Selasa, 22 September 2026

Studi 28 Juta Lansia Temukan Polusi Udara Picu Risiko Alzheimer


 Studi 28 Juta Lansia Temukan Polusi Udara Picu Risiko Alzheimer Studi 28 Juta Lansia Temukan Polusi Udara Picu Risiko Alzheimer. (Pixabay)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Paparan polusi udara dalam jangka panjang diduga dapat langsung meningkatkan risiko Alzheimer dengan merusak otak, menurut studi berskala besar yang melibatkan hampir 28 juta lansia di Amerika Serikat.

Temuan ini memperkuat kekhawatiran ilmiah bahwa dampak polusi tidak hanya terbatas pada sistem pernapasan, tetapi juga memengaruhi sistem saraf pusat.

Riset yang dipublikasikan di jurnal ilmiah PLOS Medicine dan dilansir The Independent, menganalisis data 27,8 juta penerima program kesehatan Medicare berusia 65 tahun ke atas selama periode 2000 hingga 2018. Para peneliti membandingkan tingkat paparan partikel polusi halus PM2.5 dengan diagnosis Alzheimer yang muncul di kemudian hari.

Efek langsung pada otak

Hasil analisis menunjukkan paparan jangka panjang PM2.5 berkorelasi dengan peningkatan risiko Alzheimer bahkan setelah memperhitungkan faktor kesehatan lain seperti hipertensi, stroke, dan depresi. Penyakit-penyakit tersebut sebelumnya dikenal meningkatkan risiko demensia, tetapi hanya menjelaskan sebagian kecil hubungan antara polusi dan Alzheimer.

Para peneliti menyimpulkan hubungan utama kemungkinan berasal dari dampak langsung partikel polusi terhadap jaringan otak, bukan sekadar efek tidak langsung melalui penyakit kronis. Korelasi juga terlihat lebih kuat pada individu yang pernah mengalami stroke, mengindikasikan kerusakan pembuluh darah sebelumnya dapat memperparah kerentanan terhadap polusi.

Penguatan bukti ilmiah

Ahli independen menyatakan hasil studi ini menambah bobot bukti bahwa polusi udara dapat memengaruhi otak secara langsung. Ryu Takechi dari Curtin Medical Research Institute menyebut temuan tersebut konsisten dengan riset mekanistik yang menunjukkan polusi berpotensi mempercepat proses neurodegenerasi.

Pendapat serupa disampaikan Ashley Bush dari The Florey yang menjelaskan bahwa polutan udara mengandung zat kimia pemicu stres oksidatif di otak. Partikel mikroskopis itu dapat masuk ke aliran darah lalu menembus jaringan otak dan memicu kerusakan kimia.

Alzheimer merupakan bentuk demensia paling umum dan memengaruhi sekitar 57 juta orang di seluruh dunia. Para peneliti menilai peningkatan kualitas udara dapat menjadi strategi penting menekan risiko penyakit tersebut di masa depan, terutama ketika populasi global terus menua dan paparan polusi dari lalu lintas, industri, serta kebakaran hutan meningkat.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru