Kasus Super Flu Muncul di Indonesia, Ini Penjelasan Lengkap Menkes  


  • Sabtu, 03 Januari 2026 | 06:30
  • | News
 Kasus Super Flu Muncul di Indonesia, Ini Penjelasan Lengkap Menkes    Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. ANTARA/HO-Humas Kemenkes

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa influenza A (H3N2) subclade K atau yang kerap disebut super flu bukanlah virus baru dan tidak berbahaya seperti COVID-19 maupun tuberkulosis (TBC).

Menurut Budi, virus tersebut sudah lama beredar dan memiliki karakteristik yang sama seperti flu pada umumnya. Karena itu, masyarakat diminta tidak panik berlebihan menyikapi kemunculan istilah super flu.

“Jadi nggak usah khawatir bahwa ini seperti COVID-19, mematikannya. Tidak. Ini adalah flu biasa, influenza H3N2,” ujar Budi saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (2/1/2026) seperti yang dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan, seperti flu musiman lainnya, influenza H3N2 bisa menyerang seseorang lebih dari satu kali. Di negara-negara dengan empat musim, peningkatan kasus biasanya terjadi saat musim dingin. Namun di Indonesia, lonjakan kasusnya cenderung tidak terlalu signifikan.

“Itu sebabnya di negara-negara tersebut ada vaksin influenza setiap tahun yang mereka suntikkan,” jelas Budi.

Meski tidak tergolong mematikan, Menkes tetap mengingatkan pentingnya menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat, seperti istirahat cukup dan rutin berolahraga.

“Kalau sistem imun kita bagus, tubuh kita bisa mengatasi sendiri. Tubuh ini luar biasa, sudah punya ‘tentara’ sendiri untuk melawan virus,” tambahnya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa vaksin influenza yang saat ini tersedia masih efektif untuk menurunkan risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat influenza A (H3N2).

Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, Kamis (1/1/2026) menyampaikan bahwa berdasarkan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan situasi epidemiologi terkini, subclade K tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan varian influenza lainnya.

“Gejalanya umumnya seperti flu musiman, yaitu demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” kata Widyawati.

Ia menambahkan bahwa pemerintah terus melakukan surveilans, pelaporan rutin, serta menyiapkan langkah kebijakan sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

Hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Kemenkes memastikan seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang sudah dikenal secara global dan terus dipantau melalui sistem surveilans WHO.

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru