Kamis, 10 September 2026

Gubernur BI Pastikan Stok Valas Aman di Tengah Lonjakan Permintaan April-Mei 2026


 Gubernur BI Pastikan Stok Valas Aman di Tengah Lonjakan Permintaan April-Mei 2026 Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan materi dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Kamis (7/5/2026). ANTARA/Putu Indah Savitri

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Bank Indonesia (BI) memastikan ketersediaan valuta asing (valas) tetap aman meski terjadi lonjakan permintaan pada periode April hingga Mei 2026. Kenaikan kebutuhan valas tersebut dipicu faktor musiman, mulai dari aktivitas ibadah umrah dan haji hingga kebutuhan korporasi untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, peningkatan permintaan valas pada periode ini merupakan pola yang biasa terjadi setiap tahun.

“Kebetulan secara musiman, April dan Mei itu permintaan valasnya tinggi,” ujar Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Meski nilai tukar rupiah masih mengalami tekanan, Perry menegaskan bahwa BI terus bergerak aktif menjaga stabilitas mata uang nasional. Bank sentral, kata dia, melakukan koordinasi intensif bersama pemerintah untuk memastikan kondisi pasar tetap terkendali.

Menurut Perry, pelemahan rupiah saat ini bukan hanya dialami Indonesia. Banyak mata uang dunia juga mengalami tekanan akibat kondisi global yang belum stabil.

“Seluruh mata uang dunia itu melemah. Kita jaga tingkat pelemahannya itu tidak terlalu tinggi dengan all out,” katanya.

Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi berbagai faktor eksternal, termasuk tensi geopolitik di Timur Tengah yang masih memanas serta kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi membuat investor global cenderung menarik dana dari negara berkembang atau emerging market dan menempatkannya pada aset berbasis dolar AS.

Meski demikian, Perry menilai nilai tukar rupiah saat ini sebenarnya masih berada di bawah nilai fundamental ekonominya atau undervalued. Ia juga memastikan kondisi ekonomi Indonesia tetap solid.

Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus sebesar 5,5 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Maret 2026.

Surplus tersebut terutama didorong perdagangan nonmigas, meskipun neraca perdagangan migas masih mengalami defisit.

Dari sisi ketahanan eksternal, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 mencapai 148,2 miliar dolar AS. Angka ini setara pembiayaan enam bulan impor dan jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Tak hanya itu, aliran modal asing juga mulai kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Hingga 30 April 2026, tercatat net inflows atau aliran modal asing masuk sebesar 3,3 miliar dolar AS, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) dikutip Antara.

Masuknya dana asing tersebut didorong meningkatnya imbal hasil pada instrumen keuangan domestik yang dinilai masih menarik bagi investor global.

Sebelumnya, pada triwulan I 2026, investasi portofolio asing sempat mengalami net outflows sebesar 1,7 miliar dolar AS akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.

Namun dengan kondisi cadangan devisa yang kuat, surplus perdagangan yang terjaga, serta arus modal asing yang mulai kembali masuk, BI optimistis stabilitas ekonomi nasional tetap dapat dipertahankan di tengah dinamika global yang masih penuh tekanan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru