Loading
Direktur Eksekutif Centre of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menyampaikan paparannya dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan CORE di Jakarta, Kamis (24/7/2025). (ANTARA/Shofi Ayudiana)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Ketegangan geopolitik yang memuncak antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela kini menjadi sorotan utama pasar global, termasuk dalam pergerakan investasi energi. Menurut Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, eskalasi konflik ini menunjukkan pentingnya Indonesia memperkuat strategi mitigasi risiko dan diversifikasi portofolio investasi energi — terutama di luar negeri.
Executive Director CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa dinamika terbaru memperlihatkan adanya disrupsi besar di sektor energi dunia. Kondisi politik yang tidak stabil dan tekanan geopolitik disebutnya membuat peluang investasi di Venezuela semakin tidak pasti dalam jangka menengah hingga panjang, sehingga Indonesia perlu mengantisipasi dampaknya dari sekarang.
“Kondisi ini merupakan disrupsi yang cukup besar sehingga Indonesia perlu memperkuat diversifikasi, tidak hanya tujuan ekspor, tetapi juga negara tujuan investasi,” ujar Faisal.
Meski dampaknya belum terasa secara langsung dalam jangka pendek, Faisal menilai potensi risiko jangka menengah sangat signifikan. Ketidakpastian geopolitik, terutama terkait konflik energi AS–Venezuela, bisa mempengaruhi stabilitas aset bagi investor termasuk Indonesia.
Sementara itu, Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), menilai konflik global ini memberi pelajaran penting bagi ketahanan energi nasional. Aset energi di kawasan konflik rentan menghadapi gangguan distribusi dan operasional, sehingga strategi proteksi yang matang sangat diperlukan.
Menurut Bhima, Indonesia mesti meninjau ulang alokasi investasi energi agar lebih tangguh terhadap risiko geopolitik. Salah satu langkah strategisnya adalah memperluas fokus investasi pada sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan air, yang dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dari wilayah berisiko tinggi.
“Penguatan investasi pada energi terbarukan seperti panel surya, tenaga angin, dan energi air dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko gangguan rantai pasok energi fosil di wilayah konflik,” tambah Bhima dikutip Antara.
Kondisi Venezuela sendiri masih menjadi titik panas dalam arena energi global. Baru-baru ini, pemerintah AS mengumumkan rencana mengalihkan puluhan juta barel minyak dari cadangan Venezuela ke pasar AS sebagai bagian dari kebijakan energi mereka, menyusul operasi militer yang semakin mempertegang relasi kedua negara. pbs.org + 1
Di sisi korporasi, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) — mayoritas pemegang saham di perusahaan energi Prancis Maurel & Prom (M&P) yang punya aset di Venezuela — menyatakan situasi tersebut belum berdampak langsung pada aset dan staf mereka. PIEP terus memantau perkembangan dan berkoordinasi dengan perwakilan Indonesia di Caracas sebagai bentuk kehati-hatian terhadap risiko bisnis.