Kamis, 29 Januari 2026

Ini Penyebab Bayi dan Lelaki Bisa Hamil!


 Ini Penyebab Bayi dan Lelaki Bisa Hamil! Foto ilustrasi bayi hamil. (pixabay.com)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Bayi bisa hamil? Masih ingat kasus bayi laki-laki berusia 5 bulan dengan inisial AA di Sumatra Barat yang mengalami pembengkakan perut karena berisi janin saudara kembarnya? Kondisi tersebut dalam ilmu kedokteran disebut Fetus in Fetu (FIF).

Apa itu Fetus in Fetu? 

Menurut National Library of Medicine, seperti dikutip dari laman Sangbuahhati, Fetus in Fetu disebut juga sebagai kembar parasit. Sebenarnya, janin yang dikandung oleh Bundanya ialah kembar, namun janinnya mengalami kelainan yang menyebabkannya tumbuh di tubuh kembarannya.

Kelainan kembar parasit terjadi dua kali lebih banyak pada pria daripada wanita. Kasus FIF sendiri sangat langka, perbandingannya hanya sekitar 1 dari 500.000 kelahiran.

Fenomena ini biasanya terdeteksi pada area retroperitoneal, yakni rongga di abdomen yang mengelilingi organ perut seperti ginjal, hati, pankreas, dan kandung kemih. Meski begitu, ada beberapa kasus FIF lainnya yang menunjukkan pertumbuhan janin di lokasi lain seperti tengkorak, rongga paru, mulut, sakrum, dan skrotum.

Mengapa bisa terjadi? 

Hingga kini, masih belum ada penelitian yang menunjukkan alasan mengapa fetus in fetu bisa terjadi pada kehamilan. Meski begitu, ada dua hipotesis yang menjadi penyebab FIF atau kembar parasit.

  1. Perkembangan embrio abnormal. Fenomena ini terjadi pada kehamilan kembar monokorionik-diamniotik. Ini adalah jenis kembar identik yang berada di dalam satu plasenta yang sama tetapi kantung ketubannya berbeda. Embrio abnormal atau embriogenesis terjadi dengan kecacatan salah satu bayi yang terletak dalam tubuh kembarannya.
  2. Teratoma yang tumbuh teratur. Teratoma ialah jenis tumor langka yang memiliki jaringan dan organ seperti tubuh pada umumnya. Hal ini yang menyebabkan tumornya terlihat seperti janin. Meski begitu, perbedaan FIF dan teratoma berada pada lokas dan kompleksitas jaringannya. 

Bagaimana Cara Mendeteksi FIF?

Kebanyakan anak yang mengalami Fetus in Fetu tidak merasakan gejala apapun dalam tubuhnya. Biasanya gejala yang muncul ialah sulit makan dan kelainan massa perut hingga usia satu tahun. Kondisi ini pun masih masuk dalam kategori kelainan yang jinak.

Karena pengidap biasanya tidak merasakan gejala apapun, maka prosedur seperti CT Scan dan pemeriksaan radiografi bisa menjadi solusi untuk mendeteksi fenomena ini.

Setelah diketahui dan didiagnosa mengalami Fetus in Fetu, maka pasien harus segera menjalani operasi pengangkatan agar janin atau tumor bisa segera keluar dari tubuh. Pasien juga harus menjalani evaluasi berkala yang mirip dengan pemulihan setelah operasi tumor hingga dokter menyatakan sudah sembuh total.

Kasus FIF di Beberapa Negara

Meski langka, kasus Fetus in Fetu bukanlah hal baru. Sebelumnya, ada beberapa kasus serupa yang bahkan baru terdeteksi ketika si pasien sudah berusia dewasa.

1. Fetus in Fetu di Indonesia

Selain AA, kasus Fetus in Fetu pernah menimpa seorang remaja laki-laki di Jawa Tengah. Penderitanya berusia 17 tahun, mengaku sudah mengalami buncit sejak balita. Ketika dewasa, perut buncitnya membuat dia kesulitan bernapas.

Diagnosa awal, diduga mengalami pembengkakan hati, namun pada pemeriksaan lanjutan diketahui bahwa ia ‘mengandung’ janin berbobot 3 kg di tubuhnya. Tindakan operasi pun segera dilakukan.

2. India

Tak jauh beda dengan di Indonesia, remaja di India juga baru mengetahui keberadaan kembar parasit di tubuhnya pada usia 17 tahun. Selama hidupnya, ia selalu merasa kenyang dan seringkali dilanda sakit perut meski belum makan banyak.

Dari pemeriksaan CT Scan, diketahui bahwa dalam perut remaja tersebut terdapat struktur tulang belakang, tulang rusuk, hingga tulang panjang.

3. China

Bayi 1 tahun di China juga mengalami Fetus in Fetu, namun letak kembar parasitnya bukan di perut, melainkan di otak. Keberadaan kembar parasit ini menyebabkan si bayi mengalami perkembangan motorik yang sangat lambat.

Setelah dilakukan MRI Scan, diketahui bahwa ada janin berukuran 10 cm yang membesar dan menyebabkan penumpukkan cairan di otaknya.

Kondisi janin yang ada di kepalanya itu sudah memiliki tungkai atas, tulang, dan kuku. Janin ini diduga sudah tumbuh selama berbulan-bulan saat berada di rahim.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Kesehatan Terbaru