Bhikku, Anjing Jalanan, dan Ujian Kerukunan: Kisah “Walk for Peace” di Amerika


 Bhikku, Anjing Jalanan, dan Ujian Kerukunan: Kisah “Walk for Peace” di Amerika Ilustrasi - Aloka yang setia mendampingi 19 bhikku menempuh perjalanan “Walk for Peace” dari Fort Worth menuju ke Washington DC. (Foto: Istimewa)

GLOBAL HARMONY | VOICES OF PEACE

Oleh: Jaya Suprana

Budayawan dan penggagas Kelirumologi

AMERIKA SERIKAT selama ini dipuja sebagai lambang demokrasi modern. Negara ini ikut mengafirmasi nilai-nilai Hak Asasi Manusia, termasuk kebebasan beragama. Namun demokrasi kadang menyimpan ironi: di negara yang menjunjung kebebasan, justru kebebasan itu pula yang dapat disalahgunakan untuk memukul keyakinan orang lain.

Di tengah ironi itulah muncul kisah unik yang belakangan menghangatkan jagat maya: perjalanan “Walk for Peace”, sebuah napak tilas damai yang ditempuh 19 bhikku dari Fort Worth menuju Washington D.C.—sekitar ribuan kilometer jarak yang ditempuh dengan kaki, doa, dan kesabaran. Yang membuat kisah ini semakin menyentuh adalah kehadiran seekor anjing jalanan asal Kolkata bernama Aloka, yang setia mendampingi perjalanan panjang itu.

Perjalanan damai yang secara moral seharusnya disambut hangat, ternyata tidak selalu diterima dengan pelukan. Di salah satu wilayah dalam perjalanan mereka di South Carolina, rombongan ini setidaknya mengalami penghadangan. Sebagian penghadang mengatasnamakan iman Kristen, meneriakkan tuduhan bahwa para bhikku membawa ajaran sesat. Mereka tak hanya menolak, tetapi juga melontarkan kutukan: “kalian pasti masuk neraka.”

Di titik ini, persoalan bukan lagi sekadar beda keyakinan. Ini menyangkut satu hal paling esensial: kerelaan memberi ruang hidup bagi orang lain. Karena ketika iman berubah menjadi alat untuk meniadakan orang lain, maka agama kehilangan wajah kasihnya.

Dengan tenang para bhikku menjelaskan maksud kedatangan mereka: bukan misi penyebaran agama, bukan pula upaya mengusik iman siapa pun. Mereka menempuh perjalanan panjang hanya untuk membawa pesan damai, welas asih, dan cinta kasih. Dalam Buddhisme, cinta kasih dikenal sebagai metta—nilai yang sesungguhnya memiliki titik temu dengan ajaran kasih dalam tradisi Kristen.

Menariknya, di tengah suasana panas itu, Aloka tampil bak aktor yang tak direncanakan dalam naskah dunia. Ia menggonggong ke arah para penghadang, seolah ikut “berdialog” dalam bahasanya sendiri: bahasa naluri yang jujur, tanpa agenda. Pada momen itu, saya justru melihat simbol paling kuat: ketika manusia sibuk menjustifikasi kebencian atas nama Tuhan, seekor anjing jalanan malah “mengabarkan” kewarasan melalui kesetiaan dan spontanitas.

Lebih menarik lagi, kisah ini tidak berakhir dalam gelap. Setelah penghadangan terjadi, rombongan bhikku justru disambut hangat oleh jemaat gereja dari sekte yang berbeda. Mereka dipersilakan untuk bermalam dan diberi makan-minum. Ini menunjukkan bahwa satu kelompok yang marah bukanlah representasi keseluruhan umat. Ada kelompok-kelompok beragama yang tetap memelihara iman sekaligus menjaga kemanusiaan.

Indonesia dan Tradisi Damai yang Lebih Membumi

Dari kisah di Amerika itu, saya teringat Indonesia.

Kita punya tradisi tudong (thudong): perjalanan kaki para bhikku menuju Borobudur untuk Waisak, yang saban tahun mengundang perhatian publik. Di Indonesia, peristiwa seperti ini cenderung diterima sebagai bagian dari keragaman sosial, bukan ancaman. Bahkan ketika di suatu wilayah tidak tersedia vihara, para bhikku sering dipersilakan menginap di masjid atau gereja, disambut secara manusiawi oleh masyarakat lintas iman.

Di sini saya berani berkata: dalam hal kerukunan, Indonesia kerap tampil lebih matang dibanding negara yang sering menggurui demokrasi. Kerukunan tidak lahir dari pidato, melainkan dari kebiasaan sehari-hari. Dari cara kita menyapa, memberi ruang, dan merawat hormat kepada yang berbeda. Indonesia punya modal sosial yang besar: gotong royong, budaya santun, dan tradisi hidup berdampingan. Kita tentu belum sempurna, tetapi kita memiliki fondasi nilai yang kuat.

Ketika Politik Memanaskan Prasangka

Toleransi tidak hidup di ruang hampa. Ia dipengaruhi suhu sosial-politik. Amerika belakangan menjadi sorotan dunia karena langkah geopolitik yang memicu perdebatan internasional, termasuk klaim penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya dalam operasi militer di Caracas pada awal Januari 2026. 

Saya tidak sedang membenarkan prasangka warga yang menuduh rombongan bhikku pembawa “ajaran sesat”. Namun saya memahami bahwa ketika sebuah negara berada dalam suasana politik yang tegang, kecurigaan sosial mudah menyala. Dalam masyarakat yang diliputi ketakutan, segala hal yang “asing” rentan dijadikan sasaran.

Karena itu, pesan damai para bhikku menjadi semakin penting. Dunia hari ini terlalu mudah panas: oleh propaganda, oleh polarisasi identitas, oleh ego kelompok. Di tengah hiruk-pikuk itu, kadang yang kita butuhkan bukan argumen keras, melainkan ketekunan menempuh jalan damai—langkah demi langkah.

Aloka Mengingatkan Kita tentang Arti Damai

Saya justru menemukan kebijaksanaan yang sunyi pada Aloka.

Ia tidak berpidato. Ia tidak membawa spanduk. Ia tidak menuding siapa masuk neraka, siapa masuk surga. Ia hanya setia berjalan—bersama para peziarah damai. Dan ketika konflik muncul, ia tidak mengutuk; ia hanya menggonggong. Mungkin itu cara alam mengatakan: “cukup.”

Damai seharusnya tidak serumit itu. Damai sering kali sesederhana mengizinkan orang lain hidup dengan keyakinannya, tanpa dihina, tanpa dipaksa, tanpa ditakuti. Jika anjing jalanan dari Kolkata saja mampu menyimbolkan persaudaraan lintas manusia, mengapa kita yang merasa beradab masih gemar memenjarakan kasih dalam pagar kebencian?

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Global Harmony Terbaru