Kamis, 22 Januari 2026

Minnesota Memanas, Trump Isyaratkan Kirim Pasukan untuk Hadapi Protes Anti-ICE


 Minnesota Memanas, Trump Isyaratkan Kirim Pasukan untuk Hadapi Protes Anti-ICE Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (The New York Times/Metrotvnews)

JAKARTA, ARAHKITA.COM — Situasi di Minnesota kian panas setelah rangkaian protes anti-ICE berujung bentrokan di Minneapolis. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan melempar ancaman serius: ia membuka kemungkinan menggunakan Undang-Undang Pemberontakan (Insurrection Act) untuk meredam kerusuhan yang muncul dalam operasi penegakan hukum imigrasi.

Ancaman itu muncul setelah malam penuh ketegangan di Minneapolis, yang diwarnai aksi vandalisme serta bentrokan antara demonstran dan aparat. Pemerintah federal menilai aksi tersebut sudah melewati batas, sementara pihak lokal meminta situasi diturunkan agar tidak makin memicu konflik.

Trump menyatakan akan bertindak lebih keras bila pejabat Minnesota dianggap gagal mengendalikan keadaan. Dalam unggahan di media sosialnya, ia menyebut adanya “penghasut” dan “pemberontak profesional” yang memanfaatkan kondisi di lapangan.

Kronologi: Penembakan, Pengejaran, Lalu Kerusuhan

Menurut keterangan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), kericuhan terbaru dipicu oleh insiden pada Rabu malam waktu setempat. Seorang petugas federal melepaskan tembakan setelah terlibat konfrontasi dengan tiga warga negara Venezuela.

Versi DHS menyebut kejadian bermula dari pengejaran mobil terhadap seorang pria bernama Julio Cesar Sosa-Celis, yang memiliki catatan pelanggaran karena mengemudi tanpa SIM. Setelah kendaraan berhenti, terjadi perkelahian antara Sosa-Celis dan petugas federal.

Tak lama kemudian, dua orang lain disebut keluar dari apartemen terdekat dan ikut terlibat. DHS mengatakan ketiganya melakukan serangan menggunakan sekop salju dan gagang sapu. Dalam kondisi itu, agen federal melepaskan tembakan dan mengenai kaki Sosa-Celis.

Petugas federal tersebut kemudian dibawa ke rumah sakit. Sosa-Celis juga dirawat dengan luka yang disebut tidak mengancam nyawa. Ketiga pria itu akhirnya ditangkap.Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, menyebut peristiwa itu sebagai bentuk serangan serius terhadap aparat. Ia menilai petugasnya “disergap” dan menembak dalam konteks membela diri dikutip dari bbc.com.

Bentrokan di Hawthorne: Kembang Api, Bola Salju, dan Aparat

Bentrokan pecah di wilayah Hawthorne, Minneapolis, dekat lokasi insiden penembakan. Kepala Kepolisian Minneapolis Brian O’Hara mengungkapkan para petugas di lapangan menjadi sasaran lemparan—mulai dari kembang api, bongkahan es, hingga bola salju.

Di tengah kekacauan, beberapa kendaraan milik pemerintah federal dilaporkan rusak. FBI juga menyatakan ada barang yang dicuri dari kendaraan-kendaraan tersebut.Sebagai respons, FBI menawarkan hadiah hingga US$100.000 bagi siapa pun yang memberikan informasi yang membantu pemulihan barang yang dicuri atau mengarah pada penangkapan pelaku perusakan.

Sementara itu, dilaporkan sekitar 3.000 petugas federal telah dikerahkan ke Minnesota dalam beberapa pekan terakhir sebagai bagian dari operasi penegakan hukum imigrasi.

Wali Kota dan Gubernur Minta Ketegangan Diturunkan

Wali Kota Minneapolis Jacob Frey menilai situasi di kota tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ia kembali mendesak agar ICE menghentikan aktivitas yang memicu ketegangan di wilayahnya.

Dari level negara bagian, Gubernur Minnesota Tim Walz ikut angkat suara. Ia meminta Presiden Trump menurunkan tensi dan menahan diri agar situasi tidak berubah menjadi konflik yang lebih luas.

Dalam pesannya kepada warga Minnesota, Walz mengingatkan bahwa provokasi dan narasi panas hanya akan mengipasi kekacauan. Ia juga menekankan pentingnya meredakan emosi publik di tengah situasi yang rapuh.

Mengapa Insurrection Act Jadi Ancaman Serius?

Insurrection Act adalah undang-undang lama yang memungkinkan presiden mengerahkan personel militer aktif untuk menjalankan fungsi penegakan hukum di dalam negeri. Karena sifatnya yang ekstrem, aturan ini jarang digunakan dan kerap memicu debat besar soal demokrasi, kebebasan sipil, dan batas kewenangan pemerintah federal.

Trump sebelumnya pernah menyebut kemungkinan menggunakan aturan ini di wilayah lain, namun belum pernah benar-benar menerapkannya secara penuh.Kini, ancaman tersebut kembali mencuat dalam konteks Minnesota—menandai bahwa pemerintah federal siap mengambil langkah yang lebih keras bila kerusuhan berlanjut.

Akar Masalah: Penembakan Renee Nicole Good dan Gelombang Protes

Ketegangan di Minneapolis sebenarnya sudah meningkat sejak penembakan fatal pada 7 Januari terhadap seorang perempuan bernama Renee Nicole Good (37) oleh agen ICE. Insiden itu memicu kemarahan publik dan melahirkan protes di berbagai daerah.

Pemerintahan Trump menyatakan agen bertindak untuk membela diri. Namun sejumlah pejabat lokal menyebut korban tidak menunjukkan ancaman yang sebanding dengan respons mematikan yang terjadi.

Rekaman video yang beredar memperlihatkan agen mendekati sebuah mobil yang berhenti di jalan. Saat Good berusaha pergi, terdengar rentetan tembakan yang dilepaskan ke arah kendaraan.

Kasus ini kini diselidiki FBI.

Dalam perkembangan lain, penggalangan dana untuk keluarga Renee Good dilaporkan melesat hingga lebih dari US$1,4 juta. Sementara donasi untuk agen ICE yang terlibat dalam insiden tersebut juga mencapai ratusan ribu dolar.

Operasi ICE Tetap Lanjut

Di tengah tekanan politik dan protes warga, pemerintah federal memastikan operasi ICE di Minnesota tidak akan berhenti. Trump menegaskan operasi penegakan hukum akan terus berjalan, termasuk setelah hakim federal menolak permohonan jaksa Minnesota untuk menghentikan aktivitas ICE melalui perintah penahanan sementara.

Artinya, ketegangan berpotensi berlanjut—dan ancaman penggunaan Insurrection Act bisa saja berubah dari sekadar gertakan menjadi keputusan politik besar.

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru