Trump Ancam Naikkan Tarif Impor, Klaim Tak Perlu Persetujuan Kongres


 Trump Ancam Naikkan Tarif Impor, Klaim Tak Perlu Persetujuan Kongres Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ANTARAAnadolupy

WASHINGTON, ARAHKITA.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memantik tensi perdagangan global. Ia mengancam akan melipatgandakan tarif impor bagi negara-negara yang dinilai “memanfaatkan” putusan Mahkamah Agung AS terkait pembatasan kewenangan eksekutif dalam penetapan tarif.

Ancaman itu disampaikan Trump pada Senin (23/2/2026), tak lama setelah Mahkamah Agung membatalkan dasar hukum kebijakan tarif impor yang sebelumnya diberlakukan pemerintahannya. Dalam putusan tersebut, mahkamah menegaskan bahwa kewenangan penetapan tarif secara konstitusional berada di tangan Kongres AS.

Alih-alih melunak, Trump justru menyebut keputusan itu sebagai sesuatu yang “memalukan”. Namun ia mengklaim, secara ironis, putusan tersebut justru memberinya ruang manuver yang lebih besar.

Melalui akun Truth Social, platform media sosial miliknya, Trump memperingatkan negara-negara yang dianggap merugikan kepentingan Amerika Serikat agar tidak mencoba memicu konflik dagang baru.

“Negara mana pun yang ingin ‘bermain-main’ dengan keputusan Mahkamah Agung yang konyol ini akan menghadapi tarif yang jauh lebih tinggi—bahkan lebih buruk dari tarif yang baru saja mereka setujui,” tulis Trump dilansir Antara.

Trump juga menegaskan telah menyiapkan sejumlah skema cadangan untuk mempertahankan seluruh tarif yang pernah ia tetapkan, dengan dalih keamanan nasional. Ia menolak anggapan bahwa kebijakan perdagangan internasional harus selalu mendapat restu legislatif.

Menurut Trump, sebagai presiden, dirinya tidak berkewajiban berkonsultasi dengan Kongres untuk menetapkan tarif impor. Ia menilai otoritas tersebut sudah melekat pada jabatan presiden sejak lama.

Pernyataan ini kembali membuka babak ketegangan antara cabang eksekutif dan legislatif di AS, sekaligus memunculkan kekhawatiran baru akan eskalasi perang dagang yang bisa berdampak luas ke perekonomian global.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru