Kamis, 13 Agustus 2026

Tiga Perempuan terkait ISIS Ditangkap Usai Kembali ke Australia dari Suriah


 Tiga Perempuan terkait ISIS Ditangkap Usai Kembali ke Australia dari Suriah Tiga Perempuan terkait ISIS Ditangkap Usai Kembali ke Australia dari Suriah. (Ilustrasi AI)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Pemerintah Australia kembali menghadapi persoalan serius terkait kepulangan warga negaranya yang pernah berada di wilayah konflik Suriah. Tiga perempuan yang diduga memiliki hubungan dengan kelompok ekstremis ISIS ditangkap sesaat setelah tiba di Australia usai bertahun-tahun berada di kamp penahanan Suriah.

Ketiga perempuan tersebut merupakan warga negara Australia yang dipulangkan bersama sembilan anak. Polisi Australia menangkap dua perempuan, yakni Kawsar Abbas (53) dan Zeinab Ahmed (31), ketika mereka tiba di Melbourne. Sementara seorang perempuan lainnya, Janai Safar (32), diamankan setibanya di Sydney.

Satu perempuan lain dalam rombongan tersebut tidak ditahan. Namun, seluruh kelompok kini berada dalam pengawasan ketat aparat keamanan Australia.

Kasus ini kembali memicu perdebatan di Australia mengenai bagaimana negara menangani warga yang pernah terlibat atau memiliki keterkaitan dengan ISIS. Pemerintah Australia sebelumnya dikenal cukup keras dalam kebijakan pemulangan warga negaranya dari wilayah konflik Suriah.

Anak-anak yang ikut dipulangkan disebut akan mendapatkan pendampingan psikologis sekaligus pemeriksaan khusus untuk mendeteksi kemungkinan paparan radikalisme selama mereka berada di kamp Suriah.

Australia sendiri termasuk salah satu negara yang masih bergulat dengan persoalan pemulangan mantan anggota maupun keluarga ISIS setelah kekhalifahan kelompok tersebut runtuh pada 2019.

Kelompok hak asasi manusia internasional selama ini menyoroti kondisi kamp-kamp penahanan ISIS di Suriah yang dinilai tidak manusiawi. Ribuan perempuan dan anak-anak asing disebut hidup dalam kondisi memprihatinkan selama bertahun-tahun.

Kelompok yang tiba di Melbourne diketahui sebelumnya ditahan di kamp al-Roj sejak 2019. Dalam rombongan itu terdapat Kawsar Abbas bersama dua putrinya, Zeinab Ahmed dan Zahra Ahmed, serta delapan anak mereka.

Kawsar Abbas diketahui merupakan istri Mohammad Ahmad, sosok yang pernah dicurigai aparat Australia menjalankan badan amal untuk menyalurkan dana kepada ISIS. Tuduhan itu sebelumnya pernah dibantah Abbas dalam wawancara dengan media nasional Australia pada 2019.

Situasi di bandara Melbourne sempat menjadi perhatian publik. Sebelum pesawat Qatar Airways yang membawa rombongan tersebut mendarat, sekelompok pria berpakaian hitam terlihat berkumpul di area kedatangan internasional.

Saat perempuan yang tidak ditahan keluar dari terminal, kelompok tersebut langsung mengerumuninya dan berusaha menutupi wajahnya dari sorotan media.

Perempuan itu diyakini bernama Zahra Ahmed, janda perekrut ISIS terkenal Muhammad Zahab yang tewas dalam serangan udara pada 2018.

Sementara itu, Janai Safar yang tiba di Sydney dilaporkan langsung ditahan polisi di dalam pesawat. Ia datang bersama putranya yang berusia sembilan tahun dan lahir di Suriah.

Safar sebelumnya merupakan mahasiswa keperawatan di Sydney sebelum berangkat ke Suriah pada 2015. Ia disebut menikah dengan seorang pejuang ISIS.

Dalam wawancara dengan media Australia beberapa tahun lalu, Safar mengaku pergi ke Suriah atas keinginannya sendiri. Ia bahkan sempat mengatakan takut kembali ke Australia karena khawatir ditangkap dan kehilangan hak asuh anaknya.

Dilaporkan dan dikutip dari BBC News⁠, aparat Australia telah menyiapkan sejumlah dakwaan terhadap para perempuan tersebut. Dakwaan itu dapat mencakup pelanggaran hukum terorisme, termasuk memasuki wilayah terlarang yang dikuasai ISIS hingga dugaan keterlibatan dalam kejahatan terhadap kemanusiaan.

Komisaris Polisi Australia, Krissy Barratt, menyatakan aparat telah mempersiapkan langkah hukum dan pengawasan jangka panjang terhadap kelompok tersebut.

Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, menegaskan pemerintah akan mengambil tindakan tegas terhadap siapa pun yang terbukti melakukan tindak pidana terorisme.

“Mereka telah membuat pilihan yang mengerikan dengan bergabung bersama organisasi teroris berbahaya dan membawa anak-anak mereka ke situasi yang tak terbayangkan,” ujar Burke kepada wartawan.

Ia menambahkan bahwa siapa pun yang terbukti melanggar hukum akan menghadapi proses hukum sepenuhnya.

Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Australia, Mike Burgess, mengatakan pihaknya belum melihat ancaman langsung dari kepulangan kelompok tersebut, tetapi mereka tetap akan berada dalam pemantauan intensif aparat keamanan.

Pemerintah negara bagian Victoria juga memastikan anak-anak yang kembali akan mengikuti program penanggulangan ekstremisme kekerasan sebagai bagian dari proses reintegrasi sosial mereka.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru