Selasa, 13 Januari 2026

Greenland Memanas: Eropa Pertimbangkan Kehadiran NATO untuk Redam Wacana Aneksasi


 Greenland Memanas: Eropa Pertimbangkan Kehadiran NATO untuk Redam Wacana Aneksasi Ilustrasi Greenland. /ANTARA/Anadolu/py (Anadolu)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Situasi geopolitik di kawasan Arktik kembali mencuri perhatian dunia. Inggris dikabarkan sedang berdiskusi dengan sejumlah sekutu Eropa di NATO mengenai kemungkinan penempatan pasukan aliansi di Greenland, menyusul munculnya kekhawatiran terkait wacana aneksasi pulau tersebut oleh Amerika Serikat.

Menurut laporan harian The Telegraph, pejabat Inggris telah melakukan pertemuan awal dengan mitra mereka dari Prancis dan Jerman untuk membicarakan langkah-langkah yang dapat diambil bila tensi meningkat. Dalam pembahasan itu, London menimbang opsi penguatan kehadiran militer di wilayah Arktik—mulai dari pengiriman personel, kapal perang, hingga pesawat.

Alasan yang dipakai bukan semata soal Greenland, tetapi juga terkait kekhawatiran lama NATO terhadap dinamika keamanan Arktik, khususnya aktivitas yang dikaitkan dengan Rusia dan China. Sejumlah negara Eropa menilai kawasan itu semakin strategis dan rawan menjadi ajang perebutan pengaruh.

Yang menarik, langkah Eropa ini disebut punya tujuan tambahan: meyakinkan Presiden AS Donald Trump bahwa Amerika Serikat tidak perlu sampai “menguasai” Greenland demi alasan keamanan. Dengan kata lain, Eropa ingin menunjukkan bahwa NATO bisa memperkuat pertahanan Arktik melalui kerja sama aliansi—bukan lewat pengambilalihan wilayah.

Pembicaraan ini mencuat setelah media Daily Mail melaporkan Trump disebut telah meminta para komandan pasukan operasi khusus AS menyusun skenario rencana invasi ke Greenland. Dalam laporan yang sama, penasihat kebijakan Trump, Stephen Miller, disebut termasuk pihak yang mendorong ide tersebut.

Pekan lalu, Trump juga menyampaikan pernyataan yang makin memancing kontroversi. Dalam wawancara dengan The Atlantic, ia mengatakan Amerika Serikat “mutlak” membutuhkan Greenland karena pulau tersebut, menurutnya, “dikepung kapal-kapal Rusia dan China”. Pernyataan itu segera memantik reaksi dari Denmark.

Denmark, yang memiliki kedaulatan atas Greenland, menilai wacana tersebut berbahaya dan tidak dapat diterima. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen bahkan secara terbuka mendesak Trump menghentikan ancaman aneksasi terhadap Greenland, yang selama ini merupakan wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark.

Secara politik, Greenland memang memiliki ruang pengaturan yang luas dalam urusan domestik. Pulau itu memiliki pemerintahan sendiri dan dapat mengatur banyak kebijakan internal. Namun, urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri tetap berada di tangan Kopenhagen.

Greenland sendiri bukan sekadar pulau dingin di utara dunia. Sebagai pulau terbesar di dunia, wilayah ini menyimpan nilai strategis tinggi karena posisinya di Arktik serta kekayaan sumber daya alam yang kerap disebut potensial. Tak heran jika Greenland belakangan sering masuk dalam radar perebutan kepentingan geopolitik global.

Secara historis, Greenland merupakan koloni Denmark hingga 1953. Wilayah tersebut tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark, dan pada 2009 memperoleh status otonomi yang memperkuat kewenangan lokalnya.

Kini, ketika tensi global ikut bergeser ke wilayah Arktik, Greenland pun berada di persimpangan penting: menjadi kunci pertahanan kawasan, sekaligus magnet perebutan pengaruh negara-negara besar.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru