Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia akan memberlakukan tarif global sebesar 15%. (Foto: EPA/BBC)
WASHINGTON, ARAHKITA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mencuri perhatian lewat pidato kenegaraan yang penuh energi dan dramatik. Dengan nada optimistis, Trump mengklaim Amerika sedang mengalami “perubahan besar yang akan dikenang sepanjang masa”. Namun, di balik kemasan megah itu, publik justru menangkap pesan yang samar soal arah kebijakan ke depan.
Pidato ini datang di saat jajak pendapat menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kondisi negara dan kepemimpinan Trump masih rendah. Alih-alih menawarkan terobosan konkret, Trump tampak lebih sibuk “menjual” optimisme, menyemangati basis pendukungnya, sekaligus melontarkan sindiran tajam kepada lawan politik—sebuah strategi yang terasa sangat politis menjelang pemilu paruh waktu.
Nuansa teatrikal begitu kental. Trump seolah tahu betul cara mengelola momen kamera. Dari menyambut tim hoki es putra Olimpiade AS peraih emas hingga menyebut satu per satu pahlawan nasional—veteran Perang Dunia II berusia 100 tahun dan perenang Penjaga Pantai yang menyelamatkan ratusan korban banjir Texas. Tepuk tangan bergemuruh, bahkan dari sebagian anggota Demokrat, membuat suasana pidato terasa heroik dan emosional.
Dengan durasi hampir dua jam—terpanjang dalam sejarah pidato kenegaraan—Trump berulang kali menegaskan narasi klasiknya. “Negara kita telah kembali,” katanya. Ia mengklaim pendapatan meningkat, pasar saham menguat, harga bensin lebih rendah, inflasi terkendali, dan penyeberangan ilegal di perbatasan selatan menurun. “Amerika kembali menang,” ucapnya menutup salah satu bagian pidato.
Masalahnya, optimisme itu belum sepenuhnya sejalan dengan persepsi publik. Tingkat persetujuan Trump masih berkisar 40 persen. Bahkan pidato nasional sebelumnya, dengan data dan klaim serupa, belum berhasil mengubah sentimen masyarakat. Kali ini, Trump tampaknya berharap audiens yang jauh lebih besar—puluhan juta penonton—bisa membawa dampak berbeda.
Namun, satu hal mencolok: minimnya kebijakan baru. Beberapa ide memang diselipkan, seperti rekening tabungan pensiun bagi kelas pekerja dan kerja sama dengan perusahaan AI agar kebutuhan listrik industri tidak membebani konsumen. Selebihnya, Trump mengulang gagasan lama—pembayaran langsung untuk premi asuransi kesehatan, kewajiban bukti kewarganegaraan bagi pemilih, hingga larangan SIM komersial bagi imigran tanpa dokumen.
Isu tarif kembali memanaskan ruangan. Trump bersikeras melanjutkan kebijakan tarif luas meski Mahkamah Agung baru saja membatalkan sebagian bea masuk sebelumnya. Ketegangan terasa jelas, terutama saat kamera menangkap ekspresi dingin para hakim agung, termasuk Ketua Mahkamah Agung John Roberts.
Jika tarif membuat suasana canggung, topik imigrasi justru memicu ledakan emosi. Tepuk tangan meriah dari Partai Republik beradu dengan gumaman dan sorakan marah dari Demokrat. Trump kembali memosisikan imigrasi sebagai ancaman, berupaya merebut isu yang dulu menjadi kekuatan politiknya, meski reputasinya belakangan terkikis akibat kontroversi penegakan hukum.
Soal kebijakan luar negeri, porsinya tetap terbatas. Meski ketegangan dengan Iran meningkat, Trump tak banyak mengulas urgensi aksi militer. Ia menegaskan lebih memilih diplomasi, namun tetap bersumpah tak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir—sebuah pernyataan tegas yang cepat berlalu tanpa penjelasan lanjutan dilaporkan BBC dan dikutip.
Pada akhirnya, pidato ini lebih terasa sebagai pertaruhan politik ketimbang peta jalan kebijakan. Trump seolah bertaruh bahwa patriotisme, optimisme ekonomi, dan simbol-simbol kebanggaan nasional akan cukup untuk membalikkan suasana hati publik. Apakah strategi ini akan berhasil? Jawabannya kemungkinan baru akan terlihat di bilik suara beberapa bulan ke depan.