Apa Itu Virus Nipah? Penyakit Mematikan yang Bikin Bandara Asia Siaga


 Apa Itu Virus Nipah? Penyakit Mematikan yang Bikin Bandara Asia Siaga Apa Itu Virus Nipah? Penyakit Mematikan yang Bikin Bandara Asia Siaga. (RS Pusat Pertamina)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Virus Nipah kembali menjadi perhatian setelah India mengonfirmasi dua kasus infeksi mematikan tersebut di negara bagian Benggala Barat dalam sebulan terakhir. Kemunculan kasus ini membuat sejumlah negara Asia meningkatkan kewaspadaan, termasuk dengan memperketat pemeriksaan di bandara.

Thailand, Nepal, dan Vietnam termasuk negara yang mulai melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap penumpang yang datang, terutama dari India. Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran virus yang dikenal sangat mematikan dan dapat menular dari hewan ke manusia.

Kementerian Kesehatan India mengonfirmasi dua kasus virus Nipah sejak Desember lalu. Pemerintah menyatakan penanganan dilakukan secara cepat dan terukur. Hampir 200 orang yang memiliki kontak dekat dengan pasien telah diuji dan sejauh ini tidak ditemukan indikasi wabah lanjutan.

Apa Itu Virus Nipah?

Virus Nipah, dilansir The Guardian, merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui babi dan kelelawar buah. Penularan dapat terjadi lewat kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau cairan tubuhnya, serta melalui manusia ke manusia.

Masa inkubasi virus ini berkisar antara empat hingga 14 hari. Gejala awal biasanya berupa demam tinggi, mual, muntah, dan gangguan pernapasan. Pada kondisi yang lebih serius, infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia dan pembengkakan otak, yang memicu gejala neurologis seperti kejang, kebingungan, hingga penurunan kesadaran.

Organisasi Kesehatan Dunia mengategorikan virus Nipah sebagai ancaman serius karena tingkat penularannya yang tinggi dan belum tersedianya vaksin. Tingkat kematian akibat virus ini diperkirakan mencapai 40 hingga 75 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan banyak penyakit menular lainnya.

Kapan Virus Nipah Pertama Kali Terdeteksi?

Virus Nipah pertama kali teridentifikasi pada 1998 di Malaysia, saat wabah di kalangan peternak babi menewaskan lebih dari 100 orang. Nama virus ini diambil dari desa tempat pertama kali ditemukan.

Sejak itu, wabah Nipah tercatat muncul hampir setiap tahun di berbagai negara Asia, termasuk Bangladesh, Filipina, Singapura, Malaysia, dan India. Di Bangladesh, virus ini kerap dikaitkan dengan konsumsi getah kurma mentah yang terkontaminasi oleh kelelawar buah.

India sendiri pertama kali melaporkan kasus Nipah pada 2001 di Benggala Barat. Wabah besar juga terjadi di Kerala pada 2018 yang menewaskan sedikitnya 17 orang, disusul dua kematian tambahan pada 2023.

Bagaimana Pihak Berwenang Melakukan Antisipasi?

Kasus terbaru di Benggala Barat menjadi sorotan karena merupakan yang pertama sejak 2007. Otoritas kesehatan India menyatakan telah meningkatkan pengawasan, memperluas pengujian laboratorium, serta melakukan investigasi lapangan untuk memastikan penanganan berjalan efektif.

Meski India menegaskan situasi terkendali, sejumlah negara lain memilih mengambil langkah pencegahan tambahan. Thailand, Vietnam, dan Indonesia memperkenalkan pemeriksaan suhu tubuh dan deklarasi kesehatan bagi penumpang dari India. Myanmar menyarankan warganya menunda perjalanan yang tidak penting ke Benggala Barat, sementara China memperketat pengawasan kesehatan di wilayah perbatasannya.

Pemerintah India menegaskan bahwa laporan tentang lonjakan kasus virus Nipah tidak berdasar dan bersifat spekulatif. Namun, kewaspadaan regional tetap ditingkatkan mengingat rekam jejak virus ini yang mematikan dan sulit dikendalikan.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru