Selasa, 20 Januari 2026

Starmer Tegas: Perang Dagang Tak Menguntungkan Siapa Pun di Tengah Ancaman Tarif Trump


 Starmer Tegas: Perang Dagang Tak Menguntungkan Siapa Pun di Tengah Ancaman Tarif Trump Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer menegaskan bahwa perang dagang tidak akan menguntungkan siapa pun. (theglobal-review.com)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer menegaskan bahwa perang dagang tidak akan menguntungkan siapa pun, menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump yang ingin memberlakukan tarif impor 10% terhadap Inggris dan sejumlah negara lain.

Ancaman tarif itu muncul setelah beberapa negara sekutu menolak gagasan Trump terkait rencana pengambilalihan Greenland. Trump bahkan mengaitkan sikap penolakan itu dengan langkah “hukuman” ekonomi berupa pajak impor, yang disebutnya akan menyasar negara-negara yang tidak sejalan dengan kebijakan AS soal wilayah Arktik.

Berbicara dari Downing Street, Starmer menilai pendekatan yang paling tepat bukanlah saling adu keras, melainkan diskusi yang tenang dan rasional. Menurutnya, penggunaan tarif terhadap negara sekutu jelas bukan cara yang sehat untuk menyelesaikan perbedaan pandangan.

“Tarif untuk sekutu bukanlah jalan keluar,” kurang lebih demikian pesan utama Starmer. Ia menekankan bahwa sikap Inggris akan tetap berpijak pada prinsip, namun dalam praktik diplomasi ia memilih pendekatan pragmatis agar hubungan strategis Inggris–AS tidak retak.

Greenland: Kedaulatan Tak Bisa Ditawar

Starmer kembali menegaskan bahwa masa depan Greenland semestinya ditentukan rakyat Greenland dan Denmark, bukan diputuskan pihak luar. Ia menyebut prinsip kedaulatan sebagai hal yang “tidak bisa dikesampingkan”.

Meski begitu, ia juga tampak berhitung. Inggris, kata Starmer, memiliki kepentingan besar dalam menjaga hubungan dengan AS—bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga kerja sama pertahanan, nuklir, hingga intelijen.

Di tengah spekulasi dunia internasional, Starmer mengatakan ia tidak percaya Trump benar-benar akan memakai jalur militer untuk Greenland. Namun ia mengingatkan situasi tetap serius dan perlu ditangani dengan kepala dingin.

Inggris Menahan Diri, Belum Mau Balas Tarif

Saat ditanya apakah Inggris akan menyiapkan tarif balasan jika ancaman Trump jadi kenyataan, Starmer menjawab tegas tetapi hati-hati: Inggris belum berada di tahap itu.Fokus pemerintah saat ini, menurutnya, adalah memastikan konflik tidak meningkat. Ia menilai aksi balasan yang sekadar untuk “gagah-gagahan” justru bisa merugikan masyarakat sendiri, terutama pekerja yang hidupnya bergantung pada stabilitas ekonomi global.

“Politisi mungkin merasa puas,” kira-kira begitu logika Starmer, “tapi pekerja yang menanggung dampaknya.”

Dukungan Lawan Politik dan Seruan Bersatu

Menariknya, Starmer mengakui bahwa ancaman tarif Trump mendapat respons buruk di Inggris. Namun ia mengajak semua pihak untuk tidak terjebak simbolisme politik.

Ia bahkan menyambut baik dukungan dari pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch, yang sepakat bahwa ancaman tarif adalah ide buruk, serta menilai Greenland harus tetap berada pada kedaulatannya.

Di sisi lain, suara-suara kritis juga muncul dari oposisi. Partai Liberal Demokrat menilai Inggris seharusnya tidak buru-buru menutup opsi tarif balasan agar tidak terlihat “mudah ditekan”.

Fokus Baru: Arktik dan Ancaman Rusia–China

Ketegangan ini juga memperlihatkan satu hal: Arktik kini makin strategis.

Starmer mengungkapkan ia telah berbicara dengan sejumlah pemimpin negara lain, termasuk Kanada dan Italia, untuk menyampaikan bahwa Inggris dan sekutunya perlu menunjukkan kesiapan dalam menjaga keamanan Arktik, terutama menghadapi pengaruh Rusia dan China dilansir dari bbc.com.

Bagi banyak negara Barat, Greenland bukan sekadar pulau es. Letaknya di jalur strategis antara Amerika Utara dan Arktik membuatnya penting untuk:

  • sistem peringatan dini serangan rudal,
  • pemantauan pergerakan kapal,
  • hingga potensi sumber daya mineral langka, minyak, dan gas.

Pemanasan global yang mempercepat pencairan lapisan es juga membuat akses terhadap sumber daya di kawasan tersebut makin terbuka—dan itulah yang membuat persaingan pengaruh menjadi kian panas.

Tarif Bisa Jadi Beban Berat Ekonomi

Trump disebut berencana menerapkan tarif 10% mulai 1 Februari, lalu meningkat menjadi 25% pada 1 Juni untuk beberapa negara, termasuk Inggris.

Jika kebijakan itu benar berjalan, dampaknya bisa signifikan. Sejumlah analis memperkirakan tarif baru berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi Inggris, bahkan disebut dapat memangkas PDB sekitar 0,5%.

Pasar juga langsung bereaksi. Bursa saham Eropa dilaporkan sempat terguncang, terutama saham produsen mobil dan barang mewah—dua sektor yang sangat sensitif terhadap perang tarif.

Strategi Starmer: Menang tanpa Provokasi

Di tengah tekanan publik, oposisi, dan sorotan internasional, Starmer tampaknya memilih strategi yang konsisten: tidak terpancing, tidak “berisik”, dan mengutamakan jalur diplomasi.

Ia percaya, menjaga hubungan baik dengan Trump bukan berarti tunduk, tetapi langkah realistis agar Inggris tetap punya ruang negosiasi dan tidak terseret dalam konflik yang justru menekan rakyat sendiri.

Dan pada titik ini, pesan Starmer cukup jelas: perang dagang bukan kemenangan bagi siapa pun—yang menang justru ketidakpastian.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru