ILO Warning! Konflik Global Ancam Pendapatan Buruh Dunia Susut Rp53 Kuadriliun Judul Alternatif


 ILO Warning! Konflik Global Ancam Pendapatan Buruh Dunia Susut Rp53 Kuadriliun Judul Alternatif Sejumlah massa membawa poster saat mengikuti unjuk rasa peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di depan Kompleks Kantor Gubernur Jateng dan DPRD Jateng, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (1/5/2026).\ ANTARA FOTO/Aji Styawan/hma

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Organisasi Perburuhan Internasional atau International Labour Organization (ILO) memperingatkan dunia tengah menghadapi ancaman serius terhadap pendapatan pekerja global. Jika harga minyak melonjak hingga 50 persen dibanding awal 2026, pendapatan riil buruh dunia diperkirakan menyusut sampai 3 triliun dolar AS atau sekitar Rp53 kuadriliun pada 2027.

Dalam laporan terbarunya yang dirilis Senin, ILO menilai konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak luas terhadap kondisi ekonomi global. Tekanan tersebut tidak hanya dirasakan perusahaan besar, tetapi juga langsung memukul lapangan kerja, jam kerja, hingga penghasilan pekerja di berbagai negara.

ILO menyebut terganggunya jalur transportasi internasional dan rantai pasok global menjadi salah satu pemicu utama perlambatan ekonomi dunia. Selain itu, sektor pariwisata yang melemah dan pembatasan migrasi tenaga kerja turut memperburuk situasi.

Bila harga minyak benar-benar melonjak hingga 50 persen, jam kerja global diprediksi turun sekitar 0,5 persen pada 2026 dan terus melemah menjadi 1,1 persen pada 2027. Kondisi tersebut diperkirakan setara dengan hilangnya sekitar 14 juta pekerjaan penuh waktu pada 2026 dan melonjak menjadi 38 juta pekerjaan pada tahun berikutnya.

Tidak hanya lapangan kerja yang terancam, daya beli pekerja juga diprediksi ikut merosot. ILO memperkirakan pendapatan riil pekerja dunia turun sekitar 1,1 persen atau setara 1,1 triliun dolar AS pada 2026. Angka itu diproyeksikan memburuk hingga mencapai penurunan 3 persen atau sekitar 3 triliun dolar AS pada 2027.

Sementara itu, tingkat pengangguran global diperkirakan naik secara bertahap. ILO memproyeksikan kenaikan pengangguran sebesar 0,1 persen pada tahun ini dan bertambah menjadi 0,5 persen pada 2027 dikutip Antara.

Laporan tersebut juga menyoroti melemahnya arus remitansi atau kiriman uang dari pekerja migran ke negara asal. Padahal, remitansi menjadi sumber penghasilan penting bagi banyak keluarga di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Beberapa negara bahkan mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan remitansi dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut ILO, kawasan yang diprediksi menerima dampak paling besar adalah Timur Tengah dan Asia-Pasifik. Para pekerja migran, terutama di negara-negara Teluk, disebut menjadi kelompok paling rentan akibat menurunnya permintaan tenaga kerja di sektor konstruksi, transportasi, dan perhotelan.

Situasi ini menjadi sinyal bahwa konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan, tetapi juga berpotensi memicu tekanan ekonomi global yang langsung dirasakan para pekerja di seluruh dunia.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru