Kamis, 05 Februari 2026

Rahasia Bugar di Usia 82 Tahun: Kisah Pelari Ultramaraton yang Tubuhnya Setara Anak Muda


 Rahasia Bugar di Usia 82 Tahun: Kisah Pelari Ultramaraton yang Tubuhnya Setara Anak Muda López García berlari sekitar 40 mil per minggu dan hampir dua kali lipat jarak tersebut dalam persiapan menjelang perlombaan. (Martina Saenz Garrido/Ainize Urdiales Gonzalez/The Washington Post)

DI USIA 82 tahun, banyak orang mulai membatasi aktivitas. Jalan pelan saja sudah terasa berat, apalagi berlari puluhan kilometer. Namun hal itu tidak berlaku bagi Juan López García. Pria asal Toledo, Spanyol, justru menjadi bukti hidup bahwa usia hanyalah angka.

Para ilmuwan Eropa sampai dibuat tercengang ketika meneliti kondisi fisiknya. Hasil tes menunjukkan tingkat kebugaran aerobik López García setara pria berusia 20 hingga 30 tahun. Padahal, ia baru mengenal olahraga lari ketika usianya menginjak 66 tahun.

Dari Mekanik Mobil Menjadi Atlet Dunia

Selama puluhan tahun, López García bekerja sebagai mekanik mobil. Ia tidak pernah menganggap dirinya atlet. Tidak ada riwayat latihan khusus, tidak ada rutinitas olahraga. Hidupnya berjalan biasa saja hingga masa pensiun tiba.

Suatu hari, ia mencoba berlari satu mil. Percobaan pertama itu gagal total. Napasnya terengah, langkahnya berat, bahkan untuk sekadar memulai saja terasa sulit. Namun kegagalan itu tidak membuatnya mundur.

Perlahan tapi pasti, ia menambah jarak. Dari ratusan meter menjadi beberapa kilometer, lalu semakin jauh. Di usia 70 tahun, ia mulai ikut lomba lari. Dari nomor pendek 800 meter, kemudian beralih ke jarak lebih panjang, hingga akhirnya jatuh cinta pada ultramaraton.

Puncaknya terjadi pada 2024 ketika ia mencetak rekor dunia kelompok usia 80–84 tahun untuk lomba 50 kilometer. Ia juga menjuarai maraton dunia dengan waktu 3 jam 39 menit—catatan yang bahkan membuat banyak pelari muda geleng-geleng kepala.

Apa yang Membuat Tubuhnya Istimewa?

Tim peneliti mengundang López García ke laboratorium untuk menjalani serangkaian tes. Mereka mengukur VO2 max, kekuatan otot, efisiensi lari, hingga cara tubuhnya menggunakan oksigen.

Hasilnya mengejutkan. VO2 max miliknya—indikator utama kebugaran jantung dan paru—menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat pada kelompok usia 80-an. Secara teori, kemampuan ini biasanya turun sekitar 10 persen setiap dekade setelah usia paruh baya. Namun pada dirinya justru meningkat sejak mulai berlatih di usia 60-an.

Otot-ototnya juga sangat efisien menyerap oksigen, membuatnya mampu berlari lama dengan kecepatan stabil. Meski begitu, beberapa aspek seperti ambang laktat dan efisiensi teknik lari tergolong “biasa saja”. Artinya, keberhasilannya bukan semata keajaiban genetik, melainkan hasil latihan konsisten.

Rutinitas yang Sederhana, Bukan Ajaib

López García tidak menjalani program ekstrem. Di luar masa persiapan lomba, ia berlari sekitar 40 mil per minggu. Saat mendekati kompetisi, jarak itu bisa hampir dua kali lipat.

Latihannya didominasi lari jarak jauh dengan intensitas sedang, diselingi interval cepat beberapa kali seminggu. Ia juga rutin melakukan latihan beban ringan di rumah dengan mengandalkan berat tubuh sendiri.

Soal makan, tidak ada menu rahasia. Ia mengikuti pola makan khas Mediterania yang sederhana: sayur, buah, ikan, minyak zaitun, dan porsi seimbang. “Benar-benar normal,” katanya dikutip dari The Washington Post.

Pesan Penting untuk Semua Usia

López García tidak menjalani program ekstrem. Di luar masa persiapan lomba, ia berlari sekitar 40 mil per minggu. Saat mendekati kompetisi, jarak itu bisa hampir dua kali lipat.

Latihannya didominasi lari jarak jauh dengan intensitas sedang, diselingi interval cepat beberapa kali seminggu. Ia juga rutin melakukan latihan beban ringan di rumah dengan mengandalkan berat tubuh sendiri.

Soal makan, tidak ada menu rahasia. Ia mengikuti pola makan khas Mediterania yang sederhana: sayur, buah, ikan, minyak zaitun, dan porsi seimbang. “Benar-benar normal,” katanya.

Pesan Penting untuk Semua Usia

Para peneliti menilai kisah ini menggoyahkan anggapan lama bahwa penuaan identik dengan penurunan tak terhindarkan. Contoh López García menunjukkan bahwa tubuh tetap bisa beradaptasi dan berkembang, bahkan ketika memulai olahraga di usia lanjut.

Ia sendiri selalu menekankan untuk memulai perlahan. Tidak perlu langsung berlari jauh. Jalan cepat pun sudah langkah awal yang baik. Kuncinya konsistensi, bukan kecepatan.

“Tidak pernah ada kata terlambat,” katanya.

Bagi para ilmuwan, pria 82 tahun ini bukan sekadar atlet berprestasi, melainkan jendela untuk memahami bagaimana manusia bisa menua dengan lebih sehat. Bagi kita, ia adalah pengingat bahwa kesempatan untuk berubah selalu ada—berapa pun usia di KTP.

Dan ketika ditanya apakah ia merasa tua, López García hanya tersenyum, “Saya tidak merasa seperti orang berusia 80 tahun. Saya merasa hidup.”

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru