Kamis, 05 Februari 2026

Mantan Dubes Inggris untuk AS Diselidiki soal Dugaan Kebocoran Dokumen ke Epstein


 Mantan Dubes Inggris untuk AS Diselidiki soal Dugaan Kebocoran Dokumen ke Epstein Ilustrasi Bendera Inggris. (Antara)

Siap. Berikut artikel versi baru (orisinal, bukan saduran), SEO friendly, mengalir dan mudah dibaca, lengkap dengan kutipan narasumber, meta description, keyword utama, dan 5 pilihan judul.

Inggris Selidiki Peter Mandelson Terkait Dugaan Kebocoran Dokumen ke Jeffrey Epstein

MOSKOW,  ARAHKITA.COM – Kepolisian Metropolitan Inggris resmi membuka penyelidikan pidana terhadap mantan Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat, Peter Mandelson. Penyelidikan ini berkaitan dengan dugaan pembocoran dokumen internal pemerintah Inggris kepada mendiang pemodal kontroversial Jeffrey Epstein.

Komandan Kepolisian Metropolitan, Ella Marriott, menyatakan langkah hukum tersebut diambil menyusul dirilisnya jutaan dokumen pengadilan terkait kasus Epstein oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat.

“Setelah publikasi lanjutan jutaan dokumen pengadilan terkait Jeffrey Epstein, Kepolisian Metropolitan menerima sejumlah laporan dugaan pelanggaran jabatan publik, termasuk rujukan resmi dari pemerintah Inggris,” ujar Marriott dalam pernyataannya, Selasa (3/1/2026).

Marriott menegaskan, penyelidikan saat ini difokuskan pada seorang mantan pejabat tinggi negara.

“Saya dapat mengonfirmasi bahwa Kepolisian Metropolitan telah memulai penyelidikan terhadap seorang pria berusia 72 tahun, mantan menteri pemerintah, atas dugaan pelanggaran jabatan publik,” katanya.

Sejumlah media Inggris melaporkan bahwa dugaan pelanggaran tersebut terjadi saat Mandelson menjabat sebagai Menteri Bisnis pada 2009, di era pemerintahan Perdana Menteri Gordon Brown. Kala itu, Mandelson diduga mengirim dokumen internal pemerintah kepada Epstein.

Dokumen tersebut disebut ditulis oleh Nick Butler, penasihat politik senior Gordon Brown, dan memuat pembahasan sensitif mengenai kemungkinan penjualan aset-aset negara Inggris di tengah krisis keuangan global.

Di tengah mencuatnya kembali kasus ini, Mandelson pada Senin (2/1/2026) mengumumkan pengunduran dirinya dari Partai Buruh Inggris. Sehari berselang, ia juga menyatakan keluar dari keanggotaannya di House of Lords.

Kasus ini kembali menjadi sorotan setelah Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat, Todd Blanche, pada 30 Januari lalu mengumumkan bahwa seluruh dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein telah dirilis ke publik.

Dengan pengungkapan terbaru tersebut, total arsip yang dibuka disebut melampaui 3,5 juta berkas. Dokumen-dokumen itu memuat berbagai informasi sensitif, termasuk penyebutan nama sejumlah tokoh berpengaruh dunia.

Sebagaimana diketahui, Jeffrey Epstein didakwa di Amerika Serikat pada 2019 atas kasus perdagangan seks anak di bawah umur dan konspirasi terkait. Jaksa menyebut Epstein telah menyalahgunakan puluhan gadis di bawah umur antara 2002 hingga 2005, dengan sebagian korban berusia sekitar 14 tahun.

Pengadilan Manhattan sempat menolak permohonan jaminan Epstein pada Juli 2019. Namun, pada bulan yang sama, Epstein ditemukan tewas di dalam sel tahanannya dan dinyatakan bunuh diri.

Nama-nama yang tercantum dalam dokumen pengadilan mencakup sejumlah figur ternama dunia, di antaranya Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pengusaha Elon Musk, pendiri Microsoft Bill Gates, serta mantan Presiden AS Bill Clinton, bersama tokoh-tokoh lainnya. (Sputnik) 

Editor : M. Khairul

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru