Loading
Arsip - Logo CIA terlihat di lantai kantor pusat dinas intelijen Amerika Serikat. (ANTARA/Anadolu/as.)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Polemik lama seputar Jeffrey Epstein kembali mencuat. Kali ini, tim pengacara yang mewakili harta warisan mendiang miliarder tersebut secara resmi menuntut Badan Intelijen Pusat (CIA) dan Badan Keamanan Nasional (NSA) untuk membuka seluruh arsip yang diduga berkaitan dengan Epstein.
Langkah hukum itu dilaporkan Washington Post, Senin (9/2/2026). Tim hukum Epstein mengajukan permintaan agar dua lembaga intelijen utama Amerika Serikat tersebut mengungkap dokumen yang dapat menunjukkan kemungkinan adanya hubungan operasional, afiliasi, atau bentuk keterkaitan lain antara Epstein dan komunitas intelijen.
Permintaan tersebut diajukan melalui mekanisme Undang-Undang Kebebasan Informasi (FOIA). Tujuannya jelas: mencari tahu apakah NSA maupun CIA pernah menyimpan informasi tentang Epstein, baik yang bersifat terbuka maupun yang masih berstatus rahasia.
Baca juga:
Elon Musk: Partai Barunya akan Fokus Rilis Dokumen Kasus Kejahatan Seksual Jeffrey EpsteinUpaya ini kembali menyalakan spekulasi lama bahwa Epstein bukan sekadar pelaku kejahatan seksual, melainkan sosok yang mungkin memiliki akses khusus ke lingkar intelijen dan elite politik global.
Jawaban Lama yang Menggantung
Isu mengenai hubungan Epstein dengan CIA sebenarnya bukan hal baru. Pada 1999 dan 2011, sejumlah pihak telah menggunakan FOIA untuk menanyakan hal serupa. Saat itu, CIA menyatakan tidak menemukan bukti hubungan yang bersifat terbuka dengan Epstein. Namun lembaga tersebut juga memilih sikap abu-abu dengan menolak membenarkan atau menyangkal keberadaan materi rahasia.
NSA pun mengambil posisi serupa. Mereka tidak mau mengonfirmasi ataupun menepis adanya dokumen yang relevan, dengan alasan klasik: demi keamanan nasional serta perlindungan sumber dan metode intelijen.
Sikap tertutup inilah yang membuat kecurigaan publik tak pernah benar-benar padam dikutip Antara.
Nama Direktur CIA Ikut Terseret
Gelombang pertanyaan kembali menguat setelah rilis dokumen terbaru yang menyingkap interaksi Epstein dengan Direktur CIA saat ini, William Burns.Pada 2014, ketika masih menjabat Wakil Menteri Luar Negeri AS, Burns diketahui beberapa kali bertemu dengan Epstein. Agenda pertemuan itu meliputi makan siang di Washington hingga kunjungan ke kediaman Epstein di New York.
Burns “sangat menyesali pernah bertemu” Epstein dan menyatakan seluruh kontak dihentikan setelah mengetahui vonis pidana Epstein, menurut juru bicara Burns.Pengakuan tersebut justru memantik pertanyaan baru: seberapa jauh sebenarnya relasi Epstein dengan tokoh-tokoh kunci pemerintahan AS?
Taruhan Transparansi
Bagi para pengacara Epstein, pembukaan arsip ini dianggap penting bukan hanya untuk kepentingan hukum, tetapi juga demi kejelasan sejarah. Jika dokumen benar-benar dibuka, publik bisa mengetahui apakah Epstein sekadar kriminal kelas kakap atau bagian dari jejaring yang lebih kompleks.
Namun melihat rekam jejak CIA dan NSA dalam menjaga rahasia, perjuangan melalui FOIA kemungkinan tidak akan mudah. Lembaga intelijen AS dikenal sangat selektif membuka informasi, terutama jika menyangkut metode operasi dan jaringan informan.
Satu hal yang pasti, tuntutan ini kembali mengangkat nama Jeffrey Epstein ke panggung perdebatan global—mengingatkan bahwa misteri di balik sosoknya belum sepenuhnya terkubur bersama kematiannya.