Loading
Ilustrasi - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik kepada Ketua Federal Reserve Jerome Powell (kiri) pada Selasa (22/7/2025). Pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menghentikan pertimbangan mengganti Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. ANTARA/HO-Andolu/pri.
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Nilai tukar rupiah memulai perdagangan awal pekan dengan pelemahan tipis. Pada pembukaan pasar di Jakarta, Senin (12/1/2026), rupiah turun 28 poin atau 0,17% ke level Rp16.847 per dolar AS, dibanding posisi sebelumnya Rp16.819 per dolar AS.
Meski dibuka melemah, rupiah dinilai masih memiliki peluang untuk berbalik menguat. Salah satu pemicunya datang dari sentimen politik dan hukum di Amerika Serikat yang ikut menggoyang kepercayaan pasar terhadap dolar.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah dapat menguat seiring turunnya indeks dolar AS, setelah pemerintahan Donald Trump membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell.
“Trump membuka penyelidikan kriminal atas Powell. Ini membuat indeks dolar AS turun cukup tajam, sehingga rupiah berpotensi menguat,” ujar Lukman kepada Antara di Jakarta, Senin (12/1/2026).
Powell Diselidiki terkait Renovasi Kantor The FedMengutip laporan Xinhua, Federal Reserve mengonfirmasi pada Minggu malam (11/1/2026) bahwa jaksa federal AS tengah menyelidiki Jerome Powell terkait proyek renovasi kantor pusat bank sentral AS yang nilainya mencapai miliaran dolar.
Dalam pernyataan publik yang dipublikasikan di situs resmi Federal Reserve, Powell menjelaskan bahwa Departemen Kehakiman AS pada Jumat (9/1) telah mengirimkan surat panggilan pengadilan kepada The Fed.
Powell menyebut langkah itu disertai ancaman dakwaan pidana yang berkaitan dengan kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat pada Juni lalu. Salah satu bagian kesaksian tersebut menyinggung proyek renovasi multi-tahun terhadap gedung-gedung Federal Reserve yang termasuk bangunan bersejarah.
Pasar Bereaksi, Tapi Rupiah Masih Bisa “Dua Arah”
Menurut Lukman, situasi ini sensitif karena menyentuh isu yang sangat besar: independensi bank sentral. Jika pasar menilai ada tekanan politik terhadap The Fed, maka sentimen risiko bisa berubah cepat—dan rupiah berpotensi mengambil keuntungan lewat pelemahan dolar.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa reaksi pasar bisa saja hanya sementara. Artinya, rupiah tetap berpeluang bergerak naik-turun dengan volatilitas tinggi.
“Tindakan ini dianggap intervensi atas independensi bank sentral The Fed. Saat ini, reaksi pasar cukup besar, namun bisa juga hanya sesaat, rupiah bisa volatile kedua arah,” katanya.
Data Ekonomi AS Masih Kuat
Di luar isu penyelidikan Powell, faktor lain yang tetap membayangi pergerakan rupiah adalah kekuatan data ekonomi AS. Sejumlah indikator menunjukkan ekonomi AS masih cukup solid, yang bisa menahan pelemahan dolar lebih lanjut.
Tercatat, pasar tenaga kerja AS menambah 50 ribu lapangan kerja, lebih rendah dari ekspektasi 60 ribu. Namun pada saat yang sama, tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,4% pada Desember 2025, lebih baik dari perkiraan 4,5%.
Indikator lain juga menguat. Data izin pembangunan perumahan naik menjadi 1,41 juta, lebih tinggi dari estimasi 1,35 juta. Sementara itu, indeks kepercayaan konsumen mencapai 54, melampaui proyeksi 53,5.
Dengan kondisi tersebut, arah rupiah diperkirakan akan ditentukan oleh kombinasi dua faktor besar: gejolak sentimen politik AS terhadap The Fed dan kekuatan fundamental ekonomi Amerika Serikat. Peluang penguatan ada, tetapi ruang volatilitas juga masih terbuka lebar.