Loading
Donald Trump, kanan, memberi Nicolás Maduro ultimatum pada akhir November untuk melepaskan kekuasaan, menawarkannya jalan aman untuk keluar dari Venezuela. (Komposit: Getty Images/The Guardian)
JAKARTA, ARAHKITA.COM — Dunia internasional dikejutkan oleh operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Dalam sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah dibawa keluar dari Venezuela dan akan diadili di New York atas tuduhan keterkaitan dengan terorisme narkoba.
Pengumuman itu disampaikan langsung oleh Presiden Donald Trump setelah serangkaian serangan udara mengguncang Caracas pada Jumat dini hari. Operasi kilat tersebut disebut sebagai eskalasi paling signifikan keterlibatan militer AS di Amerika Latin sejak invasi Panama 1989.
Operasi Kilat yang Mengguncang Dunia
Dalam hitungan jam, ledakan terdengar di berbagai titik ibu kota Venezuela. Tak lama berselang, Trump mengunggah pernyataan di platform Truth Social, disertai foto Maduro di atas kapal perang USS Iwo Jima. Gedung Putih kemudian merilis video yang memperlihatkan Maduro diborgol dan dikawal aparat Badan Penegakan Narkoba AS (DEA).
Jaksa Agung AS Pam Bondi menyatakan bahwa dakwaan baru telah diterbitkan, menuding Maduro sebagai aktor utama jaringan narkotika internasional yang selama bertahun-tahun disebut Washington mengancam stabilitas kawasan.
Tekanan Panjang yang Berujung Penangkapan
Penangkapan ini bukan peristiwa spontan. Sejak Trump memulai periode keduanya di Gedung Putih, Venezuela menjadi sasaran utama kebijakan “tekanan maksimum”. Armada laut AS dikerahkan di perairan Karibia, kapal tanker Venezuela disita, dan serangan udara terhadap target yang diklaim sebagai jaringan perdagangan narkoba terus meningkat.
Kelompok hak asasi manusia melaporkan ratusan korban jiwa akibat operasi tersebut, memicu kecaman global dan tudingan potensi kejahatan perang. Namun bagi Trump, langkah ini disebut sebagai “puncak kemenangan” atas rezim yang selama ini ia anggap ilegal dikutip dan diolah dari The Guardian.
Siapa yang Mengendalikan Venezuela Sekarang?
Meski Maduro ditangkap, kendali penuh atas Venezuela belum sepenuhnya berpindah tangan. Mahkamah Agung negara itu menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai presiden sementara. Trump mengklaim Rodríguez telah menyatakan kesediaan bekerja sama dengan Washington, meski pernyataan itu dibantah secara implisit oleh pejabat di Caracas.
Militer Venezuela sendiri masih berada di barak-barak utama dan menyatakan loyalitas pada negara, bukan pada intervensi asing. Situasi ini menciptakan ketidakpastian: apakah Venezuela menuju transisi politik, atau justru babak baru konflik berkepanjangan?
Akar Panjang Permusuhan AS–Venezuela
Hubungan kedua negara memburuk sejak era Presiden Hugo Chávez pada 1999. Sikap anti-imperialis, nasionalisasi industri, serta kedekatan Caracas dengan Kuba dan Iran menjadikan Venezuela musuh ideologis Washington. Ketegangan meningkat di era Maduro, terutama setelah AS menolak mengakui legitimasinya dan sempat mendukung oposisi Juan Guaidó pada 2019.
Dalam beberapa bulan terakhir, Trump bahkan menawarkan “jalan keluar aman” bagi Maduro untuk meninggalkan kekuasaan—tawaran yang ditolak mentah-mentah.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Masa depan Venezuela kini berada di persimpangan. Menteri Pertahanan negara itu menyerukan perlawanan terhadap apa yang disebutnya sebagai invasi asing. Di sisi lain, Trump menegaskan AS akan “mengambil keputusan selanjutnya” demi stabilitas kawasan dan kepentingan energi.
Sejumlah simulasi perang AS sebelumnya memprediksi skenario suram: kekacauan berkepanjangan, gelombang pengungsi, dan perebutan kekuasaan internal. Negara tetangga seperti Kolombia telah meningkatkan kesiagaan militer, mengantisipasi dampak regional.
Satu hal yang pasti, penangkapan Maduro menandai babak baru hubungan AS–Venezuela—babak yang berpotensi mengubah peta politik Amerika Latin dalam waktu lama.