Loading
Arsip foto - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. ANTARA/Anadolu/py.
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Peta diplomasi internasional berubah signifikan. Inggris dan Kanada secara resmi mengakui Palestina sebagai negara berdaulat, sebuah langkah besar yang diumumkan hanya beberapa hari sebelum Sidang Umum PBB berlangsung di New York.
Pengumuman Inggris disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Keir Starmer pada Minggu (21/9). Dalam pernyataan videonya, Starmer menegaskan bahwa pengakuan ini adalah bagian dari upaya untuk menjaga peluang perdamaian di kawasan Timur Tengah yang terus dilanda konflik.
“Menghadapi kengerian yang semakin meningkat di Timur Tengah, kami bertindak untuk menjaga kemungkinan perdamaian dan solusi dua negara. Israel yang aman dan terjamin harus berdampingan dengan negara Palestina yang layak. Saat ini, kita tidak memiliki keduanya,” ujar Starmer.
Langkah Inggris ini datang setelah Starmer sebelumnya menyatakan pada Juli lalu bahwa pengakuan resmi terhadap Palestina akan diberikan pada September 2025, kecuali ada langkah substansial dari pemerintah Israel.
Keputusan tersebut juga diperkuat oleh pernyataan Wakil Perdana Menteri David Lammy, yang menegaskan “sekaranglah saatnya untuk memperjuangkan solusi dua negara.” Meski begitu, pemerintah Israel menyebut pengakuan Inggris ini sebagai langkah yang “tidak masuk akal.”
Kanada Ikut Berikan Dukungan
Tak hanya Inggris, Kanada juga mengumumkan pengakuan resminya terhadap Palestina pada hari yang sama. Perdana Menteri Mark Carney menegaskan bahwa negaranya tidak hanya mengakui Palestina, tetapi juga siap bermitra dalam membangun perdamaian.
“Kanada mengakui Negara Palestina dan menawarkan kemitraan kami dalam membangun janji masa depan yang damai bagi Negara Palestina dan Negara Israel,” tulis Carney dalam akun X resminya.
Carney menambahkan, pengakuan ini menegaskan dukungan Kanada terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, serta pembentukan negara yang merdeka, demokratis, dan berdaulat.
Pengumuman dari kedua negara G7 ini menjadi sinyal kuat di tengah meningkatnya dukungan global untuk solusi dua negara. Sebelumnya, Prancis, Luksemburg, dan Malta juga telah menyatakan rencana serupa. Sidang Umum PBB ke-80 yang berlangsung 24–29 September 2025 di New York diprediksi akan menjadi momentum penting dalam mendorong pengakuan lebih luas bagi Palestina.
Babak Baru Diplomasi Timur Tengah
Dengan pengakuan dari Inggris dan Kanada, tekanan terhadap komunitas internasional untuk menegakkan solusi dua negara semakin menguat.
Langkah ini dipandang sebagai dorongan diplomatik baru yang bisa membuka ruang dialog menuju perdamaian berkelanjutan di Timur Tengah.
Meski jalan menuju perdamaian masih panjang dan penuh tantangan, dukungan negara-negara besar diyakini dapat menjadi titik awal bagi terciptanya masa depan yang lebih stabil, baik bagi Palestina maupun Israel dilansir Antara.