Loading
Ilmuwan Ungkap Separuh Usia Manusia Dipengaruhi Genetika. (Pixabay)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Rahasia umur panjang manusia ternyata tidak sepenuhnya bergantung pada gaya hidup atau kebiasaan sehat. Studi terbaru menunjukkan bahwa faktor genetika memainkan peran besar dalam menentukan berapa lama seseorang hidup.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science menyebutkan bahwa sekitar 50 persen variasi umur manusia dipengaruhi oleh warisan genetik. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan studi-studi sebelumnya yang hanya menempatkan kontribusi genetika pada kisaran 6 hingga 33 persen.
Para peneliti menjelaskan bahwa penelitian terdahulu cenderung mengabaikan peran kematian akibat faktor eksternal, seperti kecelakaan, pembunuhan, penyakit menular, atau sebab lain yang tidak berkaitan langsung dengan penuaan biologis. Faktor-faktor tersebut, yang disebut sebagai kematian ekstrinsik, justru meningkat seiring bertambahnya usia karena kondisi tubuh yang semakin rentan.
Profesor Uri Alon dari Institut Sains Weizmann di Israel, dilansir The Guardian, mengatakan bahwa kematian ekstrinsik selama ini telah menyamarkan kontribusi genetika yang sebenarnya terhadap umur manusia. Dengan kata lain, pengaruh gen terhadap umur hidup menjadi terlihat lebih kecil dari kenyataannya.
Untuk mengatasi hal tersebut, tim peneliti mengembangkan model matematika yang memisahkan dampak penuaan biologis dari kematian ekstrinsik. Model ini dikalibrasi menggunakan data historis ribuan pasangan kembar di Denmark dan Swedia, yang memungkinkan peneliti mengukur tingkat kemiripan umur hidup akibat faktor genetik.
Hasil analisis menunjukkan bahwa setelah efek kematian ekstrinsik dihilangkan, sekitar separuh variasi umur manusia dapat dijelaskan oleh genetika. Temuan ini setara dengan hasil yang ditemukan pada penelitian terhadap tikus liar di laboratorium.
Sisa 50 persen variasi umur manusia, menurut para peneliti, kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain seperti lingkungan, gaya hidup, pola makan, aktivitas fisik, hubungan sosial, serta proses biologis acak yang terjadi sepanjang hidup. Faktor-faktor tersebut dinilai semakin berperan penting seiring bertambahnya usia.
Ben Shenhar, salah satu penulis penelitian, menyebut pengalaman sehari-hari juga menunjukkan kuatnya peran genetika dalam umur panjang. Ia mencontohkan bahwa sekitar 20 persen orang yang mencapai usia 100 tahun dapat hidup tanpa penyakit serius yang melemahkan, yang mengindikasikan adanya efek perlindungan dari gen tertentu.
Tim peneliti menguji temuan mereka menggunakan data dari studi di Amerika Serikat tentang saudara kandung para centenarian dan menemukan hasil serupa, yakni heritabilitas umur hidup mendekati 50 persen. Analisis tambahan terhadap data Swedia juga menunjukkan bahwa seiring menurunnya kematian ekstrinsik sejak awal abad ke-20, kontribusi genetika terhadap umur hidup semakin terlihat.
Penelitian ini juga menemukan bahwa pengaruh genetika terhadap umur hidup bervariasi tergantung pada penyebab kematian dan usia, seperti pada kasus kanker atau demensia. Hal ini memperkuat pandangan bahwa hubungan antara gen dan umur panjang bersifat kompleks.
Profesor Richard Faragher dari Universitas Brighton menilai temuan ini penting karena menunjukkan manusia tidak berbeda jauh dari spesies lain dalam hal pewarisan umur. Menurutnya, hal tersebut memberi harapan bahwa intervensi penuaan yang berhasil pada hewan percobaan berpotensi diterapkan pada manusia di masa depan.