Senin, 26 Januari 2026

Khamenei Akui Ribuan Orang Tewas dalam Protes Iran, Salahkan AS dan Trump


 Khamenei Akui Ribuan Orang Tewas dalam Protes Iran, Salahkan AS dan Trump Khamenei Akui Ribuan Orang Tewas dalam Protes Iran, Salahkan AS dan Trump. (The Guardian/Anadolu/Getty Images)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, untuk pertama kalinya mengakui bahwa ribuan orang tewas dalam gelombang protes yang mengguncang negara tersebut selama lebih dari dua pekan terakhir. Pengakuan itu disampaikan Khamenei dalam pidatonya pada Kamis, di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap penanganan demonstrasi oleh pemerintah Iran.

Khamenei mengatakan ribuan korban tewas tersebut, sebagian di antaranya meninggal dengan cara yang ia sebut tidak manusiawi dan biadab. Ia menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas besarnya jumlah korban jiwa, serta mengecam Presiden AS Donald Trump yang dinilainya mendukung demonstrasi. Dalam pidatonya, Khamenei menyebut Trump sebagai penjahat dan menyerukan hukuman berat terhadap para demonstran.

Menurut Khamenei, dilansir The Guardian, bangsa Iran harus menghancurkan kekuatan para penghasut sebagaimana negara itu telah menghancurkan pemberontakan di masa lalu. Pernyataan tersebut menegaskan sikap keras pemerintah terhadap aksi protes yang dinilai sebagai ancaman terhadap stabilitas negara.

Sejalan dengan pernyataan itu, otoritas Iran merilis rekaman video yang diklaim menunjukkan individu bersenjata api dan pisau berada di tengah para demonstran. Pemerintah menyebut rekaman tersebut sebagai bukti adanya sabotase dan campur tangan asing dalam aksi unjuk rasa.

Nada serupa juga disampaikan ulama senior Iran, Ahmad Khatami, yang menuntut eksekusi terhadap para demonstran. Ia menyebut para pengunjuk rasa sebagai pelayan dan tentara Israel serta Amerika Serikat, serta menegaskan bahwa kedua negara tersebut tidak layak mengharapkan perdamaian dari Iran. Khatami merupakan anggota Dewan Penjaga dan Majelis Pakar, lembaga yang berwenang menunjuk pemimpin tertinggi Iran.

Pernyataan Khamenei dan para ulama garis keras itu bertolak belakang dengan klaim Donald Trump yang menyatakan bahwa Iran telah menghentikan eksekusi terhadap para demonstran. Trump bahkan mengucapkan terima kasih kepada Iran karena, menurutnya, telah menangguhkan eksekusi terhadap sekitar 800 orang, meski tidak jelas sumber angka tersebut.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia menyebut penindasan terhadap demonstran masih terus berlangsung. Kantor berita Human Rights Activists melaporkan lebih dari 3.090 orang tewas akibat kerusuhan, dengan hampir 4.000 kasus kematian lainnya masih dalam proses verifikasi. Selain itu, lebih dari 22.100 orang dilaporkan ditangkap selama protes, memicu kekhawatiran luas mengenai perlakuan buruk terhadap para tahanan.

Aksi protes bermula pada 28 Desember, ketika para pedagang di Teheran turun ke jalan memprotes anjloknya nilai tukar rial. Protes kemudian meluas ke berbagai kota dengan tuntutan yang berkembang hingga menyerukan berakhirnya pemerintahan saat ini. Kerusuhan tersebut menjadi salah satu yang paling serius dan mematikan sejak Revolusi Iran pada 1979.

Menurut Human Rights Watch, penindasan brutal oleh aparat keamanan, termasuk apa yang mereka sebut sebagai pembunuhan massal terhadap demonstran, membuat banyak warga enggan kembali ke jalan. Meski demikian, pemerintah Iran terus menunjukkan sikap keras dengan menghukum mereka yang dituduh terlibat dalam kerusuhan yang disebut sebagai konspirasi asing.

Khatami juga mengklaim bahwa ratusan fasilitas umum rusak akibat aksi protes, termasuk ratusan masjid, rumah sakit, ambulans, serta kendaraan darurat. Hingga kini, belum jelas dampak jangka panjang dari gelombang protes tersebut atau kemungkinan munculnya kembali demonstrasi dalam waktu dekat.

Iran masih relatif terisolasi dari dunia luar, seiring berlanjutnya pembatasan akses internet yang telah berlangsung lebih dari sepekan. Di tengah situasi tersebut, Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran, terus menyerukan penggulingan pemerintah dan mendesak Amerika Serikat untuk campur tangan, sembari menegaskan bahwa rakyat Iran tidak memiliki pilihan selain melanjutkan perjuangan.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru