Loading
Tujuh koleksi batik-batik naskah kuno diperagakan. (Foto-Foto: Istimewa)
YOGYAKARTA, ARAHKITA.COM - KGPAA Paku Alam X mengatakan bahwa batik Pakualaman dan buku yang diluncurkan terkait dengan pemeliharaan warisan budaya. Dan itu, tidak lepas dari pidatonya pada 7 Januari 2016 dalam posisinya sebagai pengemban kebudayaan.
Hal tersebut disampaikan GKBRAA Paku Alam dalam peluncuran buku “BATIK PAKUALAMAN – Antara Tradisi, Sastra dan Wastra” di Gedung Kepatihan Pakualaman, Yogyakarta, pada Kamis (4/7/2024).
Batik Pakualaman memiliki kekhususan yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah. Sekalipun termasuk dalam tradisi batik gagrag (model) Yogyakarta, Batik Pakualaman menjadi khas karena pernah bersentuhan dengan gagrag Surakarta. Sejak 2011, Batik Pakualaman mendapat pengayaan karena motif-motif baru yang bersumber dari naskah-naskah kuno koleksi Perpustakaan Widyapustaka Kadipaten Pakualaman.
Dalam peluncuran buku tersebut juga diperagakan tujuh batik naskah kuno yang telah dituangkan dalam media Batik. Ketujuh batik itu adalah:
Motif batik Sěstra Lukita ini diambil dari wědana rěnggan pada naskah Serat Rama, Arjunawijaya saha Kempalan Dongeng koleksi perpustakaan Pura Pakualaman. Nama batik “Sěstra Lukita” sesuai dengan nama rěrěnggan naskah yakni Lukita Papaning Sěstra.
Di dalam wědana rěnggan disebutkan 21 butir sěstradi ‘sari ajaran keutamaan’, dan 21 butir sikap yang harus dihindari. Rěnggan ini dilengkapi dengan gambar burung, yang dimaknai sebagai manusia yang mampu bergerak ke mana pun dan dapat bertutur dengan baik.
Atas prakarsa Gusti Kanjěng Běndara Raden Ayu Adipati Paku Alam, rěrěnggan dari naskah koleksi perpustakaan Pura Pakualaman ini diinterpretasikan dan dituangkan dalam wahana batik, dengan harapan butir-butir sěstradi dapat dikenal masyarakat luas.
Motif batik Indra Widagda terinspirasi dari rěnggan tentang Bathara Indra salah satu dewa dari delapan teladan dewa dalam Ajaran Asthabrata. Dalam Asthabrata versi Pakualaman, Dewa Indra adalah dewa ilmu pengetahuan.
Seorang pemimpin dituntut untuk cerdik cendekia dan menjadi tempat bertanya bagi rakyatnya. Ilmu pengetahuan digambarkan dalam gambar bulu angsa yang pada jaman dahulu menjadi pena/alat tulis, tertancap pada bola dunia, serta gambaran kitab sebagai lambang ilmu pengetahuan.
Batik Indra Widagda menjadi tema utama dalam Dhaup Ageng Bendara Pangeran Haryo Kusumo Kunto Nugroho, putra ke-2 Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam X.
Motif Yama Linapsuh terinspirasi dari renggan Serat Asthabrata tentang Batara Yama, salah satu dewa teladan tentang keadilan dan ketegasan dalam menegakkah hukum, yang digambarkan dalam motif batik tungku dan nyala api, lambang pembasmi ketidakadilan di bumi.
Menjadi tema utama untuk batik Dhaup Ageng Běndara Pangeran Haryo Kusuma Bimantoro putra pertama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam yang ke X, pada tahun 2019 . Varian Batik Surya Mulyarja Dhaup Ageng ini dikenakan pengantin dalam Pahargyan hari ke-2.
Makna tersirat motif parang dalam varian ini adalah ketegasan dalam melaksanakan tugas dengan meneladan Dewa Surya, yaitu dewa teladan yang selalu menjernihkan segala macam permasalahan seperti hadirnya matahari di setiap harinya.
Motif batik Bayu Krastala terinspirasi dari rěnggan Gada Lukitasari. Motif poleng melambangkan watak tegar, gigih, mantap, dan penuh semangat. Betara Bayu dalam Asthabrata versi Pakualaman digambarkan sebagai teladan akan sikap keteguhan hati seorang pemimpin, sehingga rakyat yang dipimpinnya akan tertib tidak sembarangan dalam bertingkah laku.
Motif Batik Wisnu Mamuja dilukiskan dengan senjata cakra dan trisula serta nyala api dari dupa yang mewakili identitas Dewa Wisnu sebagai seorang pemimpin dan pertapa. Seorang pemimpin ideal hendaknya memiliki watak asketis, untuk menjaga jarak dengan gemerlap kehidupan, sehingga batinnya suci dalam memahami hakikat ketentuan Yang Mahakuasa.
Motif batik Brama Sěmbada divisualisasikan dengan gambar tombak, bendera umbul-umbul dan lidah api. Semua ini menggambarkan teladan kepemimpinan Dewa Brama, yang dalam Serat Asthabrata Pakualaman menjadi teladan sikap keperwiraan yang tangguh dan gagah berani, yang menjadi bekal dalam menciptakan ketentraman.