Loading
Presiden Palestina Mahmoud Abbas. (aa.com.tr)
RAMALLAH, ARAHKITA.COM – Situasi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur kian memanas. Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, memperingatkan kondisi yang ia sebut “berbahaya” dan berpotensi memperburuk konflik di kawasan Timur Tengah.
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, Abbas menyoroti rencana yang disebut sebagai proyek “Israel Raya”. Menurutnya, gagasan tersebut bukan hanya mengancam Palestina, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas kawasan bahkan dunia.
Ia menilai kebijakan tersebut dapat merusak seluruh proses politik yang sedang berjalan, sekaligus melanggar resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa serta hukum internasional.
Desakan untuk Dunia Internasional
Abbas menyerukan sikap tegas dari komunitas internasional. Ia meminta negara-negara dunia untuk menekan Israel agar menghentikan kebijakan yang dianggap merusak dan memperburuk konflik.
Baca juga:
Uni Eropa Jatuhkan Sanksi ke 3 Individu dan 4 Organisasi Terkait Pemukiman Israel di Tepi BaratTak hanya itu, ia juga mendorong digelarnya konferensi internasional berskala besar. Tujuannya jelas: menciptakan perdamaian yang berkelanjutan, menjamin stabilitas kawasan, serta membuka jalan bagi kemerdekaan Palestina.
“Upaya kolektif global sangat dibutuhkan untuk mengakhiri pendudukan dan memastikan rakyat Palestina bisa hidup merdeka,” tegas Abbas dikutip Antara.
Dukungan untuk Gencatan Senjata Gaza
Dalam kesempatan tersebut, Abbas juga menyambut baik rencana lanjutan gencatan senjata di Gaza, termasuk Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2803 yang bertujuan menghentikan perang dan mengurangi penderitaan warga sipil.
Ia turut mengapresiasi peran Indonesia yang aktif mendukung stabilitas dan proses rekonstruksi di Jalur Gaza.
Menurut Abbas, Gaza merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari negara Palestina. Karena itu, ia menegaskan pentingnya menghentikan serangan terhadap warga sipil di wilayah tersebut.
Korban Terus Bertambah
Sementara itu, situasi kemanusiaan di Gaza masih memprihatinkan. Otoritas kesehatan setempat melaporkan bahwa sejak 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas telah mencapai lebih dari 72 ribu jiwa, dengan hampir 172 ribu orang mengalami luka-luka.
Bahkan setelah gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025, korban masih terus berjatuhan. Tercatat sedikitnya 687 orang meninggal dunia dan lebih dari 1.800 orang luka-luka sejak periode tersebut.
Angka ini menjadi pengingat bahwa meskipun ada upaya damai, kondisi di lapangan masih jauh dari kata aman.