Kenaikan Suku Bunga Global Tak Surutkan Daya Tarik Saham Asia, AI Jadi Motor Pertumbuhan Baru. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Potensi kenaikan suku bunga global diperkirakan tidak akan langsung mengurangi daya tarik pasar saham Asia di mata investor. Di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter dunia, kawasan Asia justru dinilai memiliki fondasi pertumbuhan yang semakin kuat berkat perkembangan teknologi dan meningkatnya laba perusahaan.
Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Caroline Rusli, menjelaskan bahwa penggerak utama pasar saham Asia saat ini telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya sentimen pasar banyak bergantung pada kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed, kini fokus investor mulai bergeser ke kemampuan perusahaan menghasilkan pertumbuhan laba yang nyata.
Menurut Caroline, perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), menjadi salah satu faktor yang mendorong optimisme terhadap prospek pasar Asia dalam jangka menengah hingga panjang.
Baca juga:
Manulife: Saham Asia Masih Menjanjikan di Semester II 2026, AI dan Semikonduktor Jadi Andalan"Kenaikan suku bunga global memang dapat memengaruhi valuasi pasar saham. Namun pada akhirnya, perusahaan dan pasar yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba yang kuat akan tetap menarik bagi investor," ujar Caroline dalam keterangannya di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Ia menambahkan, fenomena tersebut terlihat dari sejumlah saham di kawasan Asia yang tetap mencatatkan kenaikan meskipun kondisi makroekonomi global belum sepenuhnya mendukung.
Baca juga:
BI Antisipasi Era Suku Bunga Tinggi Global, Fokus Jaga Rupiah dan Stabilitas Ekonomi IndonesiaAI dan Belanja Teknologi Jadi Penopang
Optimisme terhadap pasar Asia juga didukung oleh meningkatnya belanja modal perusahaan-perusahaan teknologi global. Investasi besar yang terus mengalir ke sektor teknologi diperkirakan akan memberikan dampak berantai bagi berbagai industri di Asia.
Manfaat tersebut terutama akan dirasakan oleh sektor semikonduktor, komponen elektronik, material berteknologi tinggi, hingga infrastruktur energi yang menjadi bagian penting dari rantai pasok industri AI global.
Dengan posisi Asia sebagai salah satu pusat manufaktur dan produksi teknologi dunia, kawasan ini dinilai berada dalam posisi strategis untuk menikmati pertumbuhan yang berasal dari transformasi digital dan perkembangan AI.
Volatilitas Tetap Perlu Diwaspadai
Meski prospeknya positif, Caroline mengingatkan bahwa investor tetap perlu mencermati potensi volatilitas pasar yang masih dapat terjadi akibat perubahan sentimen global.
Data selama 12 bulan terakhir menunjukkan arus dana asing ke pasar berkembang Asia mengalami fluktuasi cukup signifikan. Pada akhir 2025, aliran dana asing sempat mencapai sekitar 229 miliar dolar AS, kemudian turun menjadi sekitar 64 miliar dolar AS sebelum kembali pulih ke kisaran 113 miliar dolar AS.
Menariknya, meskipun arus modal asing belum sepenuhnya kembali ke level tertinggi sebelumnya, pasar saham Asia masih mampu menunjukkan performa yang relatif kuat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan pasar tidak lagi semata-mata bergantung pada likuiditas global, tetapi mulai didukung oleh fundamental perusahaan yang lebih solid.
"Pasar kini semakin ditopang oleh narasi pertumbuhan laba dan fundamental bisnis yang kuat, bukan hanya oleh derasnya aliran dana asing," kata Caroline.
Asia Pasifik Masih Menarik untuk Diversifikasi Investasi
Caroline juga menilai strategi investasi berbasis Asia Pasifik masih relevan bagi investor yang ingin mendapatkan eksposur terhadap berbagai sumber pertumbuhan ekonomi dunia dikutip Antara.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan arah kebijakan moneter global, investor dituntut untuk lebih selektif dalam memilih aset investasi. Dalam situasi tersebut, Asia dinilai memiliki keunggulan karena menawarkan katalis pertumbuhan yang lebih jelas dibandingkan sejumlah kawasan lain.
Selain didorong oleh perkembangan AI, kekuatan sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung ekonomi berbagai negara Asia turut memberikan prospek pertumbuhan laba yang lebih konkret.
Dengan kombinasi inovasi teknologi, kapasitas produksi yang besar, serta peluang pertumbuhan ekonomi yang masih terbuka lebar, kawasan Asia dipandang tetap menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik di tengah dinamika pasar global.