Loading
General Motors Catat Kerugian US$7,1 Miliar. (Infobanknews/Ist)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - General Motors (GM) mengumumkan mencatat kerugian laba satu kali sebesar 7,1 miliar dolar AS dalam laporan keuangan kuartalan mereka. Kerugian tersebut sebagian besar disebabkan oleh penarikan dan penyesuaian investasi kendaraan listrik menyusul perubahan kebijakan Amerika Serikat.
Dalam pengajuan sekuritas yang disampaikan pada Kamis, GM menyebutkan bahwa hasil keuangan kuartal keempat akan terbebani biaya sekitar 6 miliar dolar AS, terkait dengan pembalikan investasi kendaraan listrik. Selain itu, sekitar 1,1 miliar dolar AS berasal dari biaya restrukturisasi operasi perusahaan di China serta tambahan biaya hukum.
Langkah ini menyusul penurunan nilai aset sebesar 1,6 miliar dolar AS yang telah dibukukan GM pada kuartal ketiga. Penurunan tersebut juga berkaitan dengan perubahan strategi kendaraan listrik setelah kebijakan AS mengalami pergeseran tajam di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Trump, dilansir The Guardian, dikenal menentang kebijakan penanganan krisis iklim dan telah membatalkan sejumlah inisiatif utama yang sebelumnya mendorong pengembangan kendaraan listrik pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden. Perubahan kebijakan tersebut berdampak langsung pada prospek industri otomotif, khususnya sektor kendaraan listrik.
Peringatan kerugian GM muncul tidak lama setelah Ford Motor Company mengumumkan pada 15 Desember bahwa mereka akan menghapus nilai aset sekitar 19,5 miliar dolar AS dalam beberapa tahun ke depan akibat perubahan lanskap kebijakan dan permintaan pasar.
Selama masa pemerintahan Biden, CEO GM Mary Barra diketahui berinvestasi agresif dalam pengembangan kendaraan listrik. Pada 2021, GM bahkan menargetkan seluruh mobil dan truk barunya bebas emisi pada 2035.
Meski demikian, Barra menegaskan bahwa kendaraan listrik tetap menjadi prioritas jangka panjang perusahaan. Namun, GM kini menyesuaikan strategi investasinya seiring perubahan permintaan konsumen.
Baca juga:
TBS Energi Kucurkan Rp2,56 Triliun untuk Perluas Bisnis ‘Waste to Energy‘ di Asia TenggaraDalam pengajuan tersebut, GM menyebutkan bahwa dihentikannya sejumlah insentif pajak bagi konsumen serta pelonggaran aturan emisi membuat permintaan kendaraan listrik di Amerika Utara mulai melambat sepanjang 2025. Kondisi ini mendorong perusahaan untuk secara proaktif mengurangi kapasitas produksi EV.
Selain dampak dari sektor kendaraan listrik, GM juga mencatat biaya non-EV sebesar 1,1 miliar dolar AS. Biaya tersebut terkait dengan restrukturisasi usaha patungan di China, SAIC General Motors Corporate Limited, serta tambahan biaya hukum yang harus ditanggung perusahaan.