Loading
Mantan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong. (Antaranews/Antara Foto/Media Center KTT ASEAN 2023/Rommy Pujianto/foc)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Mantan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong mengakui bahwa serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela telah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan negara-negara kecil.
Pernyataan tersebut menjadikan Singapura sebagai negara Asia terbaru yang menyuarakan keprihatinan atas operasi militer AS yang berujung pada penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Dalam forum pandangan regional yang digelar Institut Yusof Ishak ISEAS di Singapura, Lee menegaskan bahwa situasi internal suatu negara, seburuk apa pun, tidak dapat dijadikan pembenaran bagi intervensi militer sepihak tanpa otorisasi yang sah. Menurutnya, tindakan semacam itu berpotensi merusak tatanan internasional dalam jangka panjang.
Lee, dilansir The Independent, menyebut serangan tersebut mungkin tampak sebagai keberhasilan militer yang spektakuler, namun dampaknya terhadap sistem global justru berbahaya. Dari sudut pandang negara kecil, praktik semacam itu menimbulkan persoalan besar karena menciptakan preseden bahwa negara kuat dapat bertindak sepihak tanpa konsekuensi berarti.
Ia juga menilai bahwa meski praktik intervensi militer telah berulang kali terjadi di berbagai belahan dunia, baik oleh Amerika Serikat maupun kekuatan besar lainnya, dampak nyata di lapangan menunjukkan bahwa pendekatan tersebut lebih banyak membawa ketidakstabilan dibandingkan manfaat.
Pernyataan Lee menempatkan Singapura sejalan dengan Indonesia, Malaysia, India, dan China yang lebih dahulu menyuarakan keprihatinan atas operasi militer AS di Venezuela. Penggulingan Nicolás Maduro sendiri menjadi titik konflik terbaru dalam persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan China, khususnya di kawasan Amerika Latin.
Lee menilai bahwa tantangan utama dunia saat ini adalah hubungan Amerika Serikat dan China yang terus diliputi ketegangan, meskipun kedua negara sama-sama menyadari besarnya biaya yang harus ditanggung jika konflik terbuka atau perang dagang skala penuh terjadi. Banyak negara Asia, menurutnya, memandang Amerika Serikat sebagai mitra penting, namun pada saat yang sama mengakui China sebagai kekuatan ekonomi besar yang terus berkembang.
Ia juga menyinggung perubahan dinamika geopolitik ketika Washington dinilai mulai mengurangi perannya sebagai aktor utama di sejumlah kawasan, sementara Beijing justru menampilkan sikap yang lebih menonjol dalam isu multilateralisme.
China sendiri secara terbuka mengecam keras tindakan Amerika Serikat di Venezuela, menyebutnya sebagai bentuk intimidasi. Hubungan Beijing dan Caracas telah terjalin erat selama puluhan tahun, didorong oleh kesamaan ideologi politik serta ketidakpercayaan terhadap dominasi dunia yang dipimpin Washington.
Presiden China Xi Jinping sebelumnya mengkritik apa yang ia sebut sebagai intimidasi sepihak, yang menurutnya merusak tatanan internasional. Xi menekankan pentingnya penghormatan terhadap pilihan jalur pembangunan setiap bangsa, serta kepatuhan terhadap hukum internasional dan prinsip Piagam PBB, terutama oleh negara-negara besar.
Indonesia juga menyatakan keprihatinan mendalam atas setiap tindakan yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekerasan. Pemerintah Indonesia menilai langkah tersebut berbahaya dan berpotensi mengganggu stabilitas global, serta bertentangan dengan prinsip-prinsip universal yang tertuang dalam Piagam PBB dan hukum humaniter internasional.
Malaysia bahkan menyampaikan kritik yang lebih tegas dengan menyebut serangan Amerika Serikat sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional. Perdana Menteri Anwar Ibrahim secara terbuka menuntut pembebasan Nicolás Maduro dan istrinya tanpa penundaan.
Sementara itu, India yang biasanya berhati-hati dalam mengambil posisi politik global, juga menyatakan keprihatinan atas perkembangan di Venezuela. Menteri Luar Negeri India S Jaishankar menyerukan agar semua pihak yang terlibat mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan rakyat Venezuela serta mendorong dialog untuk mencapai solusi damai.