Senin, 09 Februari 2026

Jelantah Jadi Energi Hijau, Pertamina Perkuat Ketahanan dan Swasembada Energi


 Jelantah Jadi Energi Hijau, Pertamina Perkuat Ketahanan dan Swasembada Energi Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini didampingi Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra (kiri) dan Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis PT Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto (kanan) memberi keterangan pers usai acara Groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase-1 Biorefinery Pertamina di Kilang Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026) sore. ANTARA/Sumarwoto

CILACAP, ARAHKITA.COM – Minyak jelantah yang selama ini identik sebagai limbah dapur kini menemukan masa depannya. Melalui proyek biorefinery di Kilang Cilacap, Pertamina mengubah sisa minyak goreng menjadi bahan bakar berkelanjutan yang diproyeksikan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi dan lingkungan.

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari program strategis nasional yang sejalan dengan agenda swasembada energi dan hilirisasi.

“Proyek ini mengimplementasikan banyak Astacita Presiden, mulai dari ketahanan energi, pengurangan impor, hingga pemberantasan kemiskinan. Dari minyak jelantah yang sebelumnya tidak bernilai, kini menjadi energi hijau yang strategis,” ujarnya saat groundbreaking proyek di Cilacap.

Menurut Emma, pengolahan used cooking oil (UCO) tidak hanya menghasilkan biofuel, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian. Proyek ini diperkirakan membuka sekitar 5.900 lapangan kerja, menurunkan emisi hingga 600 ribu ton CO2 per tahun, serta berkontribusi terhadap produk domestik bruto senilai sekitar Rp199 triliun per tahun.

“Tingkat komponen dalam negeri diperkirakan mencapai 30 persen dari total proyek, dengan nilai investasi sekitar 1,1 miliar dolar AS atau setara Rp19 triliun,” tambahnya.

Langkah ini juga diyakini mampu mengurangi ketergantungan impor bahan bakar, menekan defisit transaksi berjalan, sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional. Dari perspektif lingkungan, pemanfaatan jelantah menjadi energi membantu mengurangi polusi air dan tanah yang selama ini kerap terjadi akibat pembuangan sembarangan.

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menjelaskan bahwa produk sustainable fuel tersebut telah dikembangkan sejak 2023 dan mulai dipasarkan secara komersial pada 2024.

“Beberapa maskapai penerbangan, baik internasional maupun domestik, sudah melakukan transaksi dengan kami. Dari sisi pasokan, kami mengumpulkan minyak jelantah bersama masyarakat di sejumlah titik serta bekerja sama dengan asosiasi pengepul,” katanya.

Ia menambahkan, ke depan Pertamina akan memperluas jaringan pengumpulan jelantah sebagai gerakan nasional. Skema ini membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dan memperoleh manfaat ekonomi dari limbah yang sebelumnya terabaikan.

Dari sisi teknologi, Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto menekankan bahwa proyek ini banyak bertumpu pada kemampuan dalam negeri.

“Sebagian besar teknologi dan desain sudah menggunakan sumber daya dalam negeri, termasuk katalis hasil karya anak bangsa, meskipun lisensi tertentu masih berasal dari luar negeri,” jelasnya.

Dukungan pemerintah terhadap hilirisasi juga semakin kuat. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani menilai proyek seperti ini menjadi tulang punggung transformasi ekonomi nasional.

“Groundbreaking enam proyek hilirisasi fase pertama yang tersebar di 13 wilayah Indonesia menunjukkan keseriusan kita menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujarnya dikutip Antara.

Menurut Rosan, total nilai investasi program hilirisasi mencapai sekitar 7 miliar dolar AS pada 2025 dan menyumbang 30 persen dari investasi nasional atau sekitar Rp584,1 triliun—naik 43,3 persen dibanding tahun sebelumnya.

Transformasi minyak jelantah menjadi energi hijau memperlihatkan wajah baru ekonomi sirkular Indonesia. Limbah yang dulu dianggap masalah kini menjelma solusi: menggerakkan industri, memberdayakan masyarakat, sekaligus menjaga bumi tetap layak huni. Inilah wujud nyata bahwa masa depan energi bisa dimulai dari hal sederhana di sekitar kita.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Green Economy Insight Terbaru