Loading
Ilustrasi: Inner child. (klikdokter.com)
JAKARTA, ARAHKITA.COM - Dilansir dari Psychology Today, inner child adalah sekumpulan peristiwa masa kecil, yang baik atau buruk, dan membentuk kepribadian kamu seperti sekarang ini.
Ikhsan Bella Persada M. Psi., Psikolog dikutip dari laman klikdokter.com menjelaskan, meski tidak bisa dilihat secara kasat mata, tapi sejatinya inner child sudah menjadi bagian dari diri kamu.
Tak cuma itu saja, di alam bawah sadar, inner child bisa memengaruhi caramu dalam bersikap ketika merespons suatu masalah.
Contoh sederhananya, kamu dikelilingi oleh sanak saudara atau teman-teman yang melindungi dan menyayangimu. Pengalaman ini membentuk kamu yang sudah dewasa menjadi pribadi penyayang serta suka bergaul dengan orang lain.
Sebaliknya, kamu yang sekarang juga bisa menjadi sosok yang pemarah, tidak punya empati, bahkan cenderung melakukan kekerasan. Sosok ini terbentuk karena kamu pernah mengalami kekerasan dan pengabaian emosional dari orang sekitar di masa kecil.
Inner Child Bisa Terluka
Psikolog Ikhsan juga bercerita, inner child memang bisa terluka dan jika tidak diatasi bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.
“Inner child yang buruk bisa jadi masalah, karena pengalaman menyakitkan yang didapatkan, seperti kekerasan selama masa kecil, mengalami pengabaian oleh orang tua atau orang penting di sekitarnya,” papar Ikhsan.
Di samping itu, ada beberapa peristiwa lain yang dapat menyebabkan inner child seseorang terluka, di antaranya:
Kehilangan orang tua
Pernah mengalami pelecehan seksual
Sakit parah
Pernah ditindas
Pernah mengalami bencana alam
Pernah mengalami perpisahan dalam keluarga
Pernah menjadi korban kekerasan
Pernah mengalami penyalahgunaan zat dalam rumah tangga
Ada anggota keluarganya yang dulu punya penyakit mental
Pernah menjadi pengungsi
Merasa terisolasi atau dijauhkan dari keluarganya
“Kemudian, kurang mendapatkan kasih sayang, atau malah terlalu dikontrol oleh orangtua juga dapat melukai inner child-nya,” tambah Ikhsan lebih lanjut.
Apabila kondisi tersebut tidak kamu tangani dengan baik, perilaku destruktif dapat terjadi. Bahkan, dapat menghancurkan masa depanmu kelak.
Dampak buruk akibat inner child yang terluka, di antaranya:
Mudah menyakiti dan melukai diri sendiri
Perilaku yang merugikan diri sendiri
Punya perilaku pasif-agresif, ketika marah atau kecewa cenderung dipendam
Punya sikap kasar yang mengarah kepada kekerasan
Bagaimana Cara Menyembuhkan Inner Child yang Terluka?
Kamu tidak bisa menyembuhkan luka inner child. Setelah pengalaman masa kecilmu rusak atau tidak bahagia, itu sudah menjadi sejarah yang membentuk dirimu saat ini.
Namun, kamu jangan berkecil hati, ya. Meskipun tidak bisa diubah, kamu bisa, kok, mengendalikan dan merespon dengan baik luka inner child yang sewaktu-waktu bisa keluar.
“Kalau pada akhirnya ada sesuatu yang mengganggu kita, berarti luka yang kita alami dulu belum sembuh. Ini bisa diterapi, tapi sebenarnya diusahakan dari diri sendiri dulu juga bisa, kok,” kata Ikhsan.
Sebuah penelitian menyampaikan, menuliskan tentang rasa sakit yang dulu dialami sewaktu kecil bisa menjadi salah satu cara untuk berdamai dengan luka inner child. Menulis juga membantumu menyembuhkan emosi negatif yang mungkin dirasakan.
Penelitian yang dilansir Psychology Today juga mengatakan, ketika tubuh menahan rasa sakit emosional atau fisik, dan bahkan mengabaikannya, rasa sakit akan tetap ada alias tidak pernah hilang.
Psikolog Ikhsan punya tiga cara sederhana untuk berdamai dengan luka inner child yang bisa kamu ikuti, di antaranya:
Coba temukan dan salurkan emosi yang selama ini kamu tekan dan pendam. Ketika sudah menemukan dan mengetahui apa yang membuat pengalaman masa kecil kita terluka, akui hal itu.
Salurkan emosi tersebut ke hal yang lebih bermanfaat. Contohnya, ketika kamu marah, coba tulis apa yang mengganggu perasaanmu atau meditasi untuk meredakan emosi negatif.
Selanjutnya, kamu bisa mencoba mengenali kebutuhan-kebutuhan batin apa saja yang belum terpenuhi. Misalnya, mengakui bahwa dulu kamu tidak mendapatkan kasih sayang atau pengabaian orang tua.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kamu bisa berkonsultasi dengan psikolog terlebih dahulu. Nantinya, psikolog akan menganjurkan beberapa terapi atau bahkan tips bagaimana memenuhi kebutuhan yang dulu tidak didapat dari batinmu.
Belajar memerhatikan dirimu dengan melakukan self-care. Sederhana saja, coba ucapkan kata-kata ini ke dirimu, “Tenang, kamu nggak apa-apa, mengalami itu normal, kok.”
Bisa juga dengan mengucapkan, “Kamu berharga, kamu istimewa, diri kamu berharga,” sembari melakukan butterfly hug.
“Tapi mesti ingat, sih, baik diterapi maupun dicoba sendiri, itu prosesnya panjang. Apalagi yang sudah dewasa begini, sudah puluhan tahun kita tekan hal-hal tidak menyenangkan itu. Jadi, butuh proses agar bisa menyembuhkan luka inner child kita,” jelas Ikhsan.
Setiap orang memiliki luka inner child-nya masing-masing. Cara berdamai dengan luka tersebut pun juga berbeda-beda. Kamu bisa menanyakan lebih banyak perihal inner child lewat konsultasi ke psikolog atau gunakan fitur Tanya Dokter untuk chat dengan dokter psikolog di aplikasi KlikDokter.