Jumat, 16 Januari 2026

IHSG Melaju Menuju Supercycle 2026 di Tengah Tekanan Independensi The Fed


 IHSG Melaju Menuju Supercycle 2026 di Tengah Tekanan Independensi The Fed Ilustrasi - IHSG menguat ke posisi 9.072 di awal 2026. (Net)

​JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di saat bursa global sedang "senewen" memantau drama bank sentral Amerika Serikat (AS), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan taji. Pada pembukaan perdagangan Kamis (15/1/2026), IHSG melonjak 39,71 poin (0,44%) ke level psikologis 9.072,29.

​Kenaikan ini bukan sekadar pantulan teknis biasa. Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menilai Indonesia sedang memasuki gerbang fase supercycle. Ini adalah pergeseran rezim investasi yang diprediksi akan menjadi bahan bakar utama bursa domestik sepanjang tahun 2026.

​Drama The Fed dan Bayang-bayang Trump

Kontras dengan optimisme dalam negeri, Wall Street justru sedang dibayangi awan mendung. Investor global cemas setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menyerang Ketua The Fed, Jerome Powell, dan menuntut reformasi suku bunga kartu kredit. Langkah ini dinilai mengancam independensi bank sentral paling berpengaruh di dunia tersebut.

​Beban pasar makin berat setelah data Producer Price Index (PPI) AS menunjukkan tekanan inflasi yang masih tinggi. Skenarionya cukup pahit: The Fed mungkin terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi di tengah ekonomi yang mulai melambat—sebuah kondisi yang sangat dihindari pelaku pasar saham.

Indonesia Jadi "Safe Haven" Baru?

Menariknya, ketidakpastian global akibat tensi Iran-AS hingga isu Greenland justru memposisikan Indonesia sebagai destinasi investasi yang menarik. Sebagai negara kaya komoditas, Indonesia diuntungkan oleh lonjakan harga energi dan logam global.

​Fenomena unik pun terjadi: yield Surat Berharga Negara (SBN) naik berbarengan dengan IHSG. Ini menjadi sinyal kuat terjadinya rotasi besar-besaran dari pasar obligasi ke pasar saham. Pola ini biasanya menjadi ciri khas awal dari bull market berbasis komoditas. ​

Sementara itu, bursa regional bergerak bervariasi. Nikkei Jepang dan Shanghai memerah, namun Hang Seng masih mampu bertahan di zona hijau bersama IHSG.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru