Loading
Alarm Bahaya Susu Formula, Uni Eropa Perketat Batas Racun. (Freepik)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Uni Eropa mengeluarkan pembaruan kebijakan keamanan pangan terkait susu formula bayi menyusul serangkaian penarikan produk di berbagai negara. Langkah ini diambil setelah ditemukannya racun berbahaya dalam sejumlah produk susu formula yang memicu kekhawatiran luas di kalangan orang tua.
Otoritas Keamanan Pangan Eropa atau EFSA merekomendasikan penurunan signifikan ambang batas paparan racun cereulide yang dapat diterima oleh bayi. Racun ini diketahui dapat menyebabkan mual dan muntah, serta dianggap berisiko tinggi bagi bayi yang sistem metabolisme tubuhnya masih belum berkembang sempurna.
Cereulide tersebut, dilansir The Independent, ditelusuri berasal dari bahan baku yang diproduksi di sebuah pabrik di Tiongkok. Pabrik ini diketahui memasok bahan ke sejumlah produsen besar dunia, termasuk Nestlé, Danone, dan Lactalis. Temuan ini telah memicu penarikan produk di banyak negara dan mendorong Uni Eropa untuk memperketat standar keamanan.
Komisi Eropa sebelumnya meminta EFSA untuk segera menetapkan dosis referensi akut atau acute reference dose sebagai dasar ilmiah bagi pemerintah dan produsen dalam menentukan kapan suatu produk harus ditarik dari peredaran. Dalam penilaian terbarunya, EFSA menetapkan ambang batas baru sebesar 0,014 mikrogram per kilogram berat badan bayi.
EFSA menekankan bahwa bayi, khususnya yang masih sangat muda, memproses zat beracun secara berbeda dibandingkan orang dewasa sehingga membutuhkan tingkat perlindungan yang lebih tinggi. Dalam penetapan batas ini, muntah dijadikan sebagai gejala jangka pendek utama yang menjadi pertimbangan keselamatan.
Prancis, yang telah mengantisipasi rekomendasi EFSA, menyatakan bahwa penerapan ambang batas yang lebih ketat kemungkinan akan memicu penarikan produk tambahan sebagai langkah pencegahan di seluruh pasar. Otoritas kesehatan negara tersebut menegaskan bahwa perlindungan konsumen menjadi prioritas utama.
EFSA juga memperhitungkan jumlah susu formula yang biasanya dikonsumsi bayi dalam periode 24 jam. Berdasarkan estimasi tersebut, badan ini menyimpulkan bahwa konsentrasi cereulide di atas 0,054 mikrogram per liter dalam susu formula bayi dan 0,1 mikrogram per liter dalam susu formula lanjutan berpotensi menimbulkan risiko keamanan.
Baca juga:
Presiden Prabowo Tegaskan Program MBG Tetap Berjalan, Kepala BGN Pastikan Evaluasi dan PerbaikanSementara itu, otoritas Prancis masih menyelidiki kemungkinan hubungan antara kematian dua bayi dan produk susu formula yang telah ditarik. Kementerian kesehatan setempat menyatakan bahwa hingga saat ini belum ditemukan bukti langsung yang mengaitkan kedua kasus tersebut, dengan hasil penyelidikan lanjutan diharapkan keluar dalam waktu dekat.
Penarikan produk sebelumnya mencakup sejumlah batch susu formula bayi dan susu formula lanjutan merek besar, menyusul kekhawatiran akan kandungan cereulide. Susu formula sendiri dirancang untuk menggantikan nutrisi penting yang dibutuhkan bayi yang tidak mendapatkan ASI, sehingga isu keamanan produk ini menjadi perhatian serius di tingkat global.