Selasa, 27 Januari 2026

Obituari: Selamat Jalan Michel Karatem, Komposer Aru yang Mendunia


 Obituari: Selamat Jalan Michel Karatem, Komposer Aru yang Mendunia Michel Karatem, Komposer Aru yang Mendunia. (Istimewa)

Oleh: Karel Ridolof Labok (Karibo)

BERAWAL ketika Presiden Soekarno, berkunjung ke Kepulauan Aru, dimasa Trikora, pertempuran merebut Irian Barat. Kedatangan Soekarno di Kota Dobo, untuk mengecek langsung situasi di Pulau terdekat dengan Irian Barat. Memang Pulau Wamar, tempat dimana Kota Dobo ada sekarang, dijadikan pusat kendali operasi terdekat.

Kedatangan Presiden Soekarno yang diarak masyarakat dengan berjalan kaki itu, punya makna tersendiri buat sang Komposer, Michel Karatem, karena dalam Upacara Akbar yang dihadiri seluruh murid Sekolah Rakyat (SR) se-Kepulauan Aru itu, dirinya dipercaya sebagai Dirgen Paduan Suara Anak Sekolah yang menyanyikan lagu-lagu mars perjuangan di Lapangan Wamar (Lokasi SD Negeri 3 Dobo, di kawasan Dok, Kelurahan Siwalima, saat ini).

Terhadap suasana upacara itu sendiri, Ibu Penulis, Mama Jubelina Boger Labok, punya ceritanya yang ia tutur dengan bangga kepada kami anak-anaknya.

"Waktu itu, mama masih SR. Katong Samua Dapa perintah datang Dobo. Ana skola paki pakiang putih, tapi kaki kosong, pegang bendera mera puti. Presiden Sukarno dia bagus deng dia pung pakiang, baru om Kres Labok yang jadi komandan upacara karna dia pu suara basar."

Artinya, saat itu, mama masih duduk di Sekolah Rakya (SR). Kami semua diperintah datang ke kota Dobo. Anak Sekolah semuanya pakai pakaian putih-putih, tapi tanpa memakai alas kaki, pegang bendera merah putih. Presiden Soekarno terlihat gagah dengan pakaian yang dikenakannya, sementara om Kris Labok, yang jadi komandan upacara karena suaranya kencang,"tutur ibu Jubelina dengan semangat, dalam bahasa lokal Aru.

Soekarno yang suka seni, rupanya langsung melihat kemampuan dan bakat seni pada sang dirigen Michel. Selesai upacara, Soekarno langsung menyampaikan rasa kagumnya terhadap kemampuan Michel, dan mengundang Michel ikut berangkat ke Jakarta.

Michel Karatem, lantas berangkat ke Jakarta, menuruti permintaan sang presiden. Karier Pria asal Desa Ngaibor, Kecamatan Aru Selatan, Kepulauan Aru, Maluku, ini memperoleh Kesempatan untuk digali dan dikembangkan.

Tak sia-siakan kesempatan, pengetahuan dan karier musik pun mulai digali Michel melalui berbagai kesempatan. Dia sempat belajar musik kolintang dan musik irama khas Sunda, Jawa Barat.

Hasil dari belajar musik irama khas Sunda ini, Michel menciptakan lagu gerejawi dengan senandung melayu sunda, dan menghantarkan Michel dikenal oleh ahli musik dari Philipina. Sang Profesor asal Philipina itu kemudian yang mengundang Michel untuk menjadi Dosen Musik di Philipina. Lagu versi Sunda itu pun digunakan sebagai lagu gerejawi resmi di gereja-gereja Philipina.

Selain Philipina, lagu-lagu ciptaan Michael Karatem, banyak menghiasi lembaran Kidung Jemaat, dan juga digunakan di gereja-gereja Tiongkok, Korea, Eropa, dan Amerika Serikat. Tak heran Michel dianggap salah satu anak emas Soekarno untuk urusan musik, yang kemudian menjadi batu sandungan bagi Michel dan karier musiknya.

Oleh rezim Orde Baru, Michel menjadi salah satu figur yang dilibas terkait kasus Gestapu, dan kepergian Michel ke luar negeri, termasuk untuk mengajar musik di Philipina pun, harus dicekal. Akhirnya, sang Komposer jujur itu, ikut ke Pulau Buru, dibui bersama para tahanan politik lainnya, hingga kemudian dibebaskan setelah Orde Baru tumbang.

Selepas jadi Tapol di Pulau Buruh, kini sang Komposer telah aktif kembali untuk mengajar di beberapa perguruan tinggi di Jakarta, Salatiga, dan beberapa kota besar lainnya.

Jujurnya Michel

news_161_1462005406Michel memang orang yang jujur. Presiden Soekarno, pernah menyuruhnya membeli sesuatu ke pasar, Michel memilih naik becak, dan sepulangnya dari pasar, Michel bergegas kembalikan uang sisa belanja ke Soekarno. Walaupun Soekarno telah berkeras untuk tidak mau menerima uang kembalian itu, tokh, Michel telah pamit pergi, meninggalkan sang Presiden dengan uang sisa belanjaan itu.

Sederhana Sebagai seniman yang cukup dikenal, Michel juga memiliki fans berat. Para fansnya ini, biasanya akan memburu Michel untuk menandatangani Kidung Jemaat, atau buku Nyanyian Gerejawi lainnya, dimana ada lagu ciptaan Michel.

Saya menjadi saksi sendiri ketika sang komposer dikerubuti para fans dari Kota Salatiga dan Kota Semarang, untuk mendapatkan tandatangan. Karena punya fans, Michel pernah ditawari sebuah mobil oleh salah satu fansnya.

Michel sukses dalam hal menolak pemberian tersebut dengan cara yang sangat halus. Walaupun anak lelaki tertua Michel telah memaksa ayahnya untuk menerima mobil itu, Michel tidak bergeming dan tetap menolak pemberian mobil dari sang fans fanatiknya.

Michel telah memilih jalan kaki sebagai jalan hidupnya dan membuat dia bugar di usia 80 tahun, suatu usia yang tidak banyak diperoleh Generasi kini yang malas jalan kaki dan hobinya berkendara.

Michel, adalah panutan.... Salam dari Jar.

Selamat jalan Om Michel, karyamu akan selalu berkumandang dalam pujian dan sembah bagi kemuliaan Allah.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Feature Terbaru