Kamis, 05 Februari 2026

Terlalu Banyak Mi Instan? Ini Risiko Kesehatan yang Harus Kamu Tahu


 Terlalu Banyak Mi Instan? Ini Risiko Kesehatan yang Harus Kamu Tahu Ilustrasi - Mi instan. ANTARA/HO-Sutterstock.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Ahli gizi dan anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, menekankan bahwa mi instan boleh dikonsumsi, namun sebaiknya dibatasi, cukup sekali dalam sebulan atau dijadikan makanan “rekreasi”.

“Mi instan aman dikonsumsi jika kita mengetahui batas porsi dan cara pengolahan yang sesuai kondisi tubuh. Biasanya kandungan natrium, lemak, dan energi cukup tinggi. Jadi, konsumsi satu kali sebulan sudah cukup, misalnya saat ulang tahun,” jelas Diah Senin (2/2/2026) seperti yang dikutip dari Antara.

Diah menambahkan, mi instan populer karena mudah didapat, harganya terjangkau, dan praktis. Terlebih saat musim hujan, mi instan rebus menjadi pilihan favorit karena mampu menghangatkan tubuh dan rasanya gurih.

Namun, ia memperingatkan, kandungan natrium dan lemak dalam mi instan perlu diperhatikan terutama bagi mereka yang memiliki hipertensi, penyakit pembuluh darah, atau obesitas.

“Mi rebus cenderung lebih tinggi natrium dibanding versi goreng, bisa mencapai 1.000–1.100 mg per bungkus. Ini hampir 75 persen dari kebutuhan harian seseorang. Jadi, bagi penderita hipertensi, satu bungkus mi instan kuah sudah cukup untuk memenuhi batas maksimal natrium harian, yaitu 1.200 mg,” ujar Diah.

Diah juga menekankan pentingnya menyeimbangkan konsumsi mi instan dengan makanan sehat lain, terutama saat musim hujan. Konsumsi berlebihan dapat memicu penyakit degeneratif, gangguan ginjal, masalah saluran pencernaan, hingga iritasi lambung dan usus.

Selain itu, remaja yang terlalu sering mengonsumsi mi instan juga berisiko mengalami hemoroid, ambeien, obesitas, bahkan kanker usus jika dikonsumsi rutin setiap minggu.

“Intinya, mi instan boleh dikonsumsi, tapi jangan dijadikan makanan utama. Porsi dan frekuensi konsumsi harus diperhatikan untuk menjaga kesehatan jangka panjang,” tutup Diah.

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru