir luas di sejumlah wilayah Asia Tenggara, kekeringan di Timur Tengah, serta banjir di Meksiko dan kawasan Pasifik Barat Laut.
Selain itu, peningkatan panas laut turut mempercepat kenaikan permukaan laut melalui ekspansi termal dan meningkatkan risiko gelombang panas laut yang memberi tekanan besar pada ekosistem laut. Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini menandakan lautan akan terus mengakumulasi panas selama emisi gas rumah kaca dan ketidakseimbangan energi global belum dapat ditekan.