Loading
Orang-orang ikut dalam protes terhadap rencana AS di Greenland di Kopenhagen, Denmark, 14 Januari 2026. ANTARA/Xinhua/Liu Zhichao
KOPENHAGEN, ARAHKITA.COM — Gelombang demonstrasi menolak rencana pencaplokan Amerika Serikat (AS) terhadap Greenland terjadi serentak di sejumlah kota di Denmark dan Greenland pada Sabtu (17/1/2026). Massa aksi memprotes pernyataan dan sikap AS yang dinilai mengarah pada upaya mengambil alih wilayah otonom tersebut.
Aksi protes dipenuhi poster dan seruan bernada tegas. Salah satu slogan yang paling menonjol berbunyi “Make America Go Away” atau “Usir Amerika”, yang menjadi simbol penolakan terhadap tekanan politik AS sekaligus pesan terbuka bahwa kedaulatan Greenland tidak untuk dinegosiasikan.
Massa Bergerak dari Balai Kota Kopenhagen
Di Kopenhagen, ribuan pengunjuk rasa memadati Lapangan Balai Kota sejak sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Dari titik itu, massa melakukan long march menuju Kedutaan Besar AS, yang berjarak kurang lebih dua kilometer.
Peserta aksi terdiri dari warga Denmark dan Greenland. Sepanjang perjalanan, banyak pengunjuk rasa mengibarkan bendera Denmark dan Greenland, menciptakan barisan panjang yang melintasi ruas-ruas jalan utama di pusat kota.
Nuuk Turun ke Jalan: “Greenland Milik Orang Greenland”
Di Nuuk, ibu kota Greenland, demonstrasi berlangsung sejak siang. Massa meneriakkan slogan “Greenland milik orang Greenland”, menegaskan penolakan terhadap gagasan bahwa pulau itu bisa “diambil alih” atau diperlakukan seperti komoditas politik.
Yang menarik, aksi di Nuuk juga diikuti oleh Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen. Ia terlihat ikut mengibarkan bendera Greenland di tengah barisan warga. Di bawah hujan ringan, massa menyanyikan lagu-lagu tradisional Inuit, membuat suasana protes terasa sekaligus emosional dan kuat secara budaya.
Sejumlah peserta juga tampak mengenakan topi bertuliskan “Make America Go Away”, menyiratkan bahwa penolakan ini bukan sekadar aksi spontan, melainkan ekspresi sikap politik yang jelas.
Protes Meluas ke Banyak Kota
Menurut laporan media Denmark, demonstrasi serupa terjadi maupun direncanakan di kota-kota lain seperti Aarhus, Odense, dan Aalborg. Di Greenland, aksi juga disebut berlangsung atau menyebar ke beberapa wilayah, termasuk Aasiaat, Qaqortoq, dan Ilulissat.
Greenland sendiri merupakan wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark, namun urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri masih berada di bawah kendali Kopenhagen. Di sisi lain, AS juga tercatat memiliki pangkalan militer di pulau tersebut.
Trump Umumkan Tarif dan Mengaitkan dengan Isu Greenland
Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif 10 persen terhadap seluruh barang dari sejumlah negara Eropa—termasuk Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia—yang dikaitkan langsung dengan isu Greenland dan berlaku mulai 1 Februari.
Trump menyatakan tarif akan naik menjadi 25 persen per 1 Juni, serta tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan agar AS membeli Greenland, sebagaimana ia tulis melalui media sosial dilansir Antara.
Sejak masa jabatan presiden pertamanya, Trump memang beberapa kali menyuarakan minat untuk mengambil alih Greenland, dari wacana pembelian hingga berbagai opsi tekanan politik. Bahkan, ia pernah melontarkan gagasan bahwa AS bisa menggunakan kekuatan militer untuk merebut pulau otonom tersebut.
Diplomasi Buntu: “Perbedaan Mendasar” Masih Ada
Ketegangan ini turut terlihat dalam jalur diplomasi. Seusai pertemuan pejabat tinggi AS, Denmark, dan Greenland pada Rabu (14/1/2026), disebut masih terdapat jurang perbedaan terkait masa depan Greenland.
Usai pertemuan di Washington dengan Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menlu Denmark Lars Lokke Rasmussen bersama Menlu Greenland Vivian Motzfeldt menyatakan masih ada “perbedaan mendasar” mengenai masa depan Greenland.
Pernyataan itu mempertegas bahwa isu Greenland belum mereda—dan protes warga di jalanan menjadi sinyal bahwa publik Denmark dan Greenland menolak keras skenario apa pun yang dianggap mengancam kedaulatan wilayah mereka.