Loading
Tangkapan layar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan materi konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026 secara daring di Jakarta, Rabu (21/1/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit perbankan sepanjang 2025 tumbuh 9,69 persen (year on year/yoy). Angka ini dinilai masih aman karena berada dalam rentang proyeksi BI, yakni 8–11 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, pertumbuhan kredit ini tak lepas dari kombinasi kebijakan moneter yang lebih longgar dan dukungan insentif likuiditas untuk perbankan. “Capaian tersebut sejalan dengan upaya BI untuk menurunkan suku bunga dan memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM),” ujar Perry saat konferensi pers daring di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Kredit Investasi Melesat, Modal Kerja Tumbuh Lebih Pelan
Jika dilihat dari jenis penggunaannya, kredit yang mengalir ke sektor produktif menunjukkan sinyal kuat.
Kondisi ini mengisyaratkan bahwa geliat investasi cukup agresif, sementara kebutuhan modal kerja bergerak lebih hati-hati.
BI: Potensi Ekspansi Masih Besar, Dana Kredit Belum Banyak Dipakai
Dari sisi permintaan, BI menilai dunia usaha masih punya ruang besar untuk memperluas bisnis melalui pembiayaan bank. Salah satu indikatornya terlihat pada besarnya pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang masih menumpuk.
Pada Desember 2025, undisbursed loan tercatat mencapai Rp2.439,2 triliun, setara 22,12 persen dari total plafon kredit yang tersedia.Dengan kata lain, fasilitas kredit sebenarnya sudah disiapkan, tinggal menunggu momentum pelaku usaha untuk memanfaatkannya lebih agresif demi ekspansi.
Likuiditas Bank Dinilai Kuat, DPK Tumbuh Tinggi
Sementara dari sisi penawaran, BI memastikan bank masih punya kapasitas besar untuk terus menyalurkan kredit. Likuiditas perbankan tetap memadai dan didukung pertumbuhan dana masyarakat yang kuat.
BI mencatat:
Tak hanya itu, minat bank dalam menyalurkan kredit juga terus membaik. Hal ini terlihat dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar.Namun, BI memberi catatan: pelonggaran belum sepenuhnya merata. Beberapa segmen seperti kredit konsumsi dan UMKM masih relatif ketat karena risiko kreditnya masih dinilai tinggi.
Proyeksi Kredit 2026: Tetap Positif
BI memprakirakan laju kredit pada 2026 tetap stabil dengan kisaran pertumbuhan 8–12 persen. Perry menegaskan, BI akan melanjutkan koordinasi dengan pemerintah serta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memperbaiki struktur suku bunga dan menjaga laju pembiayaan tetap sehat.
Sistem Keuangan Dinilai Tetap Tangguh
BI juga menilai kondisi sistem keuangan nasional tetap kuat. Likuiditas memadai, permodalan tinggi, dan risiko kredit terkendali.
Untuk indikator perbankan:
CAR (rasio kecukupan modal) mencapai 26,05 persen pada November 2025
NPL (kredit bermasalah) tetap rendah: 2,21 persen (bruto) dan 0,86 persen (neto)
Hasil stress test BI pun menunjukkan perbankan masih cukup tangguh menghadapi berbagai skenario risiko, ditopang kemampuan bayar serta profitabilitas korporasi yang terjaga.
Ke depan, BI menegaskan akan terus memperkuat sinergi kebijakan bersama KSSK guna memitigasi risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan.