Loading
Keripik Wasabeef Jepang Langka Akibat Krisis Minyak, Konsumen Kecewa. (The Independent/ Yamayoshi Seika)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Krisis pasokan minyak global mulai berdampak langsung pada konsumen di Jepang, setelah produsen camilan Yamayoshi Seika menghentikan sementara produksi keripik populernya, Wasabeef. Keputusan ini dipicu oleh kelangkaan minyak goreng yang semakin parah akibat konflik di Timur Tengah.
Perusahaan yang berdiri sejak 1953 itu menyebut produknya sebagai “merek nasional”, namun terpaksa menghentikan operasional pabrik karena pasokan bahan baku utama tidak lagi tersedia.
CEO Satoshi Kada, dilansir The Independent, mengungkapkan bahwa pemasok telah memperingatkan lonjakan harga minyak goreng hingga 20–30 persen sejak awal Maret. Tak lama kemudian, pengiriman dihentikan sepenuhnya, membuat perusahaan tidak memiliki pilihan selain menghentikan produksi.
Krisis ini berkaitan erat dengan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berdampak pada terganggunya distribusi energi global. Penutupan efektif Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak dunia—memperparah situasi.
Penghentian produksi Wasabeef menjadi salah satu dampak nyata pertama yang dirasakan langsung oleh konsumen Jepang. Di media sosial, kelangkaan camilan ini langsung memicu reaksi luas dari penggemar.
Topik Wasabeef bahkan sempat menjadi salah satu kata kunci paling ramai diperbincangkan di platform X di Jepang. Banyak pengguna mengungkapkan kekecewaan mereka atas hilangnya camilan favorit tersebut dari pasaran.
Wasabeef dikenal dengan cita rasa unik perpaduan wasabi dan daging sapi, yang menjadikannya salah satu produk unggulan Yamayoshi Seika. Perusahaan mencatat penjualan bulanan mencapai 400 juta hingga 500 juta yen sebelum krisis terjadi.
Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, Jepang mendapatkan sekitar 95 persen pasokan minyak mentahnya dari Timur Tengah. Untuk meredam dampak krisis, pemerintah Jepang mulai melepaskan sekitar 80 juta barel minyak dari cadangan strategis nasional.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga mulai merembet ke industri makanan dan kehidupan sehari-hari masyarakat.