Loading
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. (koranjakarta.com)
LONDON, ARAHKITA.COM – Komisi Eropa memperingatkan rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menerapkan tarif baru yang dikaitkan dengan isu Greenland dapat membawa dampak serius, termasuk merusak hubungan strategis antara Eropa dan Amerika Serikat.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa pada Sabtu (17/1/2026) menyampaikan kekhawatiran tersebut melalui pernyataan terpisah di media sosial X. Keduanya menegaskan bahwa kedaulatan dan integritas wilayah adalah prinsip mendasar dalam hukum internasional—bukan hanya penting bagi Eropa, tapi juga bagi komunitas global.
Dalam pernyataan itu, Uni Eropa juga menyinggung latihan militer Denmark yang dilakukan bersama sekutu dan sebenarnya sudah terkoordinasi sejak awal. Menurut mereka, latihan itu bertujuan memperkuat keamanan di kawasan Arktik dan tidak dimaksudkan sebagai ancaman bagi pihak mana pun.
“Uni Eropa berdiri dalam solidaritas penuh bersama Denmark dan rakyat Greenland,” tegas von der Leyen dan Costa. Mereka menilai situasi seperti ini seharusnya diselesaikan lewat dialog dan jalur diplomatik, bukan kebijakan ekonomi yang berisiko memicu konflik lebih besar dilansir Antara.
Keduanya juga menegaskan komitmen Eropa untuk melanjutkan proses komunikasi yang sudah berjalan sejak pekan lalu antara Denmark dan Amerika Serikat, agar tidak terjadi salah tafsir atau eskalasi.
Menurut para pemimpin Uni Eropa tersebut, kebijakan tarif semacam ini dapat menjadi pemicu yang memperburuk hubungan transatlantik. Bukan hanya soal dagang—mereka menilai dampaknya bisa mengarah pada ketegangan politik yang semakin tidak terkendali dan berbahaya.
Trump Umumkan Tarif Baru Mulai Februari
Masih pada hari yang sama, Trump mengatakan Washington akan memberlakukan tarif baru terhadap barang dari delapan negara Eropa mulai 1 Februari, dengan tarif yang disebut akan meningkat tajam pada Juni. Trump mengaitkan kebijakan tersebut dengan keamanan nasional yang menurutnya terkait langsung dengan Greenland.
Greenland sendiri merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah ini menjadi perhatian sejumlah kekuatan besar dunia karena posisinya yang sangat strategis di kawasan Arktik serta potensi sumber daya mineral yang besar. Ketegangan geopolitik pun meningkat seiring kekhawatiran Barat terhadap aktivitas Rusia dan China di kawasan tersebut.
Trump bahkan berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat “perlu” mengakuisisi Greenland demi kepentingan keamanan nasional—dengan alasan mencegah pengaruh Rusia atau China menguasai wilayah itu.
Namun, Denmark dan Greenland menolak tegas gagasan tersebut. Keduanya juga menegaskan tidak ada rencana menjual wilayah itu dan kembali menyatakan kedaulatan Denmark atas Greenland tetap berlaku.