Loading
Ancaman Perang AS-Iran Meningkat, Trump Peringatkan Waktu Negosiasi Hampir Habis. (The Guardian/ US Navy)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Ancaman perang antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa waktu hampir habis bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya.
Trump menyatakan armada besar Angkatan Laut AS tengah bergerak menuju Iran dan siap menjalankan misi dengan kekuatan penuh jika diperlukan.
Dalam unggahan di media sosial pada Rabu, Trump menyebut armada yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln lebih besar dibandingkan dengan kekuatan militer yang sebelumnya dikirim ke Venezuela. Ia menegaskan armada tersebut siap bertindak cepat dan keras apabila Iran menolak bernegosiasi.
Trump, dilansir The Guardian, mendorong Iran untuk segera datang ke meja perundingan guna mencapai kesepakatan yang adil dan setara tanpa senjata nuklir. Ia menekankan bahwa waktu yang tersisa sangat terbatas dan situasi ini sangat krusial. Trump juga mengingatkan bahwa kegagalan bernegosiasi sebelumnya telah berujung pada operasi militer besar-besaran, dan serangan berikutnya disebut akan jauh lebih buruk.
Sejauh ini, pernyataan tersebut menjadi sinyal paling jelas bahwa Trump mempertimbangkan opsi serangan militer dalam waktu dekat apabila Iran menolak membuka pembicaraan. Sikap ini sekaligus menandai pergeseran alasan resmi Gedung Putih dalam mengirimkan armada ke kawasan, dari isu kerusuhan domestik Iran menjadi fokus pada masa depan program nuklir Teheran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada Senat bahwa ribuan orang tewas dalam kerusuhan terbaru di Iran dan menilai pemerintahan Teheran kini berada dalam posisi yang lebih lemah dibandingkan sebelumnya. Namun, Rubio mengingatkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan militer signifikan, termasuk ribuan rudal balistik dan drone yang dapat mengancam personel AS di kawasan.
Sekitar 30.000 personel militer AS disebut berada dalam jangkauan persenjataan Iran. Rubio menegaskan bahwa kehadiran militer AS di kawasan diperlukan untuk menghadapi kemungkinan serangan balasan. Trump sendiri menyatakan akan mempertahankan opsi serangan preemptif jika terdapat indikasi ancaman terhadap pasukan AS.
Dari pihak Iran, penasihat senior pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Ali Shamkani, memperingatkan bahwa setiap tindakan militer AS akan dianggap sebagai awal perang dan akan dibalas secara menyeluruh dan belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menyebut target balasan mencakup Tel Aviv dan pihak-pihak pendukung agresi.
Iran menegaskan tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan atau ancaman. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran tetap terbuka untuk dialog yang setara dan bebas dari paksaan. Ia menegaskan angkatan bersenjata Iran berada dalam kesiapan penuh untuk merespons setiap agresi.
Upaya diplomasi terus dilakukan oleh negara-negara Teluk dan Turki yang mencoba menjembatani kedua pihak. Arab Saudi, Qatar, dan Mesir dilaporkan aktif berkomunikasi dengan Washington dan Teheran untuk membuka kembali jalur dialog tanpa prasyarat. Meski demikian, kecurigaan Iran terhadap AS tetap tinggi, terutama setelah serangan Israel dan AS sebelumnya yang merusak situs nuklir Iran dan menewaskan ribuan orang.
Trump bersikeras agar Iran menghentikan pengayaan uranium domestik, mengizinkan kembalinya inspektur nuklir PBB, serta menyerahkan stok uranium yang diperkaya tinggi kepada pihak ketiga. Iran menolak tuntutan tersebut, meski bersedia membatasi persediaannya secara ketat.
Dengan kondisi ekonomi Iran yang terus tertekan akibat inflasi dan melemahnya mata uang, serta situs nuklir yang telah mengalami kerusakan, analis menilai potensi serangan berikutnya kemungkinan akan menargetkan kepemimpinan Iran. Sementara itu, negara-negara Teluk menyatakan tidak bersedia wilayah atau pangkalan mereka digunakan untuk menyerang Iran karena khawatir akan pembalasan.
Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah kembali di ambang eskalasi besar, dengan dunia internasional menanti apakah konflik akan berujung pada meja perundingan atau konfrontasi militer terbuka.