Selasa, 08 September 2026

Iran Klaim Luncurkan Serangan Rudal ke Pasukan AS, Ketegangan di Teluk Meningkat


 Iran Klaim Luncurkan Serangan Rudal ke Pasukan AS, Ketegangan di Teluk Meningkat Para demonstran anti-perang menggelar protes di dekat Gedung Putih menentang serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, di Washington DC, Amerika Serikat pada 7 April 2026. ANTARA/Celal Güneş - Anadolu Agency/pri.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Angkatan bersenjata Iran meluncurkan serangan rudal terhadap pasukan Amerika Serikat (AS) sebagai balasan atas serangan AS terhadap sebuah kapal tanker, menurut laporan televisi nasional Iran yang mengutip sumber militer pada Kamis (7/5/2026).

Namun, laporan tersebut tidak menjelaskan secara rinci apakah kedua insiden itu saling berkaitan secara langsung.

Sebelumnya, pada Rabu (6/5/2026), Komando Pusat AS menyebut pasukannya telah melumpuhkan sebuah kapal tanker berbendera Iran di wilayah sekitar Teluk Oman.

Setelah insiden tersebut, media Iran melaporkan adanya aksi balasan yang disebut melibatkan tembakan terhadap pasukan AS di kawasan Selat Hormuz. Kapal-kapal militer AS diklaim sempat mundur setelah mengalami kerusakan, meski tidak disebutkan waktu pasti kejadian.

Situasi di Iran dilaporkan semakin tegang pada Kamis, ketika suara ledakan terdengar di wilayah barat Teheran. Kantor berita Mehr juga melaporkan bahwa sistem pertahanan udara di ibu kota Iran aktif merespons situasi tersebut.

Di sisi lain, laporan dari Fox News menyebutkan bahwa AS juga melancarkan serangan terhadap Pelabuhan Qeshm dan Kota Bandar Abbas, mengutip pejabat militer senior Amerika Serikat.

Meski demikian, pihak AS menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak dimaksudkan untuk memulai kembali perang terbuka.

Ketegangan antara kedua negara diketahui meningkat setelah operasi militer gabungan AS dan Israel pada 28 Februari yang menyebabkan kerusakan infrastruktur di Iran serta jatuhnya korban sipil.

Pada 7 April, kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata. Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan baru.

Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang masa gencatan senjata guna memberi waktu bagi Iran menyusun “proposal gabungan” dalam proses negosiasi.

Eskalasi konflik ini berdampak langsung pada jalur pelayaran global. Aktivitas di Selat Hormuz dilaporkan hampir berhenti total akibat meningkatnya ketegangan militer.

Selat strategis tersebut merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar internasional.

Gangguan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia di berbagai negara, menambah kekhawatiran terhadap stabilitas energi global.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru