Denmark Siap Hancurkan Landasan Pacu Greenland Jika AS Menyerang? Ini Fakta di Baliknya


 Denmark Siap Hancurkan Landasan Pacu Greenland Jika AS Menyerang? Ini Fakta di Baliknya Ilustrasi - Denmark dilaporkan menyiapkan skenario ekstrem menghancurkan landasan pacu Greenland jika AS menyerang. (Ilustrasi - AI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ketegangan geopolitik di kawasan Arktik kembali memanas. Denmark dilaporkan telah menyiapkan skenario ekstrem: meledakkan landasan pacu di Greenland jika Amerika Serikat benar-benar melakukan invasi.

Laporan ini pertama kali diungkap oleh media publik Denmark, DR, yang menyebut bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi darurat untuk mencegah pendaratan pesawat militer asing di wilayah strategis itu.

Skenario Darurat: Dari Pasokan Darah hingga Landasan Pacu

Menurut laporan tersebut, pasukan Denmark yang dikirim ke Greenland sejak Januari tidak hanya bersiaga secara militer, tetapi juga telah menyiapkan logistik medis, termasuk pasokan darah untuk mengantisipasi korban jika konflik terjadi.

Informasi ini diperkuat oleh sejumlah sumber dari kalangan pemerintahan dan militer Denmark, serta sekutu Eropa. Bahkan, laporan tersebut kemudian dikonfirmasi oleh pejabat Eropa kepada media internasional.

Dalam salah satu keterangan yang dikutip dari BBC, seorang pejabat militer senior Denmark menyebut bahwa “hanya sejumlah kecil orang yang mengetahui operasi tersebut karena alasan keamanan.”

Greenland Jadi Rebutan Kepentingan Global

Greenland, wilayah semi-otonom milik Denmark, selama ini menjadi sorotan karena letaknya yang sangat strategis di kawasan Arktik. Selain jalur pelayaran, wilayah ini juga diyakini memiliki potensi sumber daya alam yang besar.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menguasai Greenland. Ia menilai wilayah tersebut penting bagi keamanan nasional AS.

Namun, pemerintah Denmark dan pemimpin Greenland secara tegas menolak wacana tersebut.

Efek Domino dari Ketegangan Global

Situasi semakin memanas setelah operasi militer AS di Venezuela yang disebut berhasil dengan cepat. Peristiwa ini memicu kekhawatiran di kalangan Eropa bahwa langkah serupa bisa terjadi di Greenland.

Seorang pejabat keamanan Denmark menyebut bahwa setiap pernyataan Trump harus dianggap serius, apalagi setelah melihat preseden tindakan militer sebelumnya.

Tak lama setelah itu, Denmark bersama sekutu Eropa seperti Prancis, Jerman, Norwegia, dan Swedia mulai mengirim pasukan ke Greenland. Secara resmi, pengerahan ini disebut sebagai bagian dari latihan militer bersama bertajuk Operasi Arctic Endurance.Namun di balik itu, tersimpan kekhawatiran yang jauh lebih besar: kemungkinan invasi.

Strategi “Bumi Hangus” untuk Menghambat AS

Dalam skenario terburuk, Denmark disebut siap mengambil langkah drastis, termasuk menghancurkan landasan pacu di Nuuk dan Kangerlussuaq. Tujuannya jelas: mencegah pesawat militer AS mendarat.

Langkah ini dikenal sebagai strategi “scorched earth” atau bumi hangus—mengorbankan fasilitas sendiri demi memperlambat musuh.

Seorang sumber pertahanan Denmark bahkan mengungkapkan bahwa strategi ini bertujuan menaikkan “biaya” bagi AS jika benar-benar ingin menguasai Greenland.

Meski begitu, mereka juga menyadari bahwa secara kekuatan militer, Denmark dan sekutunya kemungkinan sulit menahan serangan besar dari AS.

Trump: Pilih Negosiasi, Bukan Kekerasan?

Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump kemudian mencoba meredakan situasi. Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, ia menyatakan tidak ingin menggunakan kekerasan untuk mendapatkan Greenland.

Ia menegaskan bahwa pendekatan negosiasi menjadi pilihan utama untuk mencapai kesepakatan.

Namun, pernyataan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran di Eropa, yang masih melihat potensi konflik sebagai ancaman nyata.

Kenapa Greenland Jadi Rebutan?

  • Lokasi strategis di jalur Arktik
  • Potensi sumber daya alam (minyak, gas, mineral)
  • Kepentingan militer dan pertahanan global
  • Pengaruh geopolitik antara Barat vs Rusia & China

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru